Virus Corona Berasal dari China Lalu Kini Vaksin China Mendunia

Virus Corona Berasal dari China Lalu Kini Vaksin China Mendunia

Cina menjanjikan sekitar setengah miliar dosis vaksinnya untuk lebih dari 45 negara, demikian menurut penghitungan yang ditelusuri kantor berita Associated Press. 

 
Vaksin Cina, cukup menarik bagi negara-negara seperti Indonesia. Sebagian besar vaksin Cina berasal dari Sinovac dan Sinopharm yang mengandalkan teknologi lawas berupa virus yang dimatikan.
 
Cina mengklaim mampu menghasilkan setidaknya 2,6 miliar dosis tahun ini. Sebagian besar populasi dunia akan menerima vaksin inokulasi Cina yang sederhana dan teknologi jadul, tanpa menunggu vaksin Barat yang dianggap ‘mewah‘ dalam ‘menjual‘ tingkat keefektifan,

Namun di tengah kelangkaan data publik tentang vaksin Cina, di negara-negara yang bergantung pada Sinovac, muncul keraguan akan kemanjuran dan keamanannya. Kecemasan itu datang bersamaan dengan kekhawatiran terhadap meningkatnya kebergantungan kepada Cina.

Meskipun demikian, penggunaan vaksin Cina sudah dimulai di lebih dari 25 negara. berdasarkan pelaporan independen di negara-negara tersebut bersama dengan pengumuman pemerintah dan perusahaan, menurut hitungan AP, vaksin Cina juga telah dikirim ke 11 negara lainnya.
Dari tidak dipercaya, menjadi ‘juru selamat‘

Keberhasilan ini berpotensi menyelamatkan muka Cina, yang bertekad untuk mengubah dirinya dari sebagai objek ketidakpercayaan atas kesalahan penanganan awal wabah COVID-19, menjadi ‘juru selamat‘.

Sebagaimana India dan Rusia, Cina sedang mencoba membangun niat baik, dan telah berjanji untuk mempersiapkan sekitar 10 kali lebih banyak vaksin di luar negeri daripada yang didistribusikannya di negaranya sendiri.

"Kami melihat diplomasi vaksin mulai dimainkan secara ‘real-time‘ dengan Cina sebagai pemimpin dalam hal kemampuan untuk memproduksi vaksin di Cina dan membuatnya tersedia untuk pihak lain,'' kata Krishna Udayakumar, direktur pusat inovasi di Universitas Duke, Duke Global Health. "Beberapa vaksin diberikan sebagai sumbangan, lainnya dijual, dan beberapa dari vaksin dijual dengan pembiayaan utang terkait dengan itu."

Cina yang mengklaim sedang memasok ``bantuan vaksin" ke 53 negara dan mengekspor ke 27 negara, menolak permintaan AP untuk menunjukkan daftar tersebut.

Ada kekhawatiran di antara negara penerima vaksin bahwa Cina merupakan diplomasi yang mungkin harus dibayar mahal, telah disangkal oleh Cina.

Beijing membantah tengah melakukan diplomasi vaksin. Juru bicara kementerian luar negeri Tirai Bambu itu mengatakan Cina menganggap vaksin sebagai "kepentingan umum global."

Pakar Tiongkok juga membantah adanya keterkaitan apa pun antara ekspor vaksin dan pembenahan citra Cina." Saya tidak melihat ada ketertaitan dalam hal itu, '' kata Wang Huiyao, presiden Center for China and Globalization, sebuah wadah pemikir di Beijing. "Tiongkok harus berbuat lebih banyak untuk membantu negara lain, karena itu (distribusinya) berjalan dengan baik. ''

Di Filipina, Beijing mendonasikan 600.000 vaksin bagi lansia. Seorang diplomat Cina mengatakan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, memberi penjelasan secara halus untuk meredam kritik publik terhadap Cina di tengah krisis di Laut Cina Selatan yang disengketakan.

Diplomat senior itu mengatakan Wang tidak meminta imbalan apa pun untuk vaksin, tetapi jelas dia menginginkan "pertukaran yang bersahabat di muka publik, seperti mengontrol sedikit ‚suara keras‘ dalam diplomasi," ujar diplomat tersebut, yang menyampaikan pesan dengan syarat anonim. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte secara terbuka mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada hari Minggu bahwa Cina tidak meminta apa pun.

Sementara itu, legislator oposisi di Turki menuduh para pemimpin di Ankara secara diam-diam ‘menjual orang Uyghur' ke Cina dengan imbalan vaksin. Para legislator dan komunitas diaspora Uighur takut Beijing berusaha memenangkan jalannya perjanjian ekstradisi yang dapat membuat lebih banyak orang Uighur dideportasi ke Cina.

Terlepas dari semua kekhawatiran, urgensi pandemi sebagian besar telah terjadi menggantikan keraguan atas vaksin Cina. "Vaksin, terutama yang dibuat di Barat, dicadangkan untuk negara kaya, '' kata seorang pejabat Mesir, yang berbicara dengan syarat anonimitas dalam membahas masalah tersebut. "Kami harus menjamin tersedianya vaksin. Vaksin apa saja," pungkasnya.
 

Di Eropa, Cina memberikan vaksin ke negara-negara seperti Serbia dan Hongaria – sebuah kemenangan secara geopolitis yang signifikan di Eropa dan Balkan, lokasi di mana Barat, Cina, dan Rusia bersaing untuk mendapatkan pengaruh politik dan ekonomi. Situasi ini menawarkan kesempatan bagi China untuk memperkuat bilateral hubungan dengan Serbia dan para pemimpin populis Hongaria, yang sering mengkritik Uni Eropa.

Serbia menjadi negara pertama di Eropa yang mulai memvaksin penduduk dengan vaksin Cina pada bulan Januari.

 
 

DW, Associated Press

Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *