Apakah Kita akan Dilanda Krisis Finansial Besar?

Apakah Kita akan Dilanda Krisis Finansial Besar?

Share

Pasar keuangan sekarang ini sungguh-sungguh mencemaskan semua orang. Sinyal-sinyal jangka pendek yang diperoleh banyak kontradiksinya. George Soros menilai hengkangnya dana dari emerging market akan mendorong terjadinya krisis finansial besar.


Dalam hal ini hampir semua ‘bos besar’, George Soros dan lain-lain, mempunyai pemahaman yang sama, yang ditunggu akhirnya tidak lebih adalah pemicu ledakkan. Apakah peristiwa akhir dari pemicu peledakan ini? Itu adalah RMB (mata uang Yuan Tiongkok).

Soros selama ini bahkan tidak pernah terlalu memperhatikan sinyal jangka pendek, juga tidak terlalu memperhatikan faktor-faktor teknis, secara total berbalik dengan kebiasaan investasi orang-orang Tiongkok.

Sejak tahun 2000 hingga kini, hanya pada tahun 2007 Soros memasuki ruang perdagangan saham, secara pribadi melakukan penataan dana. Pada saat itu, predator ini telah melihat dengan tepat akan terjadi bubble pada real estate Amerika. Dan sekali lagi menata short selling secara besar-besaran yang sempurna yang selanjutnya terjadi keruntuhan pasar real estate AS serta krisis keuangan global, belakangan semua orang tahu apa yang terjadi.

Sekarang, ia telah kembali ke baris pertama pasar, secara pribadi mengendalikan Soros Trade Fund. Dengan demikian berbagai pihak berspekulasi, predator ini pasti telah melihat peluang keuntungan yang cukup besar sehingga membuat darahnya mendidih.

Sumber pandangan predator ini sering berasal konflik besar antara ekonomi makro dan pasar keuangan, kontradiksi besar ini akhirnya akan membawa perubahan situasi yang signifikan di pasar, membawa perubahan yang mendadak, model memperoleh keuntungan sama sekali berbeda. Jadi pada hari ini, di mana logika Soros?

 

 

 

Hal yang pasti adalah, krisis apa pun bukanlah hal-hal yang diperhatikan kebanyakan orang. Jika setiap orang dapat menghindari “risiko” dalam krisis, itu bukanlah krisis, ini adalah hukum. Begitu juga, yang meledakkan krisis pastilah hal-hal yang kebanyakan orang tidak berani berpikir dan juga tidak terpikirkan. Satu hukum lain lagi adalah titik yang meledakan krisis harus logis, dan perubahan yang terbawa oleh logika kebanyakan tidak terlihat orang, bahkan jika ada beberapa orang dapat melihat namun juga sulit untuk sepenuhnya menghindarinya .

Apa kontradiksi pokok saat ini?

Dunia sedang bekerja keras agar tak terperosok ke dalam Depresi Besar seperti tahun 1929. Resesi ekonomi 1929, diwujudkan dengan deflasi yang parah. Setelah 2009, setelah 2011, setelah 2014, Amerika Serikat, Jepang dan kawasan euro semua telah membuka pelonggaran kuantitatif, mengapa harus melakukan seperti hal ini?

Dari permukaan seolah-olah adalah untuk menstimulasi inflasi, namun pada dasarnya adalah karena utang, ketika deflasi terus berkelanjutan maka utang setiap negara akan pecah. Krisis utang Eropa terus terjadi penyebabnya adalah alasan ini, oleh sebab itu semua berusaha keras mencoba untuk terhindar jatuh ke dalam model deflasi parah seperti pada 1929.

Namun, setelah Eropa, Amerika dan Jepang melakukan injeksi besar, pertumbuhan ekonomi “tahun demi tahun semakin parah”, Eropa dan Jepang masih juga menghadapi ancaman deflasi. Sistem perekonomian baru lebih terombang ambing. Coba lihat pertumbuhan ekonomi yang negatif di Brasil dan Rusia itu sudah jelas. Sekarang ini berbeda dengan 1929, ini adalah zaman semaunya mencetak uang. Semuanya hanya berharap dengan pencetakkan uang semaunya dapat berjuang menekan deflasi, untuk menyelesaikan utang, ini adalah logika QE yang dilakukan di Eropa dan Amerika.

Dalam menghadapi kemungkinan situasi seperti pada 1929, semuanya sudah sangat khawatir karena terperosok ke dalam deflasi parah akan membawa perubahan dalam negeri sendiri (sebagian besar utang default). Banyak pemerintah dan bank sentral kemungkinan kembali ke rumah minum teh, tentu saja tidak boleh diabaikan.

Dalam dunia sekarang ini, Tiongkok dan Amerika Serikat adalah dua perekonomian terbesar. Pada 2008, ketika Amerika Serikat menghadapi deflasi, hasilnya dua kekuatan membuat Amerika Serikat terhindar dari jebakan ke dalam jurang, yang pertama adalah langkah QE Bernanke, dan yang kedua adalah tindakan empat triliun Tiongkok “telah menyelamatkan” Amerika Serikat dan dunia dari jurang deflasi.

Hari ini, yang sedang dihadapi oleh Amerika Serikat adalah ancaman inflasi. Tiongkok sangat khawatir terhadap deflasi dirinya, karena deflasi mempunyai makna bahwa semua hutang akan meledak (mekanisme hipotik dan pinjaman bank-bank komersial akan benar-benar runtuh). Akan tetapi dalam sepuluh tahun terakhir, model perekonomian Tiongkok adalah model perekonomi inflasi, model perekonomi inflasi harus terus bergantung pada inflasi untuk dapat bertahan hidup, jika tidak: maka real estate, obligasi lokal, obligasi perusahaan akan meletus sekaligus!

Begitu juga, posisi Sino-AS sekarang dibandingkan pada 2008, secara total benar-benar telah berubah!

Sekarang, Tiongkok harus mengekspor deflasi, Amerika Serikat harus mengekspor inflasi! Ini adalah keanehan dunia. Ketika pada 2008, Tiongkok dan Amerika Serikat perlu inflasi, kepentingannya sama. Oleh sebab itu Sino-AS berbulan madu, tapi sekarang kepentingan bertentangan, yang ada adalah konfrontasi dan bertengkar.

Sekarang ini, cara AS mengekspor inflasi adalah sangat pasti, yaitu dengan strategi memperkuat dolar! Meskipun permintaan komoditas menurun, membuat mata uang Brazil, Rusia dan negara-negara berkembang lainnya devaluasi, kenaikan inflasi, tetapi juga terkait erat dengan penguatan dolar. Ini merupakan strategi dari AS mengekspor inflasi.

Di masa depan, inflasi AS semakin parah, ini berarti dolar harus semakin kuat, hanya dengan demikian baru dapat mengekspor inflasi.

Persiapan Amerika telah matang, tetapi bagaimana dengan Tiongkok?

Tiongkok tidak mengizinkan deflasi memburuk, ini tidak diragukan lagi. Ini bukan masalah ekonomi lagi, tapi adalah masalah dasar politik. Namun, bagaimana Tiongkok baru bisa merangsang inflasi mereka?

Harga real estate tinggi, meningkatnya hutang rumah tangga, harus menekan kebutuhan masyarakat, ekonomi riil terus saja mati, gelombang kebangkrutan dan penurunan upah terus berlanjut, terus menciutkan kebutuhan orang (tidak berani konsumsi atau tidak memiliki kemampuan untuk mengkonsumsi).

Hal ini mengakibatkan jarak yang semakin besar, yaitu membubungnya real estate dan inflasi menurun. Ketika tidak ada permintaan lagi, bisnis dan individu akan menabung uang tunai, secara alami akan jatuh ke dalam perangkap likuiditas.

Selain itu, industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods) dan industri perjalanan online, semuanya adalah ruang lingkup pembelanjaan, juga telah memasuki musim dingin, jangan menutup mata.

Karena menyusutnya permintaan konsumen, itu juga menyebabkan inflasi terus menurun, juga telah menyebabkan likuiditas jatuh ke dalam perangkap.

Dalam hal ini, Tiongkok bisa memperbesar investasi keuangan untuk meningkatkan permintaan.

Ini berarti bahwa devaluasi mata uang secara pasif akan dipercepat, devaluasi secara pasif setelah fiskal dilemahkan adalah skenario terburuk.

Ini menjelaskan baik dalam hal pendapatan fiskal atau efek, jalan ini sudah buntu! Terus memperluas investasi keuangan itu hanyalah omong kosong. 


Bank sentral terus mengucurkan dana? Jangan main-main lagi, langkah ini sudah melewati batas! Ketika pasar di samping real estate tidak ada permintaan kredit baru, dan ketika semua manabung uang tunai, cara ini sudah tidak bisa dipakai.

Pada saat ini, Tiongkok mengekspor deflasi, menciptakan inflasi sendiri, ini adalah satu-satunya cara untuk mengatasi jebakan likuiditas, yaitu pada tingkat manajemen terus meningkatkan devaluasi!

Devaluasi ada banyak cara, yang paling klasik adalah bank sentral secara langsung membeli obligasi pemerintah, ini juga pasif, karena dalam kondisi perusahaan terus mengalami kebangkrutan, situasi nilai tukar semakin tinggi akan semakin serius. Karena ketika RMB devaluasi, skala deposit RMB di luar Tiongkok yang terlihat, mengabaikan nilai tukar dan tahun ini stabil dan terus menyusut, ini menunjukkan kemungkinan adanya guncangan nilai tukar baru pada masa depan.

Dan RMB dalam negeri terus berdampak pada real estate, ini juga membuktikan orang enggan memegang RMB. Ketika baik di dalam maupun di luar Tiongkok orang-orang enggan memegang RMB, maka perlu devaluasi. Pada saat ini hanya ada satu jalan bagi Bank Sentral, yaitu: melalui devaluasi mendorong inflasi untuk mengurangi perangkap tekanan likuiditas, bersamaan mengekspor deflasi.

Begitu juga, bahwa pada masa depan tidak ada hubungan antara inflasi dan permintaan, tapi terbawa oleh nilai tukar (waktu peledakan mungkin sedikit berbeda). Tidak ada inflasi namun menuju deflasi, dalam perangkap likuiditas semakin terperosok ke dalam.

Itu akan tergantung pada peledakan utang besar sistem perbankan, ini akan membawa peledakan secara bersama antara real estate, bank bayangan, utang perusahaan, utang lokal, mekanisme hipotek Bank Umum.

Oleh sebab itu, Soros menekankan, sekarang banyak orang percaya bahwa tingkat inflasi AS akan kembali naik, “tapi mungkin Tiongkok akan mengekspor deflasi ke AS dan perekonomian dunia.”

Dalam mata Soros, seluruh dunia akan jatuh ke dalam krisis deflasi, “semua harga akan jatuh.” Dalam menghadapi situasi “seluruh dunia menuju ke dalam krisis deflasi.”

Artinya, yang terlihat oleh Soros, dikhawatirkan adalah situasi baru seluruh dunia yang tanpa permintaan, harga semua barang jatuh.

Tiongkok dan dunia, mungkin satu sisi adalah bara api, satu sisi adalah air laut.

Jika Tiongkok membuka nilai tukar mata uang mengambang atau mempercepat pintu devaluasi, maka akan menjadi black swan (muncul secara mengejutkan dan berpengaruh besar) di dunia!

Dan dasar mekanisme hipotek bank Tiongkok, Tiongkok tidak akan pernah mengizinkan deflasi atau juga tidak mengizinkan jebakan likuiditas terus terperosok, yang berarti bahwa cepat atau lambat black swan akan dimunculkan. Dunia saat ini sudah sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, permintaan tidak meningkat, inflasi Eropa dan Jepang berkisar di sekitar nol, setelah black swan terbang, akan menyebabkan permintaan tiba-tiba menghilang, berbagai nilai aset terbuka tanpa batas, jatuh terus ibarat air terjun.

Jadi, yang terlihat oleh Soros, mungkin itu benar-benar adalah babak baru dunia yang tanpa permintaan dan segala sesuatu terus jatuh. 
 
 
 

secretchina

Bagikan Via WhatsApp, Twitter, Facebook

Tags: , ,

© 2018 Zamane.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *