fbpx
Akankah China Menjadi Pemenang Sesungguhnya di Afghanistan?

Akankah China Menjadi Pemenang Sesungguhnya di Afghanistan?

Litium adalah mineral yang sangat penting untuk ragam perangkat elektronik dan mobil listrik. Deposit litium Afghanistan yang melimpah membuat negara itu dijuluki 'Saudi Arabia of lithium'.



Selain itu, ada deposit tembaga terbesar kedua di dunia -- hingga ladang minyak utara Faryab.

"Taliban mengharapkan partisipasi China dalam rekonstruksi dan pembangunan Afghanistan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying kepada wartawan (17/8). "Kami menyambut ini," katanya.

Perusahaan-perusahaan China kini telah mulai menyiapkan dana besar demi mendapatkan hak untuk menambang.

China telah mendorong potensi skema ekonomi utama Afghanistan di bawah rezim Taliban. Tapi Beijing memiliki beberapa tuntutan wajib, kata Hua Po, seorang analis politik independen di Beijing.

"Yang pertama adalah jaminan Taliban untuk melindungi investasi China dan memastikan keamanan tenaga kerja warga negara China," katanya.

"Kedua, perlu jaminan Taliban untuk memutus hubungan dengan muslim Uighur Xinjiang." Hal itu dianggap penting karena Afghanistan berbatasan dengan provinsi Xinjiang, rumah bagi mayoritas Muslim Uighur yang menjadi masalah buat China dan mendapat sorotan internasional.



Partai Komunis China sangat berkepentingan mencegah kebangkitan Gerakan Islam Turkestan Timur (the East Turkestan Islamic Movemen) militan Uighur yang memperjuangkan kemerdekaan Xinjiang. 

Dikutip dari South China Morning Post, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan kepada pemimpin senior Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, bahwa China mendukung Taliban tetapi menuntut agar mereka memutuskan hubungan dengan Gerakan Islam Turkestan Timur.

Taliban berjanji bahwa mereka tidak akan mengizinkan “setiap kegiatan kelompok militan seperti Gerakan Islam Turkestan Timur yang merugikan China beroperasi dari Afghanistan.”

China menggunakan komitmen bantuan ekonomi dan investasi untuk 'mengikat' Taliban, serta menjadi sponsor pengakuan internasional untuk pemerintahan Taliban.

 

Taliban tampaknya telah memahami dan siap bahwa jika mereka menginginkan hubungan baik dengan China, mereka harus meninggalkan Muslim China -- membiarkannya memikul penderitaannya sendiri.

Rangkulan China kepada Taliban yang beriming proyek penghasil dana berlimpah. menunjukkan upaya cerdik China mengambil keuntungan maksimal dari keruntuhan dramatis AS di Afghanistan.

Namun Afghanistan selama berabad-abad telah menjadi kuali panas kekuatan besar di Asia Tengah -- banyak yang akhirnya kandas.

Kini Taliban mencoba untuk mengubah citra menjadi lebih moderat, namun mereka tetap dinilai sebagai entitas tak terduga yang bisa mendadak bergejolak.

"China tahu semua ini, dan mereka tahu bahwa ini adalah pemerintah yang tidak akan mereka percayai sepenuhnya," kata Raffaello Pantucci, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura yang mengkhususkan diri studi Afghanistan.

Dan itu membuat dorongan investasi yang tergesa-gesa tidak mungkin terjadi, katanya. 

 
Tetapi China pun terkenal lihai dengan siasat perangkap investasi dan jebakan utang.
 
Sebagai penonton, kita lihat kelanjutannya.
 

AFP, France24

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *