fbpx
Menghitung Untung-Rugi Negara Penyelenggara Euro 2020

Menghitung Untung-Rugi Negara Penyelenggara Euro 2020

Jika di masa normal, penjualan tiket akan menjadi ajang perebutan bagi penggemar sepakbola dan keuntungan besar bagi penyelenggara, kali ini UEFA malah harus mengembalikan banyak tiket yang sudah dibeli, karena banyak negara Eropa masih memberlakukan pembatasan kedatangan wisatawan dari luar negeri.



Selain di Roma, putaran piala Eropa akan bergulir di kota Amsterdam, Baku, Kopenhagen, St. Petersburg, Bukarest, Budapest, Sevilla, Muenchen, Glasgow, dan London, yang akan menampilkan nomor final di stadion legendaris Wembley.


Menghitung untung-rugi jadi penyelenggara

Piala Eropa 2016 yang diadakan di Prancis menurut studi dari Pusat Penelitian Hukum dan Ekonomi Olahraga (CDES) dan konsultan ekonomi KENEO, telah mendorong kegiatan ekonomi di negara itu dengan keuntungan sekitar 1,2 miliar euro.

Ketika itu, sekitar 600 ribu pengunjung dari berbagai negara datang dan menginap di Prancis rata-rata selama delapan hari, dan masing-masing dengan pengeluaran rata-rata sampai 154 euro per hari. Untuk mempersiapkan turnamen itu, Prancis juga menginvestasikan sekitar 200 juta euro untuk peningkatan infrastruktur.

Tapi Euro 2020 adalah cerita lain.Turnamen yang tersebar di 10 negara ini akan memiliki dampak ekonomi yang berbeda-beda di masing-masing lokasi.

Dublin misalnya, menurut studi konsultan ekonomi EY-DKM dari tahun 2019 yang dipesan oleh Dewan Kota, mengharapkan keuntungan ekonomi sampai 106 juta euro dari penyelenggaraan Euro 2020. Tapi studi itu dibuat sebelum ada pandemi. Bulan April lalu, UEFA memutuskan untuk mencoret kota itu sebagai penyelenggara karena situasi pandemi yang belum aman dan peraturan ketat yang diberlakukan Irlandia untuk meredam infeksi Covid-19.

Tetap menguntungkan bagi UEFA

Bagi UEFA sendiri, Euro 2020 tetap menguntungkan, karena banyaknya dana sponsor dan penjualan hak tayang di televisi dan media elektronik lain. Tapi bagi para fans sepakbola, kejuaraan Piala Eropa kali ini bisa jadi cerita perjalanan yang paling rumit. Karena di setiap negara penyelenggara ada aturan berbeda, dan kapasitas stadion yang boleh digunakan untuk penonton juga berbeda-beda.

Para fans yang ingin membela tim favoritnya harus rela melakukan perjalanan dan mengambil risiko aturan karantina, melakukan tes Covid-19 dan menghadapi pembatasan moda transportasi, terutama di London yang akan menggelar nomor final. Hotel-hotel dan bar, yang biasanya menjadi tempat berkumpul para fans sepakbola, juga akan menerapkan aturan ketat.

Secara ekonomi, Euro 2020 memang tidak bisa dibandingkan dengan turnamen-turnamen sebelumnya. Tapi gambaran lengkap untung-ruginya kemungkinan baru bisa diketahui tahun depan, antara lain dalam laporan keuangan UEFA. Sekalipun UEFA masih tetap akan mengeruk keuntungan besar, yang hanya bisa diimpikan oleh para pemilik bar, hotel, dan restoran di kota-kota tuan rumah.
Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *