fbpx
Bagaimana Siasat Xi Jinping Bersekutu dengan Rusia Tapi Juga China Mitra Dagang Terbesar Ukraina

Siasat Xi Jinping Bersekutu dengan Rusia Tapi Juga China Mitra Dagang Terbesar Ukraina

Dampak perang di Ukraina sudah terasa di China. Karena itu, China sangat berkepentingan agar konflik itu bisa secepatnya diakhiri. Pemimpin China Xi Jinping ingin dipilih sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis China untuk seumur hidup bulan November nanti, pada Kongres Partai Komunis China yang ke-20. 

 
China adalah salah satu pengimpor besar gandum dari Ukraina dan juga dari Rusia. Sejak serangan Rusia, harga gandum melejit tinggi. Untuk menenangkan rakyat, Xi Jinping cepat-cepat membuat pernyataan: Dia berjanji bahwa China akan melepaskan diri dari ketergantungan impor dari luar negeri.

Trauma "Revolusi Kelaparan"

China pernah dilanda bencana kelaparan besar 1959 sampai 1961, Ketika program ideologis Maozedong menyebabkan kekacauan ekonomi dan pertanian. Diperkirakan sampai 76 juta penduduknya ketika itu meninggal karena kelaparan.

Hal inilah yang menjadi kekhawatiran Xi Jinping, karena rakyat yang kelaparan bisa memberontak dan membuyarkan rencananya untuk berkuasa seumur hidup. Majalah berita terbesar Jerman "Der Spiegel" baru-baru ini memberitakan, China mendesak PBB untuk tidak mempublikasikan sebuah laporan yang memprediksi ancaman bahaya kelaparan, jika perang di Ukraina terus berlanjut.

Padahal awal Februari Xi Jinping baru saja mendemonstrasikan kedekatannya dengan Vladimir Putin. China juga menyebut Rusia sebagai "mitra strategis terpenting”. Berbagai Kerjasama sudah direncanakan secara luas, mulai dari proyek luar angkasa sampai kerja sama dalam pengawasan internet. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan menjelang upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin. China menyatakan bersekutu dengan Rusia untuk melawan AS dan NATO, dan Rusia menyatakan mendukung klaim China atas Taiwan dan menentang kemerdekaan Taiwan.

 
Di sisi lain, Ukraina telah mengalami pertumbuhan pesat investasi dari China dalam beberapa tahun terakhir.

China memiliki kepentingan strategis di Ukraina karena lokasinya, kesepakatan perdagangan bebas antara Ukraina dan Uni Eropa, dan pasokan sumber daya mineral dan pertanian.

Hubungan perdagangan antara China dan Ukraina telah berkembang secara signifikan sejak tahun 2013 oleh Presiden Ukraina saat itu Viktor Yanukovych.

Ukraina adalah pusat penting dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan, proyek infrastruktur dan kebijakan luar negeri Presiden China Xi Jinping, yang bergabung dengan Kyiv pada tahun 2017. Pada tahun 2020, kedua belah pihak menandatangani perjanjian untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang termasuk pembiayaan dan pembangunan infrastruktur proyek.

Perusahaan besar China yang beroperasi di Ukraina termasuk konglomerat makanan negara COFCO Corp (CNCOF.UL), pembangun yang dikelola negara China Pacific Construction Group dan China Harbour Engineering Co (CHEC), dan raksasa peralatan telekomunikasi Huawei Technologies (HWT.UL).

Investasi langsung oleh perusahaan China di Ukraina mencapai $150 juta pada akhir 2019, menurut data China. Dalam tiga kuartal pertama tahun 2020, perusahaan-perusahaan China menginvestasikan $75,7 juta untuk proyek-proyek di Ukraina, menurut kedutaan besar Ukraina di China.

COFCO pada tahun 2016 meluncurkan terminal biji-bijian di pelabuhan laut Nikolaev senilai $75 juta di Ukraina selatan. Pada 2019, CHEC menyelesaikan proyek pengerukan di pelabuhan Chornomorsk.

China Pacific Construction Group pada 2017 menandatangani kesepakatan untuk membangun jalur metro di ibu kota Kyiv dan Huawei, yang telah membantu Ukraina mengembangkan jaringan selulernya, pada 2019 memenangkan tawaran untuk memasang jaringan 4G di kereta bawah tanah Kyiv.

Huawei dipilih pada tahun 2020 untuk membantu memastikan dan meningkatkan pertahanan siber dan keamanan siber di Ukraina.

Pada tahun 2021, China Longyuan Power Group Corporation (0916.HK), produsen tenaga angin terbesar di negara itu, membangun dan mengoperasikan ladang angin besar di Ukraina.
 

China akan lebih diuntungkan jika Rusia mengambil alih Ukraina dan membentuk pemerintahan boneka pro-Moskow, kata Yun Sun, direktur program China di Stimson Center di Washington kepada VOA.

 

Jika Rusia kalah? Tidak masalah buat China, apa yang sudah dirintis tetap berlanjut.

 
 
Tags: