fbpx
Melihat Warga Desa Cimenyan Hidup Sehat dengan Rutin Makan Daun Kelor

Melihat Warga Desa Cimenyan Hidup Sehat dengan Rutin Makan Daun Kelor

Tingkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit, warga di Cimenyan, Kabupaten Bandung, memanfaatkan daun kelor. Selain praktis dan murah, daun kelor juga kaya akan gizi. Dengan bahan dasar daun kelor, warga memasak sayur bening, oseng-oseng, bahkan bakwan.


Salah seorang warga, Enoh Supena, mengatakan keluarganya sudah biasa memasak sayur kelor.

“Soal makan daun kelor sekarang sudah biasa. Dulunya kita tidak tahu manfaatnya. Tapi banyak yang sembuh dari sakit, warga jadi ikut-ikutan,” kata Enoh.

Warga Cimenyan menunjukkan kuliner kelor, Kaya akan gizi sehingga jadi alternatif pangan di kala pandemi. (Foto: Courtesy/Odesa Indonesia)

Enoh mengatakan, warga sudah lama mengenal daun kelor. Sebab sudah banyak warga yang menanam tanaman tersebut.

Tanaman kelor telah dibudidayakan warga petani di Cimenyan sejak 2018. Budidaya ini adalah inisiatif Yayasan Odesa Indonesia, yang membagikan bibit dan melakukan pendampingan bagi warga.

Saat ini sudah ada 3.000-an keluarga yang ikut membudidayakan kelor. Ada yang menanam di pekarangan, di pinggir ladang, bahkan ada yang menanam penuh di ladang-ladang perbukitan.

Odesa mewajibkan petani menanam minimal empat pohon kelor. Petani juga dianjurkan mengkonsumsi kelor minimal tiga kali seminggu. Gerakan ini berupaya memperbaiki kualitas gizi masyarakat.

Kelor Punya Banyak Keunggulan

 

Pengurus Odesa, Enton Supriyatna, yang memimpin masak bersama, mengatakan kelor adalah ‘tanaman strategis’ karena punya banyak keunggulan.

"Pertama, sumber gizi. Kedua penyelamat erosi tanah, dan ketiga berguna untuk peningkatan ekonomi petani,” jelasnya.

Badan Pangan Dunia (FAO) menetapkan kelor sebagai Crop of the Month (pangan bulan ini) pada 2018, karena kandungan gizinya. Kelor kaya akan protein, vitamin A, B, C dan berbagai mineral, serta antioksidan.

Bagi petani skala kecil, FAO merekomendasikan kelor sebagai sumber gizi bagi ibu dan anak, sebagai obat, serta tambahan pendapatan. Sementara itu, pohon kelor mampu mengurangi erosi tanah.

Kelor juga cepat tumbuh dan menghasilkan daun saat musim kemarau. Sehingga menjadi alternatif makanan saat persediaan pangan menipis.

Enton mengatakan, pihaknya mendorong petani supaya punya tradisi bertani untuk konsumsi.

"Jangan semua hasil panen melulu urusan dijual sementara keluarga juga butuh sumber gizi harian,” tambahnya.

"Sebelum berpikir dijual, harus punya tujuan untuk dikonsumsi. Dan kelor sangat menguntungkan karena bisa dipanen kapan saja," imbuhnya lagi.

Yayasan Odesa Indonesia menjembatani petani untuk menjual produk pangan kepada warga kota.

“Saat ini banyak petani yang kesulitan menjual hasil panen. Menjual sistem paket panen satu ladang butuh pengepul. Kalau jual per-kilogram mereka gagap hendak menjual ke mana," tulis Odesa dalam situsnya.

Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci), yang berada di bawah yayasan, mengemas hasil panes berbagai sayuran dan teh kelor kering.

 

 
voaews, zamane

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *