fbpx
Surya Darmadi alias Apeng mendarat di Bandara Soekarno Hatta (15/08) menggunakan penerbangan China Airlines. Tim Kejaksaan Agung (Kejagung) menjemputnya dan langsung membawanya untuk diperiksa di kantor Kejagung.
Ethereum, cryptocurrency terbesar kedua berdasarkan nilai pasar, baru saja lulus uji terakhirnya...
Di tahun 1945, ketika Republik Indonesia baru dirancang, perdebatan soal Hak Azasi Manusia sudah...
Tanpa upaya diplomasi dan tekanan internasional, Belanda masih akan lama bercokol di Indonesia...
Setelah Raja Solomon (Nabi Sulaiman) wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan...
Saya Merasa Nista Nelangsa Sedih Sekali, Kata Soeharto Tentang Masa Kecilnya

Saya Merasa Nista Nelangsa Sedih Sekali, Kata Soeharto Tentang Masa Kecilnya


“Saya ingat terus kepada seseorang yang jelek rupanya, merongos dan mengece, mencemooh saya.... ia mengajak teman-teman lain agar mengece (mengejek, red.) saya dengan sebutan den bagus tahi mabul (tahi kering, red.)...mengapa saya anak orang melarat dipanggil-panggil Den,” kenang Soeharto dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya.

Kegembiraan masa kecil Soeharto, sebagaimana dituturkannya sendiri, terjadi ketika ayahnya datang menjenguk Soeharto dan menghadiahinya seekor kambing. “Bukan main senangnya,” kata dia.

Ayah Soeharto, Kertosudiro, bekerja sebagai ulu-ulu (petugas pengatur pengairan). Kertosudiro yang duda menikah dengan Sukirah, ibu kandung Soeharto. Namun tak lama setelah Soeharto lahir, pasangan tersebut bercerai. Soeharto diasuh oleh kakek dan neneknya. Pada usia empat tahun, Soeharto kecil kembali diasuh oleh ibunya, yang telah menikah lagi.

Sebagai anak dari keluarga yang bercerai, Soeharto hidup berpindah-pindah dari satu keluarga asuh, ke keluarga asuh lainnya. Setelah masa kecilnya diasuh oleh kakek-neneknya, kemudian kembali ke ibunya, Soeharto diambil oleh Kertosudiro dan dititipkan kepada adik perempuannya. Di rumah bibinya di Wuryantoro itu, Soeharto tinggal selama setahun dan kemudian kembali diasuh oleh ibu kandungnya di Kemusuk. Setelah setahun tinggal bersama ibunya, dia kembali ke Wuryantoro, di bawah asuhan keluarga bibinya.

Soeharto kerap memosisikan dirinya sebagai anak yang tersisihkan. Salah satu kisah yang dituturkan dalam otobiografinya adalah saat dia urung diberi baju buatan mbah buyutnya karena baju itu malah diberikan pada sepupunya. “Mas Darsono sebetulnya anak orang kaya, anak kakak ibu saya. Tetapi kok yang diberi surjan itu malah cucu mbah yang sudah mempunyai baju. Saya merasa nista. Saya nelangsa, sedih sekali,” kata Soeharto.
 
Soeharto bersama Panglima Soedirman

Soeharto selalu mengenang masa kecilnya dengan sesuatu hal yang berhubungan dengan kepemilikan. Kegetiran masa kecil itu, barangkali, yang membuat Soeharto ingin anak-cucu keturunannya berkecukupan harta.
 
 
 
 
Bonnie Triyana - Historia
Editor: Abraham Mohammad

Tags: ,

Please publish modules in offcanvas position.