fbpx
Arab Saudi meluncurkam program pelatihan khusus mengirim astronaut-astronautnya sendiri – termasuk astronaut perempuan – ke luar angkasa.
Hasil studi baru menunjukkan kota-kota pesisir yang luas di Asia Selatan dan Tenggara tenggelam...
Presiden Xi Jinping ditekan untuk mengundurkan diri oleh Li Keqiang dan anggota Politbiro Partai...
Kawasan di selatan Rusia adalah wilayah konservatif dengan populasi Islam yang penduduknya sangat...
Inilah penguasa terkorup sejagat. Teodoro Obiang (usia 80 tahun) Presiden Equatorial Guinea sudah...
Apa Biang Kekalahan Fatal Napoleon di Pertempuran Waterloo?

Biang Kekalahan Fatal Napoleon Sang Kaisar Pencitraan di Pertempuran Waterloo

 
Sebuah kesalahan dalam peta yang digunakan Napoleon Bonaparte diduga menjadi kunci kekalahannya dalam pertempuran di Waterloo 1815 yang sekaligus mengakhiri karier militer dan politik Napoleon.

Berdasarkan sebuah film dokumenter yang ditayangkan televisi Perancis, Napoleon kebingungan dengan posisi pasukan pimpinan Duke of Wellington karena kesalahan peta hingga skala satu kilometer akibat salah cetak.

Konsekuensinya, Napoleon mengarahkan artilerinya ke arah yang salah sehingga tembakan meriam-meriamnya tak mengenai pasukan gabungan Inggris, Prusia dan Belanda.

"Napoleon mengandalkan sebuah peta salah untuk menyusun strategi dalam pertempuran besar terakhirnya. Fakta ini menjelaskan mengapa Napoleon salah mengambil keputusan dan mengalami disorientasi di medan perang. Ini adalah salah satu faktor yang mengakibatkan kekalahannya," ujar Franck Ferrand, sang pembuat dokumenter.

"Pertanian strategis Mont-Saint-Jean digambarkan berjarak satu kilometer dari lokasi sesungguhnya. Satu kilometer adalah jarak jangkauan meriam sehingga terlihat jelas hasilnya," tambah Ferrand.

Kesalahan peta itu ditemukan seorang ilustrator dan sejarawan asal Belgia, Bernard Coppens, yang menjadi penasihat dalam film dokumenter yang diproduksi Ferrand. Coppens menemukan peta itu, yang masih berlumur darah dan mirip dengan yang digunakan Napoleon, dari museum militer di Brussel.

"Kami membandingkan peta cetakan yang digunakan dalam perang dan peta buatan tangan sumber peta cetakan itu. Kami sadari telah terjadi kesalahan cetak. Tak hanya lokasi pertanian itu yang salah. Namun peta itu menunjukkan sebuah tikungan jalan yang sebenarnya tidak ada," lanjut Ferrand.


Blunder lain

Saat ditanya apakah hasil pertempuran Waterloo akan berbeda jika Napoleon menggunakan peta yang benar dan akurat. Ferrand mengatakan, sebenarnya di Waterloo, Napoleon sudah dalam posisi tak menguntungkan.

"Kami juga menemukan surat dari adik Napoleon, Jerome Bonaparte, yang menggambarkan kakaknya sudah terlihat akan kalah di Waterloo dan sudah tak bisa lagi mengendalikan pasukannya. Dia dibayang-bayangi keberhasilannya di masa lalu," ujar Ferrand.

Napoleon juga terlalu meremehkan kemampuan Duke of Wellington dan gagak memberikan perintah jelas untuk para komandannya seperti Marshall Ney dan Jenderal Grouchy.

Blunder kedua perwira itu juga dituding menjadi salah satu biang kekalahan Napoleon di Waterloo. Meski penulis taktik militer abad ke-19 asal Swiss, Baron Jomini memuji kepercayaan diri Duke of Wellington dan kegigihan infantri Inggris saat menghadapi gempuran pasukan Perancis.

 

Pahlawan bagi sebagian orang dan monster bagi yang lain: Napoléon Bonaparte telah membentuk sejarah Prancis tidak seperti pemimpin lainnya. Berikut ini catatan ringkas Olivia France24.

 
Pada peringatan dua abad kematiannya, kami mengeksplorasi karakter kompleks yang mengeksploitasi seni dan citra untuk membangun "merek pribadinya" dan untuk mengontrol narasi di sekitar pemerintahannya yang penuh kemenangan.

Kami menuju ke tempat kelahirannya di Corsica untuk mencari tahu bagaimana pemuda itu mengembangkan pendekatan strategis dan etos kerja yang tak pernah terpuaskan, dengan masukan dari penulis Philippe Perfettini yang mengungkapkan segi-segi unik dari karakternya. 
 
Bekas rumah keluarga Bonaparte di Ajaccio sekarang menjadi museum paling populer di pulau itu. Sutradaranya, Jean-Marc Olivesi, menunjukkan kepada kita beberapa detail jitu di dalamnya, yang membuktikan tentang kepribadian pemuda itu.

Setelah dinobatkan sebagai kaisar pada tahun 1804, Napoléon menempatkan dirinya di istana Fontainebleau, di luar Paris. 
 
 
Kami mengunjungi kediaman agung ini untuk mencari tahu bagaimana lukisan dan potret membantu memajukan ambisinya, saat ia meminta seniman seperti Jacques-Louis David untuk menampilkan citra ideal penaklukan dan penobatan militernya.

Dua ratus tahun setelah kematiannya, jejak Napoléon di lanskap Paris mencakup monumen berharga seperti Arc de Triomphe, gereja Madeleine, dan Rue de Rivoli. 
 
Namun proyek politiknya pada saat itu jauh lebih kontroversial, termasuk pemulihan perbudakan di koloni Prancis tertentu. 
 
Lihat videonya:
 

Napoléon Bonaparte, emperor of imagery

 

 
France24National Geographic
Tags: , ,
 
Editor in Chief:
 
Muhammad MG
 
 
Editor: 
 
Abraham Mohammad 
 
Siti Rahmah 
 
Anita Fransiska 
 
Nina Fitri
 
 
Zid World Media 
 
idzamane@outlook.com 
 
idzamane@gmail.com
 
 
Jl Taman Malaka Selatan 2F, Jakarta Timur 
 

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *

Please publish modules in offcanvas position.