fbpx
Film The Social Dilemma yang Mengungkap Sisi Getir Media Sosial

Film The Social Dilemma yang Mengungkap Sisi Getir Media Sosial

Sutradara Jeff Orlowski mengatakan film ini dibuat untuk menjelaskan bagaimana ponsel, algoritma, ruang-ruang yang terpolarisasi dan hasrat mengejar ambisi dan keuntungan membuat para pengguna terpapar cara-cara yang dapat menimbulkan ancaman pada demokrasi.



“Kapitalisme industri mengubah sumber daya mentah untuk didayagunakan dan meraih profit. Dalam model bisnis ini, manusia diubah menjadi sumber daya mentah yang dapat didayagunakan dan diubah menjadi profit. Itu sebabnya mereka mengumpulkan data tentang kita karena data memberi model yang lebih baik,” ujarnya dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press.

Diskursus tentang media sosial modern sebagai kekuatan jahat yang telah menghipnotis warga untuk menggulirkan informasi-informasi yang mengganggu tanpa memikirkan dampaknya, informasi yang memupuk perpecahan, dan mengangkat kelompok dan ideologi yang sebelumnya terpinggirkan dengan cara-cara yang merusak kohesi sosial, sebenarnya bukan hal baru. Selama beberapa tahun terakhir ini, diskursus ini menjadi topik utama di Silicon Valley. Tentunya di tingkat individu, bukan perusahaan. Hal ini menjadi artikel-artikel berita, studi akademis, dan buku.

“The Social Dilemma” merupakan hasil akhir proyek selama tiga tahun yang memotret masalah yang sangat rumit itu supaya mudah dipahami oleh warga yang tidak terlalu memahami teknologi, dan mungkin memotivasi mereka untuk mengambil tindakan guna mencegah konsekuensi yang lebih buruk.

Tristan Harris, mantan eksekutif Google yang menjadi pemeran utama film ini, mengatakan ia berharap “The Social Dilemma” dapat menyadarkan masyarakat sebagaimana buku “Unsafe At Any Speed” karya Ralph Nader, yang mendorong kesadaran hukum tentang sabuk pengaman, atau film dokumenter Al Gore tahun 2006 “An Inconvenient Truth” yang mempertajam fokus pada perubahan iklim akibat gas rumah kaca yang dihasilkan manusia.

Harris, yang kini menjadi presiden Center for Humane Technology, membagi rasa kecewa yang dirasakannya ketika ia masih bekerja di Google, dan juga hal-hal lain yang menarik perhatian sutradara Orlowski. Keduanya pernah bertemu ketika sama-sama kuliah di Universitas Stanford, yang memuluskan jalan untuk bersatu kembali dalam film yang mereka sama-sama nilai penting.