fbpx
Kenapa Rusia Antisipasi Perang Berikutnya Bisa Terjadi di Afghanistan?

Kenapa Rusia Antisipasi Perang Berikutnya Bisa Terjadi di Afghanistan?

Moskow punya kenangan buruk tersendiri terkait intervensi mereka yang gagal di Afghanistan.



Pada tahun 1979, pasukan Uni Soviet menyerbu Afghanistan untuk membantu pemerintah komunis di negara itu dalam memerangi kelompok pemberontak Islamis yang dikenal sebagai Mujahidin. Operasi militer yang seharusnya cepat itu akhirnya berlarut-larut selama hampir satu dekade, merenggut banyak nyawa dan menguras banyak biaya di pihak Uni Soviet. Segera setelah pasukan mereka mundur, rezim komunis Afghanistan runtuh.

 

Kemenangan Taliban membuat khawatir Moskow yang memiliki trauma tersendiri terkait Afganistan dari era Uni Soviet itu. Juga ada risiko perang baru akan pecah, bisa membuat Rusia dan Asia Tengah akan terkena dampaknya. Salah satu perhatian utama Rusia saat ini adalah untuk mencegah "migrasi" paham ekstremis ke negara-negara sekutunya di Asia Tengah.

 
Dikutip dari Deutsche Welle, Kanselir Jerman Angela Merkel pada hari Jumat (20/8) meminta Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mendukung upaya menyelamatkan keamanan rakyat Afghanistan setelah pengambilalihan Taliban.
 
Dan Putin pun meminta masyarakat internasional untuk mencegah 'malapetaka' Afghanistan.

"Gerakan Taliban menguasai hampir seluruh wilayah negara itu," kata Putin. "Ini adalah kenyataan dan dari kenyataan inilah kita harus mencegah malapetaka Afghanistan." 

Menurut Andrey Kazantsev, ahli Afghanistan dan direktur Pusat Analisis di Institut Hubungan Internasional Nega ra Moskow, MGIMO, peristiwa baru-baru ini di Afghanistan dianggap di Moskow sebagai "Vietnam kedua." Namun, Kremlin tetap waspada, karena kemenangan Taliban berpotensi menjadi model bagi kelompok-kelompok garis keras.

Pakar Afghanistan lainnya yang berbasis di Moskow, Andrey Serenko, tidak berpikir bahwa Rusia bisa dengan mudah mencapai kesepakatan dengan Taliban. "Garis antara Taliban dengan al-Qaeda di Afganistan sangat cair," ujarnya.

Dia juga memperingatkan kemungkinan bangkitnya mitos baru setelah kemenangan Taliban, yang pada gilirannya memicu kelompok-kelompok radikal di Rusia.

Tapi Moskow memang lebih siap menghadapi perkembangan terakhir daripada Barat, kata Andrey Kazantsev, "Rusia memang mempersiapkan lebih baik daripada yang lain," dia menegaskan.

Andrey Kazantsev mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri Rusia bekerja berdasarkan prinsip "tidak perlu mempertahankan Asia Tengah dengan kekuatan senjata." Rusia juga rajin berkonsultasi "dengan pemain regional utama seperti China, Iran, Pakistan, dan India." 
 
Dia menjelaskan, kontak diplomatik itu penting, karena ada risiko bahwa perang saudara baru akan pecah, dan Rusia serta Asia Tengah akan terkena dampaknya.

Wolfgang Richter, pensiunan kolonel di Institut Jerman untuk Urusan Internasional dan Keamanan SWP di Berlin, menjelaskan bahwa Rusia memang tidak pernah mengikuti "ilusi Barat" yang ingin membangun negara demokratis yang menghormati hak-hak perempuan di Afghanistan.

Meskipun kata Richter, dia tidak percaya bahwa Moskow benar-benar santai melihat pengambilalihan Taliban.
 
Moskow menjalankan "strategi ganda", jelasnya.

Di satu sisi, Rusia akan mencari kesepakatan dengan Taliban untuk mencegah kelompok militan itu mendukung al-Qaeda di Asia Tengah, pada saat yang sama, Rusia akan memperkuat (membeking) republik-republik Asia Tengah jika terjadi bentrokan (dengan pasukan rezim Taliban) di perbatasan Afghanistan.
 
Tapi "Tidak ada gunanya panik,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada 16 Agustus, sehari setelah Taliban merebut Kabul. Dia mengatakan Kedutaan Besar Rusia akan terus beroperasi seperti biasa.

“Kami tetap tertarik pada penyelesaian yang cepat, damai dan upaya stabilisasi berikutnya di Afghanistan serta pemulihan pasca-konflik,” tambahnya.

“Kami ingin menggarisbawahi bahwa Federasi Rusia hanya akan berinteraksi dengan kekuatan politik di Afghanistan yang tidak berhubungan dengan teroris, terutama ISIS dan al-Qaida dan kelompok-kelompok afiliasi mereka,” kata Nebenzya.

Kremlin ingin melindungi keamanan dan kepentingan ekonominya di Afghanistan dan akan cukup pragmatis untuk menyikapi Taliban dalam mencapai tujuan itu.
 
 
dw, voa, zid

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *