fbpx
Tim investigasi FBI menggeledah kediaman mantan presiden Donald Trump di Florida dalam operasi mendadak. “Mereka bahkan membobol brankas saya!,” kata Trump protes.
Ethereum, cryptocurrency terbesar kedua berdasarkan nilai pasar, baru saja lulus uji terakhirnya...
Penemuan angka nol adalah kunci signifikan dan fundamental bagi ilmu kalkulus, yang melahirkan...
Neuron otak kita memiliki potensi membuat dan mengirimkan pesan lebih banyak daripada pesan yang...
Dalam visi Khalifah Abbasiyah ke-tujuh, Al-Ma’mun, masyarakat ideal bisa diwujudkan melalui ilmu...
Ketika Soeharto Marah dan Menodongkan Pistol: Ta' Slentik Kowe !

Ketika Soeharto Marah dan Menodongkan Pistol: Ta' Slentik Kowe !


Di markas Kostrad, Herman menuju ke ruang kerja Soeharto. Setelah Herman memberi hormat, Soeharto mempersilahkannya duduk. Tanpa berbicara apa-apa, Soeharto membuka laci mejanya dan mengambil sepucuk pistol revolver yang langsung diarahkan tepat ke muka Herman.

“Ta' slentik kowe !” kata Soeharto dengan geram.

“Ada apa, Pak?” tanya Herman.

“Kamu…., dari jip sampai tank mesti lewat kamu. Saya ini kamu anggap apa?” ujar Soeharto.

Herman yang masih memendam ngeri dalam hati bertanya lagi, “Mengenai apa, Pak?”

“Kamu memberi 10 truk kepada kavaleri yang kamu ambil dari gudang Cakrabirawa!” jawab Soeharto.

Rupanya Soeharto tersinggung dengan inisiatif Herman yang dianggap mendahului Panglima Kostrad. Sehari sebelumnya, Herman mengatur gerakan untuk menumpas Gerakan 30 September. Prakarsa itu dilakukan Herman lantaran Panglima Kodam V Jaya, Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah mengkonsinyasi pasukan garnisun Jakarta. Dengan kedudukannya sebagai Kepala Biro Antar Angkatan dan Kesiapsiagaan Staf Umum AD, Herman memutuskan untuk menyiapkan kekuatan pemukul.

Herman bergerak cepat dengan mengambil alih 10 unit truk yang berada di pool Resimen Cakrabirawa di Cawang. Truk-truk tersebut diserahkan kepada Brigade Kavaleri pimpinan Letnan Kolonel Wing Wiryawan. Selanjutnya Herman bergerak ke Jalan Madiun, mengobrak-abrik markas Badan Pusat Intelijen (BPI) pimpinan Soebandrio dan menangkap orang-orang yang terlibat atau diduga PKI. Karena dinilai terlalu cepat dan melibatkan pasukan skala masif, tindakan Herman ini menimbulkan kesalahpahaman dengan Soeharto.

“Kalau (pistol) itu meledak, mati gue,” kata Herman bertahun-tahun kemudian kepada sejarawan Rushdy Hoesein saat mengenang kemarahan Soeharto tersebut.

Menurut Rushdy, Soeharto memang pantang dilangkahi. “Tapi (Soeharto) tak pernah lupa dengan orang yang pernah berjasa sama dia,” ujarnya kepada Historia.

Herman kemudian mengajukan permintaan maaf. Kejadian itu berakhir dengan saling pengertian satu sama lain. Meski dikenal bengis pada penentangnya, Soeharto masih menenggang kesalahan Herman Sarens.

Pada 1966, Soeharto dilantik menjadi pejabat presiden. Usai pelantikan, Herman diundang ke kediaman Soeharto yang saat itu masih berada di Jalan Agus Salim. Soeharto memanggil Herman ke ruang tamu.

“Man, sini kita foto bersama. Saya sekarang pejabat presiden,” kata Soeharto. Mereka lantas mengabadikan potret bersama.

“Aku kemudian berfoto dengan Pejabat Presiden Jenderal Soeharto dan Ibu Tien,” kenang Herman dalam otobiografinya.

Selaku pejabat presiden dan pengemban amanah Supersemar, Soeharto membutuhkan korps pengamanan pribadi terhadap dirinya. Herman dipercayai sebagai perwira yang memimpin pengawalan Jenderal Soeharto. Soeharto kemudian mengangkatnya sebagai Komandan Komando Satuan Tugas (Kosatgas) Supersemar dengan pangkat kolonel.

Karier militer Herman bahkan kian menanjak sebagai perwira tinggi berpangkat brigadir jenderal. Atas rekomendasi Panglima ABRI, Jenderal Maraden Panggabean, Herman dipromosikan menjadi Komandan Korps Markas Hankam.

Ketika pemerintah merencanakan membangun Markas Hankam ABRI di Cilangkap, Herman menjadi Ketua Tim Perencanaan Sarana Perlengkapan dan Peralatan. Di saat itulah Ibu Tien Soeharto memangAkhir Kisah Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto yang Sunyi Sepigil Herman ke kediamannya di Jalan Cendana.

Ibu Tien berkeinginan membangun Taman Mini Indonesia Indah yang semula direncanakan di kawasan Sunter. Namun karena dianggap kurang luas, Herman mengusulkan mencari tanah di pinggiran Jakarta, yaitu di sekitar Bambu Apus, Jakarta Timur. Herman mengenal wilayah itu dengan baik karena berdekatan dengan Markas Hankam di Cilangkap. Usulan itu diterima. Maka dibentuklah Panitia pembangunan Proyek Taman Mini Indonesia Indah. Herman ditunjuk untuk tugas pembebasan lahan proyek Taman Mini. Di masa ini, Herman ikut mendapat untung dan banyak mendulang aset penting baginya.

“Hermans Sarens Sudiro, seorang petinggi di yayasan Harapan Kita yang diketuai oleh Nyonya Soeharto. Herman juga manajer harian Taman Mini Indonesia Indah,” tulis George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan.

Hubungan dengan Soeharto kembali merenggang setelah kerusuhan Malari pecah. Ada tudingan yang mengatakan Herman bersama Jenderal Sumitro hendak mengadakan coup. Akibatnya, Herman ditendang ke Madagaskar sebagai duta besar. Kendati patronase itu tak putus sepenuhnya, Herman telah berada di luar jalur kekuasaan. Dia pun memilih putar haluan dan mulai dikenal sebagai jenderal pebisnis.

 

 

Martin Sitompul - Historia

Referensi: Cerita Seorang Tentara: Cuplikan Riwayat Kehidupan Herman Sarens Sudiro.
Tags:

Please publish modules in offcanvas position.