fbpx
Arab Saudi meluncurkam program pelatihan khusus mengirim astronaut-astronautnya sendiri – termasuk astronaut perempuan – ke luar angkasa.
Hasil studi baru menunjukkan kota-kota pesisir yang luas di Asia Selatan dan Tenggara tenggelam...
Presiden Xi Jinping ditekan untuk mengundurkan diri oleh Li Keqiang dan anggota Politbiro Partai...
Kawasan di selatan Rusia adalah wilayah konservatif dengan populasi Islam yang penduduknya sangat...
Inilah penguasa terkorup sejagat. Teodoro Obiang (usia 80 tahun) Presiden Equatorial Guinea sudah...
Gedung-gedung Berarsitektur Brutal yang Indah

Gedung-gedung Berarsitektur Brutal yang Indah



Berikut ini 10 gedung beraliran arsitektur Brutalisme yang terdapat di berbagai negara.

Akademi Seni dan Disain Basel, Swiss, 1961 oleh Baur, Baur, Bräuning, Dürig

Lipatan atap dan dindingnya -seperti origami atau seni melipat kertas- menjadikannya sebuah aula yang anggun. (Kredit foto: Roberto Conte)

Seberapa brutalnya Akademi Seni dan Desain Swiss bisa diperdebatkan. Arsiteknya, Hermann Baur (1984-1980) menyebutnya sebagai "bermanfaat dan puitis". Terdiri dari gugusan empat gedung di sekeliling halaman dengan berpusat pada patung Hans Arp, tidak diragukan lagi yang paling menonjol adalah pusat kebugarannya.

Lipatan atap dan dindingnya -seperti origami atau seni melipat kertas- menjadikannya sebuah aula yang anggun, yang sekarang digunakan sebagai ruang kuliah dan studio mahasiswa. Satu dindingnya merupakan jendela dari lantai sampai ke langit-langit dengan permainan cahaya yang indah.

Menara Rumah, Shibuya-ku, Tokyo, Jepang, 1966

Bangunan ini seperti wujud dari kesederhaan haiku (puisi) Jepang. (Kredit foto: Azuma Architect)

Keras dan unik, rumah berlantai enam dibangun di atas lahan kecil berukuran 20 m2. Dibangun sebagai rumah keluarga oleh arsitek Takamitsu Azuma, gedung ini sudah kalah besar dari gedung-gedung lain yang dibangun belakangan.

Walau lantainya sempit, ada teras di atap dan tempat parkir mobil, juga kesan ruang yang luas dengan ruang-ruang yang banyak sinar karena tangga beton yang terbuka. Azuma menyebut Menara Rumah ini sebagai ruang vertikal yang tak putus-putusnya. Bangunan ini seperti wujud dari kesederhaan haiku (puisi) Jepang.

Kantor dan Ruang Sidang Distrik Orange, Goshen, New York, Amerika Serikat, 1967

Gedung ini sempat rusak tahun 2011 karena Badai Irene. (Kredit foto: Nicolás Saieh)

Tahun 2015, kompleks yang amat berharga ini dirusak oleh aksi vandalisme. Terdiri dari tiga paviliun beton, gedung ini menawarkan imajinasi yang kaya dan ruangan yang mengalir bebas. Dirancang oleh Paul Rudolph, mantan ketua Fakultas Arsitekur, Universitas Yale -dengan alumni antara lain arsitek terkenal, Norman Foster dan Richard Rogers.

Menara Trellick, London, Inggris, 1972 oleh Ernö Goldfinger

Tahun 1998 Menara Trellick ditetapkan sebagai bangunan yang dilindungi. (Kredit foto: Riba Collections)

Menantang dan unik, gedung berlantai 31 ini merupakan perumahan milik pemerintah yang dirancang oleh Ernö Goldfinger, pendatang asal Hungaria, yang nama keluarganya sama dengan tokoh jahat dalam film James Bond. Bangunan ini terdiri dari 217 apartemen yang terpisah dari menara khusus untuk lift dengan penyambung jembatan bagi setiap tiga lantai. Terpuruk dari aspek kehidupan sosialnya hingga akhir 1980-an, Menara Trellick menjadi populer di kalangan para arsitek muda, perancang, dan para penulis yang melihatnya sebagai kemegahan dan bukan bangunan beton yang menakutkan. Tahun 1998, bersamaan dengan Brutalisme yang kembali menjadi mode, Menara Trellick ditetapkan sebagai bangunan yang dilindungi.

Centro de Exposições, Salvador, Bahía, Brasil, 1974

Gedung bergaya Brutalisme bukan hal yang biasa dalam iklim tropis. (Kredit foto: Courtesy Fran Parente)

Ruang pameran yang mengesankan ini, menggantung lima meter di atas tanah, dengan permukaan beton yang disokong oleh baja yang dipegang oleh dua tiang untuk tempat lift dan tangga.

Rancangan bergaya Brutalisme bukan hal yang biasa dalam iklim tropis, namun beton yang menggantung melindungi para pengunjung dari terik dan silau matahari. Perancangnya adalah arsitek Brasil, João Filgueiras Lima.

