fbpx
Bersiap Hadapi Dampak Kenaikan Suku Bunga AS

Bersiap Hadapi Dampak Kenaikan Suku Bunga AS

Dampak bagi perekonomian negara berkembang seperti Indonesia akibat peningkatan suku bunga di AS adalah depresiasi mata uang. Selanjutnya mengakibatkan berkurangnya daya beli dan meningkatnya kesulitan memenuhi kewajiban membayar utang dalam dolar.



Sejumlah Pakar memperingatkan bahwa usaha Bank Sentral Amerika Serikat, the Fed (Federal Reserve), untuk meredam inflasi di AS dapat menimbulkan dampak yang merugikan terhadap perekonomian negara berkembang di seluruh dunia yang kemungkinan akan berlangsung selama beberapa tahun.

Kenaikan suku bunga yang ditetapkan oleh the Fed akan mendorong larinya sejumlah modal dari negara-negara berkembang, meningkatkan suku bunga terhadap hutang negara, dan menimbulkan destabilisasi terhadap mata uang kelompok negara tersebut.

Pada Rabu (4/5), Bank Sentral AS mengumumkan bahwa Komite Pasar Terbuka Federal, yang menetapkan suku bunga acuan dana federal, telah memutuskan untuk menaikkan suku bunga utama sebesar setengah persen, menjadi berkisar antara 0,75 persen hibngga 1 persen. Selain itu, the Fed bermaksud untuk memberlakukan serangkaian kenaikan sebesar setengah persen sampai akhir tahun ini.

“Inflasi terlalu tinggi, dan kami memahami kesulitan yang diakibatkannya, dan kami bergerak cepat untuk menurunkannya,” demikian kata Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell dalam sebuah konferensi pers usai melangsungkan pertemuan komite pada Rabu (4/5).

Terdapat sejumlah alasan bahwa kelompok negara berkembang akan terpukul ketika suku bunga utama di AS naik.

Salah satunya adalah prospek larinya sejumlah modal. Investor yang telah menanamkan modal di negara berkembang akan memanfaatkan pengembalian dari suku bunga yang lebih tinggi, sehingga melihat peluang investasi di AS lebih menarik terutama dengan adanya kenaikan suku bunga. Hal ini memicu pelarian modal ke AS.

Suku bunga lebih tinggi di AS juga akan mengakibatkan suku bunga lebih tinggi di bagian dunia lainnya. Pada April, Dana Moneter Internasional (IMF) menerbitkan laporan yang memperoleh temuan bahwa 60 persen dari negara berkembang dengan pendapatan rendah sudah menghadapi tekanan hutang atau berisiko tinggi akan menghadapi tantangan tersebut.

Laporan itu memperingatkan, “pengalaman di masa lalu menunjukkan kenaikan suku bunga yang cepat di negara maju bisa memperketat kondisi finansial eksternal untuk pasar negara berkembang.”

 


voa

Tags: