Resesi Ekonomi Sudah Membayangi Indonesia

Resesi Ekonomi Sudah Membayangi Indonesia

Singapura sudah berada di pinggir jurang resesi. Singapore Economic Development Board melaporkan produksi industri Negeri Singa pada Agustus terkontraksi alias turun 8% year-on-year (YoY).


Melansir data Refinitiv, perekonomian Negeri Singa terkontraksi sebesar 3,3% pada kuartal II-2019 (QoQ annualized). Jika perekonomian di kuartal III-2019 masih terkontraksi, Singapura akan resmi terpuruk mengalami resesi.

"Dengan hubungan yang begitu erat dengan China dan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap ekspor, Singapura akan mengalami perlambatan ekonomi paling parah di kawasan ini. Kemungkinan, ekonomi Singapura akan jatuh ke resesi pada 2020 jika kondisi tidak berubah," ungkap Mark Billington, Direktur Regional ASEAN di Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW), seperti diberitakan Today Online.

Tak hanya Singapura, Hong Kong juga berada di pinggir jurang resesi. Pada kuartal II-2019, perekonomian Hong Kong terkontraksi sebesar 0,4% QoQ, sangat kontras dengan kuartal I-2019 kala perekonomian Hong Kong mampu tumbuh sebesar 1,3%. Jika perekonomian di kuartal III-2019 masih terkontraksi, Hong Kong akan resmi jatuh ke jurang resesi.

Eropa Juga Di Ambang Resesi

Mario Draghi, pemimpin Bank Sentral Eropa (ECB), dalam pernyataannya menyebut zona Eropa menghadapi "kemelorotan ekonomi" bahkan jauh dari yang sebelumnya diperkirakan.

Geopolitik yang tidak stabil, seperti isu tidak jelasnya perjanjian perdagangan mendekati keluarnya Inggris dari Eropa (Brexit), juga menjadi penyebab.

Brexit pasalnya membuat Inggris kehilangan hak istimewa perdagangan dengan negara Eropa. Inggris harus mengikuti aturan WTO dalam perdagangan.

Karenanya kesepakatan baru harus dibuat. Mengingat 10 besar ekspor negara itu, selain AS dan China, didominasi negara-negara Eropa.

Namun sayangnya, kecenderungan saat ini adalah Inggris akan keluar tanpa kesepakatan (no deal Brexit). Ekonom memprediksi Inggris bisa resesi karena tersendatnya rantai ekonomi.

"Keseimbangan risiko terhadap prospek pertumbuhan tetap miring ke bawah," ujar Draghi di depan parlemen Eropa sebagaimana ditulis The Financial Times.

Hal senada juga dikatakan pemimpin Bank Belanda ING Hans Wijers. "Kami sudah dekat, dekat dengan resesi," kata Wijers sebagaimana dikutip dari CNBC International.

Bagaimana Indonesia?

Dari data statistik utang luar negeri Indonesia (SULNI) per kuartal I 2019, negara yang paling banyak memberikan utang ke Indonesia adalah pertama Singapura yakni sebesar US$ 64 miliar, kemudian diikuti oleh Jepang US$ 29,01 miliar, lalu Amerika Serikat (AS) US$ 21,3 miliar.

Berikutnya adalah China US$ 17,9 miliar, lalu Hong Kong US$ 15 miliar dan negara Asia lainnya US$ 10,4 miliar. 
Selanjutnya adalah Belanda dengan nilai ULN US$ 8,3 miliar.


Selain negara, ada juga gabungan sindikasi negara-negara yang memberikan pinjaman kepada Indonesia yakni mencapai US$ 6,6 miliar.
 
Lembaga pemeringkat utang internasional, Moody's Investor Service sudah menyatakan potensi peningkatan risiko gagal bayar utang BUMN dan swasta korporasi Indonesia.
 
Resesi adalah wabah ekonomi yang dengan cepat bisa menular karena saling keterkaitan antar-negara. Indonesia dengan fundamental ekonomi yang rapuh dan pertumbuhan ekonomi yang kian melambat, ditambah krisis sosial-politik yang merebak di seantero tanah air, tentunya teramat sangat mencemaskan.

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *