Operasi Intelijen Partai Komunis China di Balik Bisnis dan Investasi di Banyak Negara

Operasi Intelijen Partai Komunis China di Balik Bisnis dan Investasi di Banyak Negara

Sebuah dokumen yang disusun dengan bantuan seorang mantan agen rahasia Inggris, MI6, mengungkap dunia gelap spionase China, perekrutan agen dan program ambisius untuk menebarkan pengaruhnya di seluruh dunia.



Setiap perusahaan besar China di mana pun beroperasi di dunia menempatkan "sel" di dalamnya, yang bertanggung jawab kepada Partai Komunis China yang berkuasa, untuk melenggangkan agenda politik dan memastikan bahwa perusahaan itu mematuhi perintah politik.

Itulah sebabnya para ahli masalah China menegaskan bahwa Partai Komunis China memang beroperasi sering kali berkedok bisnis dan investasi.

"Mesin partai ada di mana-mana, dan bagi China, bisnis tak bisa dipisahkan dari politik." Demikian dilaporkan Frank Gardner wartawan keamanan BBC News.


Dengan begitu mereka bisa ditugaskan untuk menghimpun informasi rahasia, khususnya di bidang teknologi, termasuk telekomunikasi.

Ini bervariasi mulai dari spionase dengan sasaran tertentu dan spionase siber skala besar, pencurian hingga mengkooptasi para ahli di dunia industri, baik tanpa atau dengan sepengetahuan mereka.
 

Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat (FBI) mengatakan operasi spionase oleh China merupakan ancaman terbesar.

Dilansir dari BBC News, Direktur FBI Christopher Wray mengatakan, pemerintah China mendalangi operasi intelijen untuk mencuri rahasia dagang, dan mengancam tatanan hidup AS.

Dia menambahkan, setiap sepuluh jam FBI membongkar satu kasus kontra-intelijen baru yang melibatkan China.

"China terlibat dalam upaya [yang dilakukan seluruh] negara itu untuk menjadi satu-satunya negara adikuasa di dunia dengan segala cara yang diperlukan," ujarnya ketika berbicara di Institut Hudson di Washington, Selasa (07/07).

Dalam paparan selama hampir satu jam, Wray menguraikan gambaran yang jelas tentang campur tangan China, kampanye spionase ekonomi yang luas, pencurian data dan moneter serta kegiatan politik ilegal, menggunakan suap dan pemerasan untuk mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat.

"Kami sekarang sudah mencapai titik di mana FBI kini membuka kasus kontra-intelijen baru terkait China setiap 10 jam," kata Wray.

"Dari hampir 5.000 kasus kontra-intelijen aktif saat ini yang sedang berlangsung di seluruh negeri, hampir setengahnya terkait China," imbuhnya.

Direktur FBI tersebut mengatakan Presiden China Xi Jinping telah mempelopori program yang disebut "perburuan rubah", yang menargetkan warga negara China yang tinggal di luar negeri, yang dipandang sebagai ancaman bagi pemerintah China.

"Kita sedang berbicara tentang rival politik, pembangkang dan kritikus yang berusaha mengungkap pelanggaran HAM di China yang luas," ujarnya.

"Pemerintah China ingin memaksa mereka kembali ke China, dan taktik China untuk melakukan itu mengejutkan."

Dia melanjutkan: "Ketika mereka tidak bisa menemukan satu target perburuan rubah, pemerintah China mengirim utusan untuk mengunjungi keluarga target di sini di Amerika Serikat. Pesan yang mereka sampaikan? Target itu memiliki dua pilihan: kembali ke China segera, atau bunuh diri."

Ini bukan kali pertama Direktur FBI Christopher Wray mengkategorikan China sebagai "ancaman intelijen utama" bagi AS, tetapi pada hari Selasa ia meningkatkan kritik dengan memfokuskan pada "upaya seluruh negara" Beijing untuk menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.

Ini jelas menandakan bahwa Washington sekarang melihat Beijing tidak hanya sebagai musuh yang agresif, tetapi juga pesaing ambisius dalam kepemimpinan global.
 
 
BBC News

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *