Top.Mail.Ru
Fakta AS dan China Saling Bergantung di Sektor Teknologi dan Bisnis

Fakta AS dan China Saling Bergantung di Sektor Teknologi dan Bisnis

Kedua negara memiliki perekonomian dan anggaran militer terbesar di dunia. Namun juga memiliki saling ketergantungan di bidang teknologi dan bisnis. Berikut ini faktanya:


Amerika Serikat adalah negara tujuan ekspor terbesar bagi Cina, bahkan setelah Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi berupa kenaikan tarif bagi sejumlah produk buatan Cina. Dan sebaliknya Cina adalah pasar terbesar ketiga bagi eksportir AS. Di negeri tirai bambu itu perusahaan-perusahaan AS juga memasok produk untuk kebutuhan di dalam negeri seperti General Motors Co. hingga restoran waralaba Burger King.

Akibat perang dagang, pembelian produk agrikultur, semikonduktor dan komoditas AS lain anjlok sebanyak 11.4% sejak tahun lalu. Namun begitu total nilai impor produk AS oleh Cina melebihi angka USD 100 miliar.

Menurut Kamar Dagang AS, aktivitas ekspor produk AS ke Cina menopang satu juta lapangan kerja di dalam negeri. Angka tersebut sudah berkurang banyak sejak mencapai puncaknya sebesar 10% pada tahun 2017 silam. Cina juga merupakan pembeli terbesar produk agrikultur AS, kebanyakan diproduksi di kawasan tengah yang merupakan kantung pendukung Presiden AS, Donald Trump.


Rivalitas dagang AS dan Cina dalam perekonomian global.

Saat ini importir Cina masih bisa membeli biji kedelai AS dengan harga normal sesuai fase pertama 'gencatan senjata' perdagangan yang ditandatangani Januari lalu. Dikhawatirkan, jika kedua negara gagal bersepakat, gangguan pada pasokan biji kedelai antara AS dan Cina itu bisa pula berdampak kepada negara-negara Asia lain yang selama ini memasok bahan baku dan suku cadang untuk pabrik-pabrik di Cina.

Saling bergantung di bidang teknologi

Sentra produksi AS dan Cina berkaitan erat untuk sektor telekomunikasi, komputer, peralatan medis dan teknologi lain. Sejumlah perusahaan besar seperti Apple, Dell, Hewlett-Packard dan lainnya bergantung pada pabrik dari Cina untuk merakit produk-produk elektronik yang mereka kembangkan.

Pabrik-pabrik ini sebaliknya membutuhkan komponen komputer dari AS, Jepang, Taiwan dan Eropa untuk bisa beroperasi.

Saat ini pemerintahan Donald Trump sedang giat menghadang raksasa teknologi Cina, Huawei, yang mencari akses terhadap komponen dan teknologi buatan AS. Tapi kebijakan tersebut terancam ikut berdampak pada perusahaan-perusahaan teknologi AS di Sillicon Valley, yang banyak mengerjakan pesanan dari Huawei.

Cina juga merupakan pasar gemuk bagi produk-produk teknologi AS dan perlahan mulai menyaingi AS di bidang teknologi komunikasi, perlengkapan medis dan sektor lain. Sebaliknya, Cina mengandalkan AS untuk menjual produk olahan bernilai tinggi, lantaran rendahnya minat atas komoditas tersebut di Asia atau Eropa.

Postur anggaran militer terbesar di dunia menurut Stockholm International Peace Research Institute, April 2020.

Eskalasi risiko keamanan

Selain perang dagang, risiko paling dikhawatirkan dalam memburuknya hubungan AS dan Cina adalah perang bersenjata. Saat ini Armada Pasifik AS masih merupakan kekuatan tanpa tanding di kawasan. Namun Cina saat ini sudah memiliki dua kapal induk dan serangkaian rudal berteknologi tinggi untuk menghalau ancaman serangan AS.

Ketegangan militer antara kedua negara berpusar pada Laut Cina Selatan. Selain LCS, Taiwan menjadi ladang konflik lain. Sejak 1995, Amerika Serikat terikat pada perjanjian dan UU Taiwan yang mewajibkannya melindungi negeri kepulauan itu dari aneksasi Cina.
 

DW, AP, FP, Bloomberg

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *