fbpx
Tim investigasi FBI menggeledah kediaman mantan presiden Donald Trump di Florida dalam operasi mendadak. “Mereka bahkan membobol brankas saya!,” kata Trump protes.
Ethereum, cryptocurrency terbesar kedua berdasarkan nilai pasar, baru saja lulus uji terakhirnya...
Penemuan angka nol adalah kunci signifikan dan fundamental bagi ilmu kalkulus, yang melahirkan...
Neuron otak kita memiliki potensi membuat dan mengirimkan pesan lebih banyak daripada pesan yang...
Dalam visi Khalifah Abbasiyah ke-tujuh, Al-Ma’mun, masyarakat ideal bisa diwujudkan melalui ilmu...
Belajar dari Wabah Flu Spanyol 1918-1920 yang Menewaskan 50 Juta Orang di Dunia

Belajar dari Wabah Flu Spanyol 1918-1920 yang Menewaskan 50 Juta Orang di Dunia


Para peneliti dan sejarawan meyakini sepertiga penduduk dunia, yang saat itu berjumlah sekitar 1,8 miliar orang, terkena penyakit tersebut.

Dalam riset jurnalis BBC World Service Fernando Duarte, flu Spanyol tercatat menewaskan lebih banyak orang daripada Perang Dunia I.

Kini, ketika dunia tengah bergulat dengan krisis Covid-19, coba kita lihat kembali pandemi flu Spanyol yang membuat dunia lumpuh. Lalu seperti apa kondisi dunia setelah pandemi itu berakhir?

Dulu, dunia yang sangat berbeda

Sudah pasti banyak hal yang berubah dalam 100 tahun.

Kedokteran dan ilmu pengetahuan saat itu lebih banyak memiliki keterbatasan dibandingkan saat ini dalam mengatasi penyakit.

Para dokter mengetahui mikroorganisme sebagai penyebab flu Spanyol dan penyakit dapat ditransmisikan antar manusia, tetapi mereka masih memandang penyebabnya adalah bakteri, bukan virus.

Pengobatan yang tersedia juga terbatas. Antibiotik pertama dunia misalnya, baru ditemukan pada tahun 1928.

Vaksin flu pertama baru beredar untuk umum di tahun 1940-an.

Sistem perawatan kesehatan universal belum ada. Bahkan di negara-negara kaya, sanitasi umum masih merupakan suatu kemewahan.

"Di negara-negara industri, sebagian besar dokter bekerja untuk diri mereka sendiri atau didanai oleh badan amal atau lembaga keagamaan, dan banyak orang tidak memiliki akses sama sekali," kata Laura Spinney, penulis sains dan penulis buku 'Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How it Changed the World'.

Para siswi di Jepang menggunakan masker dalam perjalanan ke sekolah pada tahun 1920

Flu Spanyol menyerang dalam cara yang belum pernah disaksikan sebelumnya terkait dengan wabah flu, misalnya jika dibandingkan dengan pandemi 1889-1890 yang membuat lebih satu juta orang meninggal di dunia.

Korban terparah pada kelompok umur 20 sampai 40 tahun. Pria juga lebih banyak yang menjadi korban.

Wabah flu Spanyol tidak mengubah masyarakat secara besar-besaran, tetapi pandemi ini tetap mengguncang keseimbangan gender di sejumlah negara.

Peneliti Texas A&M University, Christine Blackburn menemukan kekurangan tenaga kerja di AS membuka jalan bagi kaum perempuan.

Pada tahun 1920, Kongres meratifikasi Amendemen ke-19 yang memberikan hak pilih kepada perempuan AS.

Para pekerja juga diuntungkan dengan peningkatan upah karena kelangkaan tenaga kerja.

Kerusakan akibat wabah memicu kemajuan kesehatan masyarakat, terutama terkait dengan perkembangan kedokteran kemasyarakatan.

Tahun 1920, Rusia menjadi negara pertama yang mendirikan sistem kesehatan umum terpadu.

Jennifer Cole, antropolog Royal Holloway University, London, mengatakan perang dan wabah menumbuhkan konsep negara kesejahteraan di berbagai tempat di dunia.

“Konsep negara kesejahteraan berasal dari konteks ini, karena banyaknya jumlah janda, anak yatim piatu dan cacat,” katanya.


Pandemi Flu Spanyol terjadi saat layanan kesehatan modern belum tersedia dan pemahaman mengenai virus belum dikuaasai. Banyak yang sekarang bertanya bagaimana akhir perjalanan dari pandemi COVID-19 saat ini?

Mungkin bisa mengetahuinya dari sejarah pandemi sebelumnya.


Tiga kondisi disebut pandemi

Menurut pakar masalah virus, Dr Kirsty Short dari University Queensland di Brisbane diperlukan tiga kondisi untuk menyebabkan sebuah virus menjadi pandemi.

 

  • Virus itu harus menyebabkan penyakit pada manusia
  • Virus itu mudah menyebar dengan cepat
  • Manusia tidak memiliki kekebalan sebelumnya terhadap virus tersebut


"Sebagai contoh, kita hidup bersama dengan MERS sekarang ini," kata Dr Short merujuk kepada sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS), sejenis virus corona yang masih memiliki hubungan dengan virus penyebab COVID-19.

"[MERS] tidak menyebabkan pandemi, karena virus tersebut tidaklah menyebar dengan cepat dari orang ke orang lainnya."

"Sebagai bandingannya, virus corona musiman, mungkin bisa jadi pandemi, namun menjadi seperti flu biasa yang kemudian diabaikan karena tubuh dengan secara perlahan membentuk kekebalan."

Dengan melihat tiga kondisi untuk menyebabkan pandemi, apa yang dialami kita saat ini dalam menghadapi pandemi COVID-19 tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghentikan penularan virus corona, karena faktor biologi virus tersebut dan keberadaan kita sebagai manusia.

Dengan menerapkan jarak fisik dan penggunaan masker kita bisa mempersulit penyebaran virus.

Namun faktor penting untuk menghentikan penularan virus menjadi pandemi adalah kekebalan tubuh.

"Herd immunity [kekebalan massal] hanya bisa dicapai dengan vaksinasi atau ketika jumlah yang terkena mencapai angka sangat tinggi," jelas Dr Short.

Ketika flu babi mulai merebak bulan April 2009, virus ini berbeda dengan jenis virus flu sebelumnya sehingga menyebar cepat menjadi pandemi.

Sekitar 10 persen penduduk dunia terkena virus tersebut, namun enam bulan kemudian tersedia vaksin untuk memeranginya.

Di tahun berikutnya, flu babi ini menjadi flu musiman, masih beredar namun bukan lagi bersifat pandemik.

"Cukup banyak manusia yang memiliki kekebalan terhadap virus tersebut, entah karena mereka mendapat vaksinasi atau memiliki kekebalan karena sudah pernah terkena virus itu sebelumnya," kata Dr Short.

"Itu berarti kalau seseorang terkena, kita tidak akan menyebarkannya dan keparahannya sudah berkurang.

"Virus itu tidak hilang, saat di tahun 2010 virus itu masih ada, sudah ada kekebalan terhadap virus dari tahun 2009, sehingga tidak menjadi pandemi."


Bagaimana dengan pandemi flu di tahun 1918?
 


Pandemi ini banyak dibandingkan dengan COVID-19 dan bagaimana bisa berakhir tanpa adanya vaksin.

Menurut Dr Short yang membedakannya adalah kekebalan massal.

Tanpa adanya vaksin diperlukan waktu lebih lama untuk pandemi flu tersebut hilang dibandingkan dengan pandemi flu babi di tahun 2009.

"Di tahun 1918, tidak ada vaksin. Virus itu berkembang tanpa kendali dan pandemi itu masih terjadi di beberapa tempat sampai tahun 1921," katanya.

"Yang terjadi adalah munculnya kekebalan massal yang akhirnya membuat virus itu jadi flu biasa."

"Virus itu menjadi flu biasa sampai tahun 1958, yang kemudian digantikan oleh jenis H2N2, pandemi flu Asia."

Namun puluhan juta manusia di seluruh dunia meninggal sebelum terbentuknya kekebalan massal.

Kapan dan bagaimana pandemi COVID-19 ini berakhir?

Menurut Dr Short, dengan vaksin COVID-19 tidaklah dengan serta merta pandemi akan berakhir.

"Tidak akan ada misalnya kita mengatakan di target waktu tertentu, virus ini tidak akan menjadi masalah lagi," kata Dr Short.

"Yang akan terjadi adalah kalau jumlah kasus akan berkurang dan tingkat kematian menurun."

"Jadi kemudian perlahan menghilang, tidak tiba-tiba terjadi."

Dengan adanya vaksin tidaklah berarti virus ini akan menghilang, bahkan setelah masa pandemi dilalui.

"Menghilangkan virus dari dunia ini sangatlah sulit. Kita baru pertama kali berhasil melakukannya terhadap cacar air," kata Dr Short.
 

 

 

BBC News, Zid World

Please publish modules in offcanvas position.