WHO Sebut Perlu Investigasi Lanjutan Covid-19 Berasal dari Laboratorium di China

WHO Sebut Perlu Investigasi Lanjutan Covid-19 Berasal dari Laboratorium di China

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan harus ada investigasi lanjutan untuk menyimpulkan dugaan kebocoran laboratorium di China adalah penyebab wabah Covid-19.



Dilansir BBC News, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan (30/03) bahwa kebocoran laboratorium di China terkait penyebab wabah virus corona perlu penyelidikan yang lebih luas soal kemungkinan itu.

Beijing belum menanggapi pernyataan terkini dari WHO itu.

AS dan negara-negara lain telah mengritik China karena tidak memberi data yang cukup terkait Covid-19.

Virus itu pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, provinsi Hubei, pada akhir 2019.

Pemerintah China sebelumnya telah menepis tuduhan soal kebocoran laboratorium sebagai penyebab wabah.

Lebih dari 2,7 juta orang diketahui telah meninggal akibat virus corona dan muncul 127 juta kasus penularan di seluruh dunia sejak pertama kali diidentifikasi.

Sebuah tim yang terdiri dari para ahli internasional bertolak ke Wuhan pada Januari untuk menyelidiki asal-usul virus. Penelitian mereka mengandalkan sampel dan bukti yang disediakan oleh pejabat China.

Ghebreyesus mengatakan timnya kesulitan mendapatkan data mentah. Dia juga menyerukan agar dapat "berbagi data dengan lebih tepat waktu dan komprehensif" di masa depan.

Tim itu menyelidiki segala kemungkinan, termasuk satu teori bahwa virus itu berasal dari Institut Virologi Wuhan.

Institut tersebut adalah otorita paling terkemuka di dunia dalam pengumpulan, penyimpanan dan studi virus corona yang berasal dari kelelawar.

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, termasuk di antara orang-orang yang mendukung teori bahwa virus itu kemungkinan telah bocor dari sebuah laboratorium.

Semua hipotesis dipertimbangkan

Tim WHO beserta para ahli dari China merilis sebuah laporan pada Selasa, seperti yang diberitakan kantor berita AFP. Menurut laporan itu, kebocoran laboratorium sangat tidak mungkin, dan bahwa virus itu kemungkinan telah berpindah dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara lainnya.

Meski demikian, Ghebreyesus mengatakan bahwa teori itu "membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, dan berpotensi membutuhkan misi-misi tambahan yang melibatkan ahli-ahli spesialis".

"Saya ingin mengatakan dengan jelas bahwa bagi WHO, semua hipotesis masih dipertimbangkan," tambah Ghebreyesus.

Peter Ben Embarak, yang memimpin tim WHO ke China, mengatakan timnya tidak menemukan bukti bahwa ada laboratorium di Wuhan yang terlibat dalam wabah tersebut.

Dia menambahkan bahwa timnya merasa berada di bawah tekanan politik, termasuk dari luar China, tetapi mengatakan dia tidak pernah ditekan untuk menghapus apa pun dari laporan akhir mereka.

Lebih lagi, Embarak menjelaskan bahwa "sangat mungkin" kasus virus tersebut sudah menyebar di daerah Wuhan sejak Oktober atau November 2019. China memberitahu WHO soal virus corona baru pada 3 Januari 2020, sebulan setelah infeksi pertama di negara itu dilaporkan.

Tak lama kemudian, AS dan 13 sekutunya, termasuk Korea Selatan, Australia dan Inggris, menyuarakan keprihatinan atas laporan tersebut dan mendesak China untuk memberikan "akses penuh" kepada para ahli.

Pernyataan itu mengatakan misi ke Wuhan "ditunda secara signifikan dan tidak memiliki akses ke data dan sampel asli yang lengkap".

Kelompok tersebut berjanji untuk bekerja sama dengan WHO.

China telah membantah klaim virus itu berasal dari laboratorium dan mengatakan bahwa meskipun Wuhan adalah tempat klaster kasus pertama yang terdeteksi, hal itu tidak memastikan bahwa virus berasal dari wilayah tersebut.

Media pemerintah mengklaim bahwa virus itu mungkin telah tiba di Wuhan melalui impor makanan beku.

China sebagian besar telah berhasil mengendalikan wabah di negara itu melalui pengujian massal yang cepat, pengendalian wilayah yang ketat, serta pembatasan perjalanan.

 

 
Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *