Membangun Peradaban Global yang Manusiawi dengan Spirit Welas Asih

Membangun Peradaban Global yang Manusiawi dengan Spirit Welas Asih

"Agamaku (Islam) agama cinta, di manapun tak ada agama seindah agama yang dibangun di atas cinta," ungkap Ibnu Arabi. Menurut James Morris, Profesor Teologi Islam di Boston College, visi Sufi-filsuf Muhyiddin Ibn Arabi adalah jawaban paling inspiratif untuk membangun peradaban global yang manusiawi.
 
Metode Ibn Arabi dalam membawa kembali ajaran-ajaran agama kepada pengalaman spiritualitasnya, sesuatu yang bisa kita bagi sebagai umat manusia di semua tempat dan waktu. Dia menyediakan apa yang kita sebut sebagai ‘Phänomenologie des Geistes’, yang merujuk pada bentuk spiritual dari kesadaran dan pengalaman yang bisa diakses oleh manusia, apapun budaya dan bahasanya. 
 
Simak hasil wawancaranya dengan Claudia Mende © Qantara.de dan disarikan editor ZAMANe Siti Rahmah.
 
Prof. James W. Morris, Guru Besar Teologi Islam di Boston College, Amerika Serikat.
 

Menurut Anda karya puisi Ibn Arabi berperan penting menyebarkan gagasannya ke dunia luar?

Ada dua alasan untuk itu. Pertama, penyair dan penyanyi mengadopsi ide-idenya ke dalam bahasa Islam yang baru, ketika agama ini menjelma menjadi agama global dengan masuknya Mongolia pada abad ke13. Transformasi ini berawal di Persia dan menyebar menjadi budaya baru kaum muslim di Afrika dan Asia.

Salah satu contoh paling mencolok adalah di Indonesia. Di sana gagasan Ibn Arabi memiliki dua fungsi. Pertama, pemikiran Ibnu Arabi mendasari bagaimana tradisi wayang ikut membantu menyebarkan Islam. Teori Ibn Arabi dijadikan argumen untuk mempertahankan kreativitas spiritual dalam seni perwayangan, demi menjawab serangan mereka yang ingin memaksakan pemahaman agama yang sempit. Hingga kini di seluruh dunia Islam, penyair, seniman dan manusia yang menjalani kehidupan spiritual, bisa menemukan pembelaan yang jelas atas karya atau kehidupan mereka dalam tulisan-tulisan Ibn Arabi.  

Yang menggerakkan penyebaran Islam pada masa itu adalah apa yang kini kita sebut sebagai Tarekat Sufisme. Tapi sebelum berdirinya institusi-institusi keagamaan lokal, selalu ada sejumlah individu karismatik seperti para wali yang merawat pemahaman keagamaan yang lebih luwes. Kebanyakan institusi Sufi mendasarkan praktik keagamaan pada Dzikir, dalam bentuk yang familiar seperti puisi, musik, ziarah atau festival yang berakar pada bahasa dan budaya lokal. Siapapun yang ingin memahami arti puisi atau lagu populer seputar kelahiran Nabi Muhammad misalnya, harus merujuk pada tulisan-tulisan Ibn Arabi.

Bagaimana pengaruhnya di dunia modern?

Gagasan Ibn Arabi diolah dan diwariskan dari generasi ke generasi, hingga kini. Misalnya karya-karya penyair Persia, Hafis, yang hidup satu abad setelah kematiannya, banyak dipengaruhi ajaran Ibn Arabi. Karya Hafis lalu dipelajari oleh penyair Jerman, Goethe, yang lalu belajar bahasa Farsi. Karyanya, Diwan Barat dan Timur atau juga Faust mengadopsi tafsir Al-Quran yang digunakan Hafis. Film karya Wim Wenders, Wings of Desire, yang didasari pada Faust misalnya, banyak mengadopsi kisah-kisah Al-Quran, sehingga saya menggunakannya dalam kelas untuk menjelaskan tentang Al-Quran kepada murid-murid saya.

Di lingkup bahasa Arab, banyak yang bisa membaca tulisan-tulisannya. Ulama dan intelektual agama menggunakan tafsir spiritual Ibn Arabi terhadap Al-Quran dan Hadith. Di Kesultanan Utsmaniyah dan Asia sebaliknya hanya kaum intelektual yang menguasai bahasa Arab klasik dan memahami dasar-dasar teologi saja yang bisa memahami gagasannya. Di sana pengaruhnya masuk pertama-tama melalui lingkup intelektual, baru kemudian melalui para penyair yang mengadopsi tulisan Ibn Arabi ke dalam bahasa lokal. Di barat, dia lebih dikenal oleh khalayak ramai lewat puisi dan musik. 

Ibn Arabi juga dikenal lewat sikap toleran dan kehidupan harmoni antar umat beragama. Bagaimana pesannya ini ditanggapi pada masa itu?

Kesultanan Utsmaniyah dan Mughal di India yang mengakui banyak agama ikut mengkampanyekan pesan-pesan toleransinya. Karena Ibn Arabi menghargai keragaman spiritualitas dan selalu menekankan, bahwa pengalaman spiritual adalah hal unik untuk setiap manusia.

Dia dan banyak ulama Sufi lainnya fokus pada kewajiban dan tanggungjawab yang dimiliki oleh semua manusia, secara spiritual, etis dan intelektual, bukan pada perbedaan yang memisahkan mereka. Ini sebabnya kenapa ajaran Ibn Arabi makin relevan di era modern. Jika kita ingin membangun peradaban global yang manusiawi, kita harus membangun hubungan yang mendalam dengan sesama umat manusia.

Tapi saat yang bersamaan dia juga menafsirkan Al-Quran secara harfiah?

Tafsirnya malah sangat harfiah, tapi realitanya tidak sesederhana itu. Karena pemahaman Ibn Arabi tentang Al-Quran berangkat dari tradisi linguistik bahasa Arab, di mana akar kata memiliki arti yang berbeda tapi berkaitan satu sama lain. Jadi ini berbeda dengan apa yang kita pahami dari arti kata harfiah sendiri. 

Bahasa Arab di dalam Al-Quran sendiri bersifat multi dimensional. Jadi gaya penafsiran Ibn Arabi membantu kita melihat makna Al-Quran dalam bentuk yang tidak diadopsi oleh penafsiran populer, namun sudah diadaptasi oleh Ibn Arabi ke dalam konteks yang baru. Jadi penafsiran harfiah Ibn Arabi juga berarti penafsiran spiritual, dan pemahaman spiritual itu berevolusi dan mengakar pada kehidupan para pembacanya.

 

 

Mende © Qantara.de, Deutsche Welle, ZAMANe

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *