Benarkah Bursa Saham Hancur Bila Donald Trump Dilengserkan?

Benarkah Bursa Saham Hancur Bila Donald Trump Dilengserkan?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, pasar saham akan hancur dan semua orang jadi miskin bila dia di-impeach alias dilengserkan dari jabatannya.


Analis Wall Street memberi pandangan berbeda

"Pasar tidak sentimentil," kata chief market strategist di B. Riley FBR, Art Hogan, dikutip dari CBSnews.com.

"Pasar melihat pemerintahan dan kami mendapatkan kebijakan pro-bisnis yang pasar inginkan. Itu sudah dikunci dan dimanfaatkan," tambahnya.

Turunnya presiden dari jabatannya bahkan bisa jadi menguntungkan bagi pasar saham, karena tingginya ketidakpuasan dunia usaha atas kebijakan perdagangan Trump yang telah membuat AS bermusuhan dengan China, Eropa, dan perekonomian besar lainnya di dunia. Kebiasaan Twitter Trump juga tidak akan dirindukan, kata Hogan.

Pasar justru menganggap positif hilangnya cuitan-cuitan sang presiden yang menggangu, ujarnya.

Wakil Presiden Mike Pence, yang akan menggantikan Trump bila impeachment terjadi, tidak terlihat sebagai seorang yang proteksionis dan hawkish sehingga pasar mungkin akan bereaksi secara positif, kata Hogan.

Apa Kata Sejarah?

Sejarah juga memberi gambaran mengenai apa yang terjadi ketika seorang presiden mengalami impeachment atau mengundurkan diri.

Selama Skandal Watergate ketika Presiden Richard Nixon mengundurkan diri dan bukannya dicopot, saham turun tajam. Indeks S&P 500 anjlok lebih dari 20% sepanjang periode terbongkarnya skandal Watergate dan pengunduran diri Nixon.

Namun, saham-saham sebenarnya telah melemah sebelum drama Watergate menyeruak, menurut catatan riset Capital Economics. Investor saat itu berfokus pada penurunan pertumbuhan ekonomi yang dalam sebagai dampak dari embargo minyak OPEC dan lonjakan inflasi. Indeks saham justru menguat saat Nixon lengser.

Ketika Presiden Bill Clinton diproses impeach pada 1998 atas tuduhan sumpah palsu dan menghalangi keadilan, pasar saham menguat tajam, tulis CBSnews.com.

Ketika perhatian seluruh negara tertuju pada kekacauan politik dan kasus personal sang presiden, sebagian investor justru mengabaikannya dan memilih mencermati era booming-nya laba perusahaan, tingginya pertumbuhan gaji, rendahnya angka pengangguran, dan kenaikan sektor teknologi.

Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian tersebut, kata para ahli, adalah Wall Street cenderung berkonsentrasi pada risiko yang dapat dihitungnya. Isu-isu seperti itu biasanya adalah pajak dan kebijakan perdagangan, angka pengangguran, gaji, dan laba perusahaan.

"Tentu saja tidak adil bila kita sepenuhnya mengabaikan pengaruh politik," kata Capital Economics. "S&P 500 reli kencang saat Presiden Tump memenangkan pilpres dan biasanya bereaksi terhadap berbagai pernyataannya tentang perdagangan dan The Fed."

Namun tetap saja, tambahnya, "Secara umum kami berpendapat pengaruh politik akan tetap kecil."

 

 

Bagikan Via WhatsApp, Twitter, Facebook

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *