fbpx
Bersiap Meletusnya Perang di Laut China Selatan

Angkatan Laut Berbagai Negara Sudah Berkumpul di Laut China Selatan

Angkatan Laut dari berbagai negara telah berkumpul di wilayah perairan Laut China Selatan. Sejumlah kesepakatan telah dicapai untuk menghadang agresi militer China di Laut China Selatan.



Laut China Selatan adalah jalur perairan strategis yang dilalui oleh sepertiga pelayaran dunia, mulai 1 September 2021 China menyatakan mengontrol penuh semua kapal yang melaluinya.

 

"Kita semua adalah negara yang berpikiran sama, mendukung gagasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," kata mantan Komandan Pasukan Amerika Serikat di Indo-Pasifik, Laksamana (purn.) Harry Harris kepada ABC News.

 
"Kita semua harus khawatir dengan tindakan agresif China, tidak hanya di Laut China Selatan, tetapi juga di tempat lain," tambahnya.

China umumkan aturan baru

Mulai 1 September 2021, China menyatakan pasukan penjaga pantai negaranya sudah diberi kewenangan untuk menuntut kapal asing melaporkan isi kargonya saat melewati Laut China Selatan yang mereka klaim.

Laksamana (purn.) Harry Harris dari AS menyebut Australia dan sekutunya perlu melawan langkah agresif China di Laut China Selatan.(Reuters: Yuri Gripas)

Harian Global Times melaporkan Angkatan Laut atau Penjaga Pantai China kini "berwenang untuk menghalau atau menolak masuknya kapal jika ditemukan akan menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional China".

Tapi hal ini ditafsirkan sebagai ancaman terhadap pelayaran bebas di kawasan yang menurut PBB merupakan perairan internasional.

Pasukan penjaga pantai Filipina semakin sering menemukan kapal-kapal milisi China yang beroperasi sebagai kapal pencari ikan.(AP via Philippine Coast Guard)

Seperti halnya China yang melakukan tekanan ekonomi ke Australia, di laut lepas sebuah kapal China dapat menargetkan kapal negara tertentu sebagai sinyal bagi yang lain.

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana kepada CNN menyatakan marah atas aturan baru itu karena dapat menyebabkan salah perhitungan di lapangan.

Mantan wakil kepala Organisasi Intelijen Pertahanan Australia, Michael Shoebridge, menyebut aturan baru itu sebagai "intimidasi dan paksaan dari China".

Mantan deputi kepala badan intelijen pertahanan Australia Michael Shoebridge.(ABC News)

"Masalah sebenarnya yaitu komandan kapal dan pesawat China di lapangan bisa berpikir bahwa mereka hanya melakukan apa yang diinginkan Xi Jinping, dengan menciptakan konfrontasi dan eskalasi," kata Shoebridge.

"Lantas akan ada masalah kebanggaan nasional, menyelamatkan muka, nasionalisme, bila sebuah peristiwa terjadi, para pemimpin merasa sulit untuk mundur," katanya.

Tekanan internasional meningkat

Laut China Selatan adalah jalur perairan strategis yang dilalui oleh sepertiga pelayaran dunia yang bernilai sangat besar dalam perdagangan dunia.

China telah memperkuat dirinya di lebih dari 20 pulau di wilayah tersebut melalui pangkalan Angkatan Laut dan Angkatan Udara atau melalui patroli berkelanjutan.

China mengklaim mayoritas wilayah perairan di Laut China Selatan, namun klaim ini tak diakui oleh semua negara terkait.(ABC News: Illustration/Jarrod Fankhauser)

Mengabaikan keputusan PBB, China terus mengklaim apa yang disebut sebagai "Sembilan Garis Terputus" di perairan lepas pantai sejumlah negara ASEAN.

Penjaga Pantai China telah mengancam dan melecehkan nelayan dari negara ASEAN ini sambil mendukung tindakan milisi armada penangkap ikannya sendiri.

Sekarang Amerika Serikat, Eropa, bebrapa negara ASEAN, Jepang dan Australia melakukan aksi balasan.

Inggris telah mengirim armada perang Kapal Induk ke wilayah tersebut, dipimpin oleh kapal induk HMS Elizabeth dengan kapal perang Belanda di sampingnya.

Jet tempur AS telah melakukan latihan untuk menguji jika terjadi krisis.

Prancis melakukan hal serupa dan Jerman bersiap mengirim kapal perangnya ke sana.

AL Jepang dan AL Australia melakukan latihan bersama di Laut China Selatan (Japan Maritime Self-Defense Force)

"Kita akan melihat peningkatan kehadiran Angkatan Laut dan pengawasan udara dari negara-negara kuat, terutama Eropa di Indo Pasifik,” kata Shoebridge.

"Ini reaksi terhadap tumbuhnya kekuatan China, tetapi juga cara China menggunakan kekuatan itu. Mereka pastinya mendapatkan penolakan karena bagian dunia itu bukan milik China," tambahnya.
 
 
ABC News, Zamane

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *