China Kerahkan Buzzer Pejuang Serigala untuk Kontra Propaganda Covid-19

China Kerahkan Buzzer Pejuang Serigala untuk Kontra Propaganda Covid-19

Di era kepemimpinan Deng Xiaoping strategi umum China adalah "sembunyikan kemampuan kita dan tunggu waktu terbaik." Hal itu tidak berlaku lagi bagi rezim Xi Jinping sekarang.


China telah mengerahkan sekelompok diplomat yang vokal ke media sosial untuk berbicara berbagai hal. Tujuan mereka adalah untuk membela penanganan China atas pandemi virus corona dan menantang orang-orang yang mempertanyakan kronologi versi Beijing. 

Mereka rutin bercuit di Twitter dan media sosial lainnya dari kedutaan-kedutaan besar China di seluruh dunia. Mereka lantang, menjawab dengan sarkastis dan agresif. Teknik ini masih baru dan mereka dinamakan "pejuang serigala" atau wolf warrior, sesuai nama sebuah film aksi. Dan tentunya mereka didukung "pasukan buzzer siluman honorer" yang agresif.

Wolf Warrior dan Wolf Warrior 2 adalah film yang sangat populer yang menampilkan pasukan khusus elite China yang berhadapan dengan tentara bayaran pimpinan AS. Film-film ini menyuguhkan kekerasan dan nasionalisme ekstrem.

Seorang kritikus film mengatakan bahwa film tersebut "seperti Rambo dengan karakteristik China." Poster promosi film tersebut menunjukkan karakter utama mengangkat jari tengahnya dengan slogan: "siapapun yang menyerang China, dari manapun asalnya, harus dihancurkan."

Dalam sebuah editorialnya, surat kabar Partai Komunis China, Global Times, mendeklarasikan bahwa rakyat China "tidak lagi puas dengan nada diplomasi yang lemah" dan negara Barat akan tertantang oleh diplomasi "Wolf Warrior" baru China.

Mungkin "buzzer pejuang serigala" paling agresif adalah Lijian Zhao, juru bicara muda Kementerian Luar Negeri China. Ia adalah pejabat yang mengemukakan tudingan tanpa substansi bahwa AS mungkin yang membawa virus corona ke Wuhan.

Ia memiliki lebih dari 600.000 pengikut di Twitter dan ia memanfaatkannya dengan terus menerus bercuit, retweet, atau menyukai konten apapun yang mempromosikan dan membela China setiap jamnya.

Ini tentunya tugas setiap diplomat di manapun: mereka harus mempromosikan kepentingan nasional negaranya. Namun adalah tidak lazim diplomat yang memakai bahasa yang tidak diplomatis.

Contohnya kedutaan besar China di India yang mengatakan bahwa tuntutan agar China membayar kompensasi karena menyebarkan virus "konyol dan terang-terangan tidak masuk akal."

Duta besar China di Belanda menuding Presiden AS Donald Trump "sangat rasis".


Duta besar China di Australia, Cheng Jingye, telah beberapa kali terlibat dalam debat panas dengan pejabat di sana. Ketika pemerintah Australia mendukung investigasi internasional independen soal asal muasal virus, Cheng seolah mengatakan: China akan memboikot produk-produk Australia.

"Mungkin rakyat (China) akan berkata, 'kenapa kita harus minum anggur Australia atau makan daging sapi Australia?" katanya kepada Australian Financial Review.

Kabinet Australia melihatnya sebagai ancaman "pemerasan ekonomi." Pejabat Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) memanggil Cheng untuk menjelaskan apa maksud perkataannya.


Dalam sebuah artikel di majalah Foreign Affairs, Kevin Rudd, mantan perdana menteri Australia, mengatakan bahwa China sedang membayar strategi barunya ini: "Apapun yang dilaporkan generasi baru diplomat 'pejuang serigala' China ke Beijing, kenyataannya posisi China telah dirugikan (ironinya, para pejuang serigala ini yang memperburuk keadaan, bukan memperbaikinya).

"Reaksi anti-China terhadap penyebaran virus ini, sering kali berbau rasis, telah dilihat di negara-negara seperti India, Indonesia, dan Iran. Soft power China berisiko rusak."

Kerasnya diplomasi China mungkin memperburuk citranya di mata negara-negara Barat, yang makin tidak percaya dan enggan berurusan dengan Beijing.

Di Amerika Serikat, China telah menjadi isu penting di pemilihan presiden lantaran kedua calon presiden bersaing untuk menjadi yang paling tangguh. Di Inggris, anggota parlemen dari Partai Konservatif telah bersatu untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan terkait China.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah tensi diplomatik ini akan berevolusi menjadi konfrontasi yang lebih serius antara China dengan Barat. Ini penting bukan hanya karena risiko yang bisa muncul karena eskalasi konflik, namun juga karena banyak aspek bagi dunia.

 

 

Bagikan Via Line, WhatsApp, Twitter, Facebook

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *