ISIS Cuma Permainan, Perang di Suriah Demi Merampok Minyak

ISIS Cuma Permainan, Perang di Suriah Demi Merampok Minyak dan Bisnis Senjata

Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin agar negaranya mendapat keuntungan jutaan dolar per bulan dari pendapatan minyak Suriah selagi tentara AS berada di sana menjaga ladang-ladang minyak itu.


Presiden Suriah Bashar al-Assad menanggapi dengan menuduh AS "mencuri minyak" dari negaranya.

Sedangkan Rusia, sekutu dekat Assad, menanggapi dengan menyebutnya sebagai "negara bandit internasional".

Siapa sebenarnya yang menguasai produksi minyak Suriah dan mendapat keuntungan?


Kekuatan besar berlomba

AS mengumumkan penarikan pasukan dari Suriah bulan Oktober 2019, tapi hingga kini masih menempatkan serdadu untuk menjaga fasilitas minyak bersama dengan pasukan Kurdi yang kini merupakan penerima manfaat utama dari produksi minyak itu.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyatakan pasukan AS berada di sana untuk menjaga minyak, tak hanya dari kelompok ISIS, tetapi juga dari pasukan Rusia dan Suriah.

Suriah dan Rusia berupaya untuk mengambil alih produksi minyak serta fasilitas-fasilitasnya.

Kedua negara telah menandatangani kesepakatan kerja sama energi tahun 2018 yang memberi hak eksklusif kepada Moskow untuk membangun kembali sektor minyak dan gas Suriah.

Dalam konteks inilah, Trump mengumumkan keinginannya untuk ikut mendapat keuntungan dari minyak yang menurutnya turut dijaga oleh pasukan AS.
 
Bagaimana sebetulnya ISIS? 
 
ISIS disebut sebagai organ yang dibentuk para agen Mossad (Badan Intelijen Israel), CIA (Badan Intelijen AS) dan M16 (Badan Intelijen Inggris). Berbagai kalangan mengakui hal tersebut, termasuk Edward Snowden, eks anggota NSA (Badan Keamanan Nasional AS) yang membelot ke Rusia.

Dirilis Global Research, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan bahwa satuan intelijen Mossad Israel dibantu dinas rahasia AS dan Inggris menciptakan gerakan radikal dengan klaim membentuk sebuah negara khalifah baru yang disebut ISIS.

Snowden mengungkapkan, badan intelijen dari tiga negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk merangkul semua ekstremis di seluruh dunia. Mereka menyebut strategi tersebut dengan nama 'sarang lebah'.

Dokumen NSA yang dirilis Snowden menunjukkan bagaimana strategi sarang lebah tersebut dibuat untuk kepentingan zionis Israel dengan menciptakan doktrin yang memanipulasi ajaran Islam.

Berdasarkan dokumen tersebut, pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi dan sejumlah pentolan ISIS lainnya mendapatkan pelatihan khusus dari Mossad, Israel. Dilatih merumuskan doktrin teologis, taktik propaganda dan teknik cuci otak, mengorganisasikan aksi-aksi teror, dan sebagainya.
 
 
Damaskus kehilangan kendali produksi

Pemerintah Suriah kehilangan kendali atas ladang minyak yang jatuh ke tangan kelompok oposisi, dan kemudian ke tangan ISIS seiring meningkatnya perang.

Tahun 2014 ISIS berhasil merebut ladang minyak di Suriah Timur, termasuk yang terbesar yaitu ladang al-Omar di provinsi Deir ez-Zor.

Penjualan minyak menjadi sumber pemasukan utama bagi ISIS, dengan nilai US$40 juta per bulan di tahun 2015, menurut Kementerian Pertahanan AS.

Ketika ISIS kalah tahun 2017, mereka kehilangan kendali ladang minyak yang jatuh ke tangan pasukan Kurdi yang didukung AS, Syrian Democratic Forces (SDF).

ISIS sendiri kemudian menghancurkan infrastruktur minyak ketika semakin jelas bahwa ladang-ladang itu bakal jatuh ke tangan kekuatan Kurdi.
 

 
Kekuatan Kurdi masih mendapat keuntungan dari minyak

Kelompok Syrian Democratic Forces (SDF) mulai mengambil alih ladang minyak di Suriah timur laut dan sepanjang sungai Eufrat dari tangan ISIS pada tahun 2017.

Mereka berhasil memperbaiki kerusakan dan mulai memulihkan sebagian produksi.

Jonathan Hoffman, asisten Menteri Pertahanan AS mengatakan "keuntungan dari ladang minyak tidak didapatkan Amerika, tapi beralih ke SDF".

"SDF dan sekutunya di Suriah timur sekarang ini menguasai sekitar 70% cadangan minyak Suriah dan sejumlah fasilitas pengolahan gas," menurut Charles Lister dari Middle East Institute.

"Produksi di fasilitas ini jauh di bawah produksi sebelum perang, tapi tetap merupakan sumber pemasukan penting bagi SDF," katanya.

Sekalipun serangan Turki di utara Suriah membuat pasukan Kurdi kehilangan wilayah yang mereka kuasai, kebanyakan ladang minyak di sisi timur Sungai Eufrat masih berada di bawah penguasaan SDF.
 
 
 
Sumber: BBC News

Bagikan Via WhatsApp, Twitter, Facebook

 

Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *