fbpx
Skenario 'Ikatan China' dalam Segitiga Taliban-Pakistan-Iran

Skenario 'Ikatan China' di Afghanistan

Dikutip dari South China Morning Post, Presiden Xi Jinping berkomitmen mendukung Iran dalam negosiasi nuklir menghadapi AS dan sekutunya, dan menekankan tekad China untuk mengembangkan hubungan di antara kedua negara. Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan kepada Presiden Xi Jinping, Iran siap untuk bekerjasama dengan China dalam "membangun keamanan, stabilitas dan perdamaian" di Afghanistan.


Iran menyatakan memiliki “kepentingan dan tuntutan bersama” dengan China di Afghanistan dan “siap untuk memperkuat koordinasi dan kerja sama”, menurut pernyataan kantor Presiden Raisi.

“Presiden menyatakan bahwa Republik Islam Iran siap bekerja sama dengan China dalam membangun keamanan, stabilitas dan perdamaian di Afghanistan dan berkontribusi pada pembangunan, kemajuan dan kemakmuran bagi rakyat negara itu,” katanya.

Iran ingin membangun pijakan geopolitik di Afghanistan. Untuk tujuan ini, telah mulai membangun hubungan dengan faksi-faksi politik Afghanistan. Iran melihat Afghanistan sebagai ancaman terhadap keamanannya, tetapi juga sebagai peluang untuk memperluas perdagangan dan aksesibilitas ke pasar Asia Tengah.

Untuk itu, Iran cenderung bekerja diam-diam di Afghanistan, menggunakan soft power untuk menyebarkan pengaruhnya. Perjanjian China-Iran termasuk memperdalam kerjasama militer melalui berbagi informasi intelijen.

Paralel dengan itu, China dan Pakistan meningkatkan komunikasi dan koordinasi mengenai Afghanistan sebagai dua tetangga penting, untuk memainkan peran konstruktif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan China dan Pakistan perlu berkoordinasi untuk mendukung transisi yang stabil di Afghanistan, dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi.

Wang mengatakan apa yang disebut transformasi demokrasi AS terbukti tidak realistis, yang hanya membawa konsekuensi yang menyakitkan, dan pelajaran darinya patut diingat dan dipelajari.

China dan Pakistan perlu memainkan peran konstruktif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional, kata Wang, termasuk mendorong semua pihak Afghanistan untuk memperkuat solidaritas dan membangun struktur politik yang inklusif.

Menlu Pakistan Qureshi mengatakan semua pihak harus mendukung Taliban melaksanakan komitmennya dan melindungi hak dan kepentingan rakyat Afghanistan.

Kemitraan kerjasama strategis segala kondisi antara China dan Pakistan memungkinkan kedua negara untuk bertindak dalam segala situasi di Afghanistan.
 

Taliban berharap akan mendapatkan banyak uang melalui kemitraan dengan China, kata Dr Charles Miller, dosen senior hubungan internasional di Universitas Nasional Australia.

“China telah membuat tawaran kepada Taliban. Saya pikir orang China ingin memulai bisnis dengan Taliban dan salah satu alasannya adalah Afghanistan memiliki sumber daya alam yang cukup banyak, terutama tembaga, biji besi dan lithium yang digunakan untuk baterai,” katanya kepada news.com.au.

“Meskipun cadangannya tidak sebesar yang dimiliki Australia, jika China dan Taliban bersahabat, China memiliki sumber yang lebih dekat lebih murah dan lebih dapat diandalkan daripada impor dari Australia (dan Filipina/Indonesia/Asia Tenggara), jadi saya pikir itu tidak mengejutkan.” kata Dr Miller.

 

China membutuhkan Taliban 'dikawal' Iran dan Pakistan untuk menambang sumber daya alam Afghanistan dan membawanya ke China.

 

Kepentingan China yang Sangat Penting Lainnya

 

Kantor berita Xinhua melaporkan China mengumumkan bantuan keuangan untuk pemerintahan Taliban. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Taliban memutuskan hubungan dengan kelompok yang disebutnya teroris Gerakan Islam Turkestan Timur yang dituduhnya melakukan serangan di Xinjiang.

 

Turkestan Timur adalah Xinjiang, sebuah kawasan besar yang luasnya setara tiga pulau Sumatra, atau sama dengan Pakistan dan Afghanistan digabung jadi satu. Sejak dulu, Xinjiang merupakan wilayah penting yang diperebutkan.

Muslim Uyghur sudah turun temurun hidup di Xinjiang yang secara resmi dikenal sebagai Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang (XUAR).

 
Cadangan minyak dan gas terbesar ada di Xinjiang selatan (Tarim Basin), tempat Muslim Uyghur sejak dulu menetap di bawah sistem pemerintahan tradisional yang disebut Khanate atau Khaganate.
 
Jaringan pipa gas dan minyak dari Xinjiang ke Shanghai

Uyghur berbicara dalam bahasa mereka sendiri, yang mirip dengan bahasa Turki, dan melihat diri mereka sebagai budaya dan etnis yang dekat dengan negara-negara Asia Tengah.
 
Gerakan Islam Turkestan Timur yang juga mendeklarasikan diri sebagai Partai Islam Turkestan memperjuangkan kemerdekaan Xinjiang sebagai negara Turkestan Timur.

Kelompok tersebut berusaha untuk melakukan pemberontakan di Xinjiang, rumah bersejarah bagi Muslim Uyghur, yang tertindas sejak di bawah kekuasaan Partai Komunis China pada pertengahan abad ke-20.

 

"Turkestan Timur adalah tanah Uyghur," kata juru bicara Partai Islam Turkestan kepada Newsweek. "Setelah pemerintah China menduduki tanah air kami dengan paksa, mereka memaksa kami meninggalkan tanah air kami dengan penindasan mereka terhadap kami. Seluruh dunia tahu bahwa Turkestan Timur selalu menjadi tanah Uyghur," ujarnya.

 

"Kami bukan teroris seperti tuduhan pemerintah China yang menindas orang tak bersalah," lanjutnya "Pemerintah China harus meninggalkan tanah Turkestan Timur melalui jalan damai."

 

Jika tidak, "kami akan memilih perjuangan bersenjata."

 

 
scmp/globaltimes

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *