fbpx
Surya Darmadi alias Apeng mendarat di Bandara Soekarno Hatta (15/08) menggunakan penerbangan China Airlines. Tim Kejaksaan Agung (Kejagung) menjemputnya dan langsung membawanya untuk diperiksa di kantor Kejagung.
Ethereum, cryptocurrency terbesar kedua berdasarkan nilai pasar, baru saja lulus uji terakhirnya...
Di tahun 1945, ketika Republik Indonesia baru dirancang, perdebatan soal Hak Azasi Manusia sudah...
Tanpa upaya diplomasi dan tekanan internasional, Belanda masih akan lama bercokol di Indonesia...
Setelah Raja Solomon (Nabi Sulaiman) wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan...
Melihat Kaum Sunni dan Syiah Hidup Rukun di Rahmaniyah, Baghdad

Melihat Kaum Sunni dan Syiah Hidup Rukun di Rahmaniyah, Baghdad

 
Konflik Sunni dan Syiah yang berkecamuk di Irak sejak beratus tahun memudar di Rahmaniyah, Baghdad, di mana umat kedua aliran merajut pertalian sejuk dan saling bahu-membahu merawat perdamaian.

Jika Azzawi yang rajin menyambangi masjid Hajj Rashid Dargah, melantunkan azan lima kali dalam sehari, Muntadhar hanya bertugas tiga kali sehari, yakni subuh, dhuhur dan maghrib.

Berbeda dengan lantunan sang muazin Sunni, Mullah Muntadhar menambahkan kalimat Hayya ‘alâ khair al-‘amal (mari berlomba menuju sebaik-baiknya amal) di penghujung azan, sesuai tradisi Syiah.

Di sebagian masjid Syiah, muazin juga melafalkan kalimat kesaksian tentang Ali bin Abu Thalib sebagai wali Tuhan di Bumi. Menantu Nabi Muhammad itu adalah figur sentral dalam ajaran Syiah. Dia dimakamkan 200 kilometer di selatan Baghdad, di kota suci Najaf.

Dari Yazid hingga Saddam Hussein

Negeri di antara Eufrat dan Tigris itu sejak awal menyaksikan jatuh bangunnya peradaban kuno, termasuk Babilon dan Sumeria, jauh sebelum Ali bin Abi Thalib memindahkan pusat kekuasaan Islam dari Madinah ke Kufah.

Di sana pula, di tanah Karbala, perpecahan Sunni dan Syiah melahirkan dendam sejarah, ketika Yazid putra Muawiyah, membantai Hussein cucu Rasulullah dan pengikutnya lebih dari 1300 tahun yang lalu.

Jauh sebelum Saddam Hussein dan rejim Sunni Irak berkuasa, negeri berpenduduk mayoritas Syiah itu sudah mencatat kekuasaan kekhalifahan Abbasiyyah yang bermadzhab Ahlussunnah, di mana Islam mencapai salah satu masa keemasan di bawah kekuasaan Harun al-Rashid.

Saddam sendiri dilengserkan paksa oleh pendudukan Amerika Serikat pada 2003 silam. Peristiwa itu mengembalikan pemimpin Syiah ke panggung kekuasaan yang sekaligus mengawali gelombang baru institusionalisasi agama di Irak.

Tradisi damai di Rahmaniyah

Namun sejak 2005, perang sektarian antara kedua aliran melumpuhkan seluruh negeri dan menyisakan kota Baghdad dalam kehancuran. Sebagai buntutnya, warga Sunni dan Syiah berpindah tempat dan berujung hidup terkotak-kotak di antara saudara sealiran.

Tidak demikian halnya dengan kawasan Rahmaniyah, di mana warga Sunni dan Syiah masih hidup bertetangga. Di sana pula kedua muazin, Muntadhar dan Azzawi, mulai belajar melantunkan lafal azan.

Muntadhar belajar di madrasah Syiah tersohor di masjid Al-Kazimiyah dan mulai menjadi muazin pada 2007, sementara Azzawi yang belajar di madrasah lokal mengawali kariernya setahun kemudian.

Keduanya masih berusia remaja ketika Baghdad dilanda gelombang kekerasan sektarian. Meski perang sudah berakhir, benih-benih perpecahan tidak pernah menghilang.

Tapi di sejumlah kawasan seperti Rahmaniyah, kehidupan bersama menjadi tradisi yang dirawat masyarakat. Masjid Hajj Rashid Dargah yang dibangun pada 1957 misalnya merepresentasikan tradisi panjang kebersamaan antara Sunni dan Syiah di utara Baghdad.

”Masjid ini adalah simbol sejarah buat warga lokal dan lambang koeksistensi damai. Adalah tanggungjawab kami untuk merawatnya,“ kata Azzawi.

Berbagi nasib di tengah wabah

Hussein al-Jubury yang menetap di Rahmaniyah sejak 1970an mengungkapkan hal serupa. “Ketika kami masih muda, kami tidak tahu yang mana masjid Sunni atau Syiah. Apa yang penting bagi kami adalah para tetangga,“ kata dia.

Di Baghdad, pertalian kedua aliran bisa berlangsung sejuk, terutama ketika menyangkut masjid-masjid kuno yang rapuh lantaran tidak terawat.

Ketika sebuah masjid kaum Sunni yang dibangun di era Uthmaniyyah membutuhkan renovasi darurat beberapa tahun silam, adalah seorang pengusaha Syiah dari Kadhimiyya yang mengulurkan tangan memberi sumbangan.

Kini di tengah wabah corona, perpecahan Sunni dan Syiah tidak lagi menggema di kehidupan sehari-hari. Karena terlepas dari lafal azan yang masih berbeda, warga kedua aliran kini membiasakan diri mendengar kalimat tambahan yang sama, yakni agar menunaikan salat di rumah demi “mencegah penularan virus.”

Peringatan agar berdiam diri di rumah itu menjadi tugas tambahan para muazin di seluruh penjuru kota Baghdad, tidak peduli Sunni atau Syiah.
 

Tags: ,

Please publish modules in offcanvas position.