Kementerian Pembangunan Jalan Raya, Tbilisi, Georgia, 1975

Gedung ini dibangun sedemikian rupa untuk menghemat lahan.

Lebih bergaya Konstruktivisme dibanding Brutalisme, motor gedung ini adalah George Chakhava, sebagai wakil menteri pembangunan jalan raya -yang menjadi pemesan dan sekaligus pula arsiteknya.

Dipengaruhi oleh arsitektur Revolusioner Rusia era 1920-an, Chakhava mengatakan strukturnya yang saling berkaitan bersumber dari alam.

Tujuannya adalah menggunakan lahan sekecil mungkin dengan beberapa lantai yang keluar seperti cabang-cabang di akar pohon.

Apapun penjelasannya, rancangan ini jelas menakjubkan.

Setelah direstorasi, mulai tahun 2007 gedung ini menjadi kantor pusat Bank Georgia.

Gedung Jenaro Valverde Marín, CCSS, San José, Kosta Rika, 1976 oleh Alberto Linner Díaz

Penggunaan blok-blok beton membuat para arsiteknya bisa membangun modernitas dengan biaya rendah. (Kredit foto: Magda Biernat/OT TO)

Terletak di antara Samudera Pasifik dan Karibia, Kosta Rika tampaknya merupakan negara yang paling kecil kemungkinan memilki arsitektur Brutalisme.

Penggunaan blok-blok beton membuat para arsiteknya bisa membangun modernitas dengan biaya rendah namun berskala besar.

Dari tahun 1940-an, Oscar Niemeyer sudah mulai merintisnya di Brasil.


Walau rancangannya sederhana, gedung administrasi sosial yang dirancang oleh Alberto Linner Diaz –arsitek kelahiran Nikaragua- tampak tegas dengan karakter yang berpengaruh dikelilingi warna-warni tanaman dan pohon nyiur yang melambai.

Rumah Hemeroscopium, Madrid, Spanyol, 2008 oleh Ensamble Studio

Pemasangan blok-blok beton menjadikannya sebagai bangunan yang pengerjaannya hanya butuh tujuh hari. (Kredit: Roland Halbe)

Bangunan yang istimewa ini memberi ilusi bahwa beton besar yang berat hanya disokong oleh dinding kaca. Rumah Antón García-Abril dan Débora Mesa –pimpinan perusahaan arsitektur Ensamble Studio- ini membutuhkan persiapan teknis selama satu tahun namun pemasangan blok-blok betonnya untuk menjadikannya sebagai bangunan hanya butuh tujuh hari.

Salah satu balok beton yang menjorok adalah kolam renang. Namun, seperti kata Mesa, “Arsitekturnya ke luar dari yang biasa.”

Balai Kota Boston, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, 1968

Koran Boston Globe menyebut kejahatan terbesarnya bukan karena buruk, tapi antiperkotaan.' (Kredit foto: Ezra Stoller / Esto)

Berusia hampir 50 tahun, gedung pemerintah ini tetap saja kontroversial. Tahun 2013, Koran Boston Globe menulis, “Kejahatan terbesarnya adalah bukan karena buruk, tapi menjadi antiperkotaan.” Sedang menurut Gerhard Kallmann –salah seorang perancangnya-, “Harus mengagumkan, bukan hanya sekedar menyenangkan dan apik.” Kallmann dan mitranya, Michael McKinnell, memikirkan sebuah monumen kuno yang diintip dari kaca mata arsitek terkenal Le Corbusier dengan puluhan ribu keping beton.

Kedutaan Besar Russia, Havana, Kuba 1985 oleh Aleksandr Rochegov

Uni Soviet bubar tak lama setelah kompleks bangunan beton ini selesai. (Kredit foto: Courtesy Phaidon Press)

Pernah menjadi lambang dari dominasi Uni Soviet, Kedutaan Besar ‘yang sombong' ini menjulang di antara pohon-pohon di jalan utama Havana, Fifth Avenue, seperti sebuah vas bunga dari beton yang terjun ke tanah Kuba.

Uni Soviet bubar tak lama setelah kompleks bangunan beton ini selesai.

Arsiteknya, Aleksandr Rochegov, juga terkenal dengan rancangan Hotel Leningradskaya di Moskow. Kedutaan Besar Rusia di Havana ini mengintai dari balik dinding dengan kawat berduri.

 

 

BBC dari Buku berjudul This Brutal World oleh Peter Chadwick diterbitkan Phaidon.

Tags: ,
 
Editor in Chief:
 
Muhammad MG
 
 
Editor: 
 
Abraham Mohammad 
 
Siti Rahmah 
 
Anita Fransiska 
 
Nina Fitri
 
 
Zid World Media 
 
idzamane@outlook.com 
 
idzamane@gmail.com
 
 
Jl Taman Malaka Selatan 2F, Jakarta Timur 
 

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *

Please publish modules in offcanvas position.