fbpx
Kucuran Utang Terselubung dari China Melalui Jalur Oligarki

Kucuran Utang Terselubung dari China Melalui Jalur Oligarki

China dan jaringan perusahaannya telah memberi utang $1,5 triliun kepada lebih 150 negara – menjadikan China sebagai kreditur terbesar dunia, menyalip IMF dan Bank Dunia. China juga banyak membuat pinjaman terselubung yang tidak dilaporkan.

 

Modal Korosif, yaitu sumber pembiayaan eksternal yang tidak memiliki transparansi dan akuntabilitas. "Ini mengeksploitasi kelemahan pemerintahan korup dan mempengaruhi pembuatan kebijakan manipulatif,” kata Matej Simalcik, direktur lembaga think tank Central European Institute of Asian Studies (CEIAS) yang berbasis di Bratislava, Slowakia, kepada Deutsche Welle.


Matej Simalcik mengatakan Beijing telah berhasil mengembangkan hubungan yang signifikan melalui jalur oligarki yang memiliki kepentingan keuangan dari China.

"Ikatan ini kemudian diinstrumentalisasi untuk mendorong kebijakan yang menguntungkan kepentingan China," tutur Matej Simalcik. "Dengan fokus pada kelas oligarki, sebenarnya Cina telah mampu membangun pengaruh terhadap negara yang dijerat secara serentak,” tambahnya.

Cara-cara ini digunakan China di banyak negara, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lainnya.


Al Jazeera mengutip Profesor Christoph Trebesch dari Kiel Institute, menyebut bagaimana praktik pinjaman 'beracun' dari China mempersulit untuk menganalisa keuangan negara secara akurat. Ini berbahaya.

Lembaga riset asal Amerika Serikat (AS), Aiddata, mengungkap aliran dana utang terselubung Indonesia dari China. Di samping Indonesia juga memiliki catatan utang resmi dari China, yang terdata dalam statistik utang luar negeri di Bank Indonesia (BI).


Laporan Aiddata soal utang terselubung yang diberikan China, berjudul 'Banking on the Belt and Road: Insights from a new global dataset of 13,427 Chinese Development Projects' itu, me-review penyaluran pembiayaan China melalui sejumlah proyek ke berbagai negara pada rentang 2000-2017..

Dalam laporan setebal 166 halaman tersebut, lembaga riset Aiddata menempatkan Indonesia dalam daftar 25 negara penerima utang terselubung terbesar dari China. 

Dana yang diterima Indonesia dari China melalui skema ODA (Official Development Assistance), mencapai USD 4,42 miliar. Sedangkan yang diterima melalui skema OOF (Other Official Flows) lebih besar lagi, yakni USD 29,96 miliar.

Sehingga jika ditotalkan, utang terselubung yang disalurkan China ke Indonesia pada periode 2000-2017 mencapai USD 34,38 miliar atau dengan kurs saat ini setara Rp 488,9 triliun. Jumlah ini hampir 18 persen dari total belanja APBN 2021 yang mencapai Rp 2.750 triliun.

Angka yang dirilis Aiddata itu, jauh melampaui yang dirilis resmi Bank Indonesia (BI) dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI). Mengutip data terbaru BI yang dirilis September 2021, utang luar negeri Indonesia per akhir Juli 2021 sebesar USD 415,7 miliar atau sekitar Rp 5.944 triliun. Utang tersebut tumbuh 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year (yoy).

Dari jumlah tersebut, China merupakan pemberi pinjaman (kreditur) terbesar ke-4 setelah Singapura, Amerika Serikat (AS), dan Jepang. Utang Indonesia dari China yang tercatat di BI, sebesar USD 21,12 miliar atau setara Rp 300,3 triliun.

Dalam laporan ini, Bank Indonesia mendefinisikan utang luar negeri sebagai utang penduduk (resident) yang berdomisili di suatu wilayah teritori ekonomi, kepada bukan penduduk (nonresident). Konsep terminologi utang luar negeri mengacu pada IMF's External Debt Statistics: Guide for Compilers and Users (2003), serta beberapa ketentuan Pemerintah Indonesia dan Peraturan Bank Indonesia.

Sementara dalam laporan soal utang terselubung China, Aiddata menggunakan terminologi ODA dan OOF. ODA atau Official Development Assistance merupakan penyaluran pembiayaan ke negara-negara berkembang dari lembaga resmi atau negara, dengan tujuan meningkatkan pembangunan ekonomi negara berkembang tersebut. Utang dalam skema ODA, bersifat lunak (concessional) dan memiliki komponen grant minimal 35 persen.

Sedangkan OOF atau Other Official Flows, yaitu segala bentuk penyaluran dana dari pemberi pinjaman ke negara-negara berkembang, di luar kategori ODA.
 
Kemungkinan aliran utang terselubung dari China ke Indonesia sekarang angkanya sudah jauh lebih besar dari laporan Aiddata (rentang 2000-2017) itu.
 
 
 
dw/kum/zid
Tags: ,