fbpx
Kenapa Partai Komunis China Menggembosi Alibaba, Tencent, Didi Chuxing?

Kenapa Partai Komunis China Menggembosi Alibaba, Tencent, Didi Chuxing?

Raksasa teknologi China: Alibaba, Tencent, Didi Chuxing – mendapat 'gebukan keras' dari Partai Komunis China. Kenapa begitu?



Pemerintah Cina belakangan giat mengekang perusahaan-perusahaan teknologi terbesar negaranya sendiri. Korban teranyar adalah perusahaan layanan jasa transportasi, Didi Chuxing, yang baru-baru ini berhasil mencatatkan diri di bursa saham New York.

Lembaga Pengawas Siber Cina (CAC) menuduh Didi melanggar UU Keamanan Nasional. Akibatnya harga saham perusahaan anjlok.

Hal serupa melanda Colin Huang yang oleh Forbes ditaksir memiliki kekayaan USD 42 miliar dan termasuk manusia paling kaya di Bumi. Belum lama ini, dia secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari Pingduoduo, sebuah platform bisnis pertanian yang membesarkan sang miliarder.

Perusahaan lain, Yunmanman dan Huochebang di sektor transportasi, serta Biss Zhipin yang menawarkan layanan tenaga kerja, termasuk dalam bidikan CAC. Semua platform internet di Cina diwajibkan mencabut aplikasi milik semua perusahaan tersebut.

Adapun pendiri situs Alibaba, Jack Ma, telah lebih dulu berurusan dengan Presiden Xi Jinping dan akhirnya haus tiarap. Alibaba didenda US$2,8 miliar atau sekitar Rp43 triliun oleh regulator China pada April lalu dengan tuduhan telah menyalahgunakan posisi pasarnya selama bertahun-tahun. 


Kekuasaan atas data

Selain soal perlindungan data, perilaku Partai Komunis Cina (PKC) mengebiri perusahaan teknologi didorong oleh insting kekuasaan.

"Dalam seratus tahun, PKC mengumpulkan 90 juta anggota. Sebuah ekosistem internet seperti yang dibangun perusahaan layanan pesan pendek, Tencent, punya 1,2 miliar pengguna aktif hanya dalam sepuluh tahun,” kata Mayer.

Dengan jumlah itu, menurutnya, "Tencent menguasai data yang lebih besar ketimbang PKC.”

Hal ini tidak mengejutkan, kata Kirsten Tatlow, peneliti di Masyarakat Jerman untuk Kebijakan Luar Negeri (DGAP). "Cina melihat perekonomian dari kacamata keamanan.” Dia meyakini langkah Beijing berkaitan dengan kebijakan perusahaan teknologi yang mencatatkan diri di bursa-bursa AS.

"Isyarat dari partai ini multi-tafsir,” lanjut Mayer. Dia meyakini PKC ingin memaksa perusahaan tunduk pada target-target partai. "Tapi juga untuk membatasi orangnya sendiri, para pengusaha super kaya yang sering menikmati kultus individu di Cina.”

Namun begitu, kebijakan pemerintah Cina bukan tanpa konsekuensi bisnis. Baru-baru ini, perusahaan investasi Blackrock menyatakan mundur dari saham perusahaan teknologi Cina.

"Kami ingin menjauh dulu dari platform-platform terbesar dan dominan di Cina,” kata Direktur Blackrock, Lucy Liu.

Pun perusahaan-perusahaan AS ikut terdampak. Investigasi terhadap Didi misalnya turut merugikan Apple yang menanam saham di perusahaan itu.

"Saat ini investor mengambil risiko jika menanam saham di perusahaan data di Cina,” tulis Kirsten Tatlow. "Pemerintah komunis akan melakukan segala hal untuk mempertahankan kekuasaan atas data-data itu.”
Tags: , ,