fbpx
Bersiap Hadapi Dampak Kenaikan Suku Bunga AS

Rupiah Makin Terpuruk dan Ancaman Krisis Ekonomi Indonesia

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kian tertekan pada perdagangan Rabu, 28 September 2022. Di pasar spot pukul 10.30 WIB, berdasarkan data Bloomberg, rupiah telah bertengger di posisi Rp 15.234 per dolar AS.



"Rupiah saat ini di Rp 15.236, ada kemungkinan rupiah dalam bulan ini tembus Rp 15.400," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu, 28 September 2022.

 

Bertahap masalah ekonomi yang merundung Indonesia adalah pelemahan mata uang rupiah dan penurunan daya beli. Selanjutnya modal asing berpotensi satu persatu hengkang dan meningkatnya kesulitan memenuhi kewajiban membayar utang dalam dolar.

 

Sejumlah Pakar memperingatkan bahwa usaha Bank Sentral Amerika Serikat, the Fed (Federal Reserve), untuk meredam inflasi di AS dapat menimbulkan dampak yang merugikan terhadap perekonomian negara berkembang di seluruh dunia yang kemungkinan akan berlangsung panjang.

Kenaikan suku bunga yang ditetapkan oleh the Fed akan mendorong larinya sejumlah modal dari negara-negara berkembang, meningkatkan angka utang negara, dan menimbulkan destabilisasi terhadap mata uang.

Tapi, “Inflasi terlalu tinggi di AS, kami memahami kesulitan yang diakibatkannya, dan kami bergerak cepat untuk menurunkan inflasi,” demikian kata Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell.

 

Jerome Powell secara blak-blakan memperingatkan bahwa upaya The Fed dalam mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga secara agresif akan “menimbulkan rasa sakit.”


Terdapat sejumlah alasan bahwa negara-negara berkembang akan terpukul ketika suku bunga utama di AS naik.

Salah satunya adalah prospek larinya sejumlah modal. Investor yang telah menanamkan modal di negara berkembang akan melihat peluang investasi di AS lebih menarik dengan adanya kenaikan suku bunga. Hal ini memicu pelarian modal ke AS.

Suku bunga lebih tinggi di AS juga akan mengakibatkan suku bunga lebih tinggi di bagian dunia lainnya. Dana Moneter Internasional (IMF) menerbitkan laporan yang memperoleh temuan bahwa 60 persen dari negara berkembang dengan pendapatan rendah sudah menghadapi tekanan utang atau berisiko tinggi akan menghadapi tantangan tersebut.

Laporan itu memperingatkan, “pengalaman di masa lalu menunjukkan kenaikan suku bunga yang cepat di negara maju bisa memperketat kondisi finansial eksternal untuk pasar negara berkembang.”

 


voa/zid

Tags:

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *