Raja Thailand Isolasi Diri Bersama 20 Perempuan Selirnya di Hotel Mewah

Raja Thailand Karantina Diri Bersama 20 Perempuan Selirnya di Hotel Mewah di Jerman, Ngungsi Corona Sambil Maraton Nganu?

Raja Thailand mengisolasi diri di hotel mewah di resor Alpine, Jerman, bersama 20 perempuan selirnya di tengah wabah virus corona. Karantina diri sambil maraton nganu uh oh ih? 


Saat rakyatnya di Thailand menderita di tengah pandemi COVID-19. Tapi rakyat dilarang mengkritik, meskipun perilaku sang raja sangat memalukan.

Di Thailand, kritik terhadap raja dan keluarga kerajaan akan dihukum berat di bawah undang-undang lese majeste. Siapa pun yang melanggar, akan diancam hukuman 15 tahun penjara.

 
Raja Maha Vajiralongkorn, dikenal juga sebagai Rama X, disebut sudah menyewa keseluruhan Grand Hotel Sonnenbichl di kota Garmisch-Partenkirchen, Jerman. 
 
Dilaporkan media Jerman Bild, hotel mewah itu sudah menerima "izin khusus" dari pemerintah setempat sebagai tempat "isolasi" Raja Vajiralongkorn.

Dikutip dari laman NYPost, pihak hotel memberi perlakuan spesial pada sang raja. Selain 20 selir, ia juga membawa ratusan pelayan.
 
 
Hotel bintang empat yang ditempati Raja Thailand itu berlokasi di kaki bukit Pegunungan Alpen. Seluruh kamar memiliki pemandangan langsung ke Pegunungan Alpen.
 
Grand Hotel Sonnenbichl berusia lebih dari 100 tahun. Hotel itu menjadi kediaman keluarga Bader pada abad 19 selama beberapa tahun sebelum diubah menjadi sebuah penginapan.

Kemudian pada 1890, Caspar Bader mengubahnya menjadi hotel. Saat itu, hotel tersebut sangat populer di kalangan bangsawan dan pengusaha tajir. Bisnis pun semakin berkembang.
 

Kekuatan raja yang absolut


Pakar Thailand, Marshall, mengatakan bahwa ketidaksenangan yang tumbuh terhadap raja tidak akan mengarah pada langkah konkret melawan monarki, karena dukungan militer terhadap raja.

Vajiralongkorn telah berhasil mendorong kerajaan ke arah monarki absolut sejak menjabat, meskipun secara resmi negara itu masih monarki konstitusional, kata Marshall.

Untuk tujuan ini, raja telah membawa unit elit prajurit dan polisi di bawah kendalinya langsung. Ia mengambil kendali langsung aset keluarga kerajaan, yang sebelumnya dikelola oleh Crown Property Bureau (CPB). Menurut perkiraan, aset tersebut berjumlah $ 30 hingga $ 60 miliar (lebih dari Rp 453 triliun).

"Sudah jelas bahwa raja tidak mendapat dukungan dari sebagian besar warga Thailand, tetapi akan sangat sulit untuk menantang kekuasaannya karena kontrolnya atas militer. Pemberontakan melawan monarki akan menyebabkan pertumpahan darah massal di jalan-jalan Bangkok," Kata Marshall.

 

 
DW, Zid

Bagikan Via Line, WhatsApp, Twitter, Facebook

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *