fbpx
Arab Saudi meluncurkam program pelatihan khusus mengirim astronaut-astronautnya sendiri – termasuk astronaut perempuan – ke luar angkasa.
Hasil studi baru menunjukkan kota-kota pesisir yang luas di Asia Selatan dan Tenggara tenggelam...
Presiden Xi Jinping ditekan untuk mengundurkan diri oleh Li Keqiang dan anggota Politbiro Partai...
Kawasan di selatan Rusia adalah wilayah konservatif dengan populasi Islam yang penduduknya sangat...
Inilah penguasa terkorup sejagat. Teodoro Obiang (usia 80 tahun) Presiden Equatorial Guinea sudah...
Akulah Kebenaran, Al Hallaj dan Hari-Hari Terakhirnya

Ana Al Haq, Al Hallaj dan Hari-Hari Terakhirnya



Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: "Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh." Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, "Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka."

Tetapi, kata-kata ini justru mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembannya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.

Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah. Para pemimpin oposisi, yang kebanyakan adalah murid al-Hallaj, memandangnya sebagai Imam Mahdi atau juru selamat. Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial.

Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.

Al-Hallaj dipenjara selama hampir sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Baghdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.

Akhirnya, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.

 
 
Siti Rahmah
- Mansur al-Hallaj The perfect Advaitin from Persia.
- Martir pertama dalam tasawuf
- Wikipedia

 
Editor in Chief:
 
Muhammad MG
 
 
Editor: 
 
Abraham Mohammad 
 
Siti Rahmah 
 
Anita Fransiska 
 
Nina Fitri
 
 
Zid World Media 
 
idzamane@outlook.com 
 
idzamane@gmail.com
 
 
Jl Taman Malaka Selatan 2F, Jakarta Timur 
 

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *

Please publish modules in offcanvas position.