Iran dan Taliban, Musuh Bebuyutan yang Saling Mendekat Demi Kepentingan Politik

Iran dan Taliban, Musuh Bebuyutan yang Saling Mendekat Demi Kepentingan Politik

Taliban tadinya dibiayai oleh Arab Saudi. Tapi kemudian Saudi menghentikan pendanaan mereka setelah Amerika Serikat melakukan tekanan terhadap Saudi. Taliban pun mulai mencari mitra baru, dan Iran menjadi jawabannya.

 

Dalam pembicaraan Taliban-Iran di Teheran, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, mengatakan kepada delegasi Taliban bahwa "Strategi Amerika Serikat adalah mendukung berlanjutnya kekerasan dan perang antarkelompok di Afghanistan dalam spektrum politik," demikian menurut kantor berita negara Iran IRNA.



Kepala Biro Politik Taliban Abdul Ghani Baradar mengatakan: "Kami tidak percaya dengan Amerika Serikat, dan kami akan melawan kelompok mana pun yang memasok layanan tentara bayaran untuk AS."

Pembicaraan antara Taliban dan Iran belakangan ini tidak lagi dianggap sebagai hal yang luar biasa. Tapi hubungan kedua pihak sebelumnya memang tidak sedekat saat ini. Sebaliknya, keduanya adalah musuh bebuyutan. Tahun 1998, Iran bahkan hampir saja melancarkan serangan militer terhadap Taliban, menyusul serangan militan Afghanistan dan Pakistan yang menewaskan 11 warga Iran, termasuk beberapa diplomat di kota Mazar-i-Sharif, Afghanistan utara.


Jalan panjang mencari dan menemukan mitra baru

Setelah serangan teror di New York dan Washington pada 11 September 2001, Amerika mengatakan pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden bertanggung jawab atas peristiwa 9/11 tersebut.

Pada saat itu, bin Laden tinggal di Afghanistan dan para pemimpin Taliban menolak menyerahkannya. Tindakan ini mendorong AS, bersama berbagai pihak dari Afghanistan berperang menggulingkan rezim Taliban.

Rezim memang runtuh, tapi Taliban terus berperang melawan pemerintah baru yang didukung Barat di Kabul, serta melawan tentara Afghanistan dan sekutu NATO-nya.

Taliban tadinya dibiayai oleh Arab Saudi. Tapi kemudian Saudi menghentikan pendanaan mereka setelah Amerika Serikat melakukan tekanan terhadap Saudi dan sekutu dekatnya di kawasan itu. Taliban pun kemudian mulai mencari mitra baru, dan Iran menjadi jawabannya.
 
Demi kepentingan politik bersama, Syiah-Sunni pun bersatu

Awalnya, hubungan baru Iran-Taliban ini kelihatannya tidak terlalu menjanjikan. Dalam hal keimanan meski sama-sama muslim paham yang dianut keduanya sangat berbeda.

Iran menganggap dirinya sebagai pelindung dan pemimpin Syiah, sedangkan Taliban mendukung interpretasi Sunni fundamentalis atas Islam. Tetapi kini perbedaan ini tidak lagi penting, demikian menurut Hamidreza Azizi dari Institut Jerman untuk Keamanan dan Masalah-masalah Internasional (SWP) di Berlin, Jerman.

"Jelas bahwa kedua belah pihak mengambil pendekatan yang sangat pragmatis. Dari sudut pandang Iran, Taliban terlalu berpengaruh untuk diabaikan. Sebaliknya, Taliban tidak mengabaikan keyakinan radikal mereka tapi mereka juga menunjukkan kesediaan untuk memainkan peran politik. Itu juga jelas (terlihat) dari pembicaraan mereka dengan Amerika Serikat tentang masa depan Afghanistan. Dan, pada gilirannya, ini adalah alasan bagi Iran untuk mempertahankan kontak dengan Taliban."

"Perkembangan itu adalah alasan lain mengapa Teheran tidak ingin kehilangan kontaknya dengan Afghanistan," ujar Azizi. Namun, hubungan ini tidak menghentikan pemerintah Iran untuk mempertahankan hubungan diplomatik dengan pemerintah resmi di Kabul.

"Pimpinan Iran jelas berpendapat bahwa tanpa kontak dengan semua pihak di Afghanistan, kepentingan mereka bisa terancam jika ada pergeseran kekuasaan di masa depan," tambah Azizi.

ISIS jadi musuh bersama

Iran dan Taliban punya banyak kepentingan yang sama. Keduanya berjuang agar AS menarik penuh militernya dari Afghanistan dan keduanya berperang melawan ISIS yang juga telah menginjakkan kaki di Afghanistan.

"Iran prihatin bahwa ketidakstabilan yang terus berlanjut di Afghanistan akan memberi lebih banyak ruang bagi ISIS dan kelompok radikal lainnya untuk bermanuver dan berpotensi membahayakan keamanan perbatasan timur Iran," kata Hamidreza Azizi. Dia mengatakan itulah mengapa Teheran memandang penting untuk menekan pemerintah Afghanistan dan Taliban agar dapat mencapai kompromi.
 
 
dw, zid
Tags:

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *