Indonesia Masuk Jurang Resesi, Bisa Lebih Berat dari Krismon 1998

Indonesia Masuk Jurang Resesi, Bisa Lebih Berat dari Krismon 1998

Indonesia dipastikan masuk ke jurang resesi, kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan bisa lebih berat dari krisis 1998.

 
Perekonomian Indonesia akan masuk ke teritori negatif pada kuartal tiga, sementara kuartal empat memiliki potensi yang sama.

Sri Mulyani mengatakan perekonomian Indonesia pada kuartal tiga akan -2,9% hingga -1%—kontraksi yang terjadi pada dua kuartal berturut-turut.

Pada kuartal kedua tahun ini, perekonomian Indonesia tercatat mengalami kontraksi sebesar 5,32%.

"Kementerian Keuangan melakukan revisi forecast pada bulan September ini, yang sebelumnya kita perkirakan untuk tahun ini adalah -1,1% hingga 0,2%. Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah kisaran -1,7% sampai -0,6%," kata Sri Mulyani melalui konferensi pers virtual Selasa (22/09).

"Ini artinya, negatif territory kemungkinan akan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih akan berlangsung untuk kuartal ke IV," tambahnya.

"Bagi institusi lain, yang melakukan forecast untuk Indonesia mereka rata-rata berkisar antara 5%-6%. OECD tahun depan prediksi tumbuh 5,3%, ADB sama 5,3%, Bloomberg median view 5,4%, IMF 6,1%, Word Bank di 4,8%."

Keterpurukan bisnis di seluruh dunia menyebabkan PHK ratusan juta orang, menyebabkan PDB dunia anjlok minus 4,9 persen tahun ini dan akan mengakibatkan kerugian luar biasa dalam dua tahun ke depan, kata Dana Moneter Internasional (IMF).

Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, dampak dari resesi yang berpotensi paling dirasakan masyarakat adalah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, disusul dengan jatuhnya daya beli masyarakat karena berkurangnya pendapatan.

Kata Enny, ekonomi sebuah negara bisa dikatakan mengalami resesi jika terjadi "penurunan ekonomi secara eksesif."

Enny mengatakan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Rendahnya daya beli masyarakat bisa menjadi indikasi bahwa ekonomi tidak tumbuh dan justru melemah, atau minus.

Terakhir kali Indonesia mengalami krisis ekonomi masif adalah pada krisis moneter 1997-1998. Enny Sri Hartati mengatakan Indonesia membutuhkan waktu lebih dari lima tahun untuk bangkit.

"Berdasarkan pengalaman kita menghadapi krisis '97-'98 saja tidak cukup lima tahun untuk benar-benar pulih."

"Krisis '97-'98 itu hanya beberapa sektor yang terdampak, kali ini dampaknya seluruh sektor," kata Enny, akan lebih berat.
 
 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *