Survei Komprehensif: Masyarakat Timur Tengah Cenderung Bergeser Moderat

Survei Komprehensif: Masyarakat Timur Tengah Cenderung Bergeser Moderat

Beberapa survei komprehensif yang dilakukan di Timur Tengah menghasilkan kesimpulan yang sama: semuanya menunjukkan peningkatan sekularisasi dan peningkatan seruan untuk melakukan reformasi di lembaga-lembaga keagamaan.



Masyarakat Timur Tengah Cenderung Bergeser Moderat dan Bahkan Sekuler

 

Sosiolog Ronald Inglehart, Profesor Emeritus Ilmu Politik Lowenstein di University of Michigan dan penulis buku Religius Sudden Decline telah menganalisis survei di lebih dari 100 negara yang dilakukan dari tahun 1981-2020.

Inglehart mengamati bahwa sekularisasi cepat bukanlah hal yang unik di Timur Tengah. "Munculnya apa yang disebut 'nones', yang tidak mengidentifikasi dengan keyakinan tertentu, telah dicatat di negara-negara mayoritas Muslim berbeda seperti Irak, Tunisia, dan Maroko," kata Tamimi Arab.

Semakin banyak orang membedakan antara agama sebagai keyakinan dan agama sebagai suatu sistem, semakin keras seruan untuk reformasi. "Tren ini mengurangi upaya Iran serta para pesaingnya, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab, untuk mendapatkan kekuatan politis religius," kata James Dorsey, seorang senior di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam Universitas Teknologi Nanyang di Singapura.

Dorsey menyoroti contoh Uni Emirat Arab yang telah mencabut larangan konsumsi alkohol dan pasangan yang belum menikah yang tinggal bersama.

Seorang wanita di Kuwait, yang meminta DW untuk tidak mempublikasikan namanya karena alasan keamanan, juga secara tegas membedakan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai sebuah sistem. "Saat remaja, saya tidak menemukan bukti peraturan pemerintah yang diklaim dalam Al Quran."

"Menolak masuk Islam sebagai sistem tidak berarti menolak Islam sebagai agama,” jelasnya.

Sebuah survei baru terhadap 50 ribu orang yang diwawancarai oleh Grup untuk Menganalisis dan Mengukur Sikap di Iran (GAMAAN), menemukan bahwa tidak kurang dari 47% melaporkan "telah beralih dari beragama ke non-agama."

Pooyan Tamimi Arab, Asisten Profesor Kajian Agama di Universitas Utrecht dan rekan penulis survei melihat transisi dan pencarian perubahan agama ini sebagai konsekuensi logis dari sekularisasi Iran. "Masyarakat Iran telah mengalami transformasi besar, seperti tingkat literasi yang meningkat secara spektakuler, urbanisasi besar-besaran, perubahan ekonomi memengaruhi struktur keluarga tradisional, tingkat penetrasi internet yang tumbuh hingga sebanding dengan Uni Eropa, dan tingkat kesuburan yang menurun," katanya kepada DW.

Sementara itu, dari 99,5% angka sensus Syiah Iran, GAMAAN menemukan bahwa 78% beriman kepada Tuhan - tetapi hanya 32% yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim Syiah.

 

Razan Salman - DW

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *