Mari Jihad Ekonomi Mengatasi Kemiskinan dan Keterbelakangan

Jihad Ekonomi Mengatasi Kemiskinan dan Keterbelakangan

Sumanto al Qurtuby
 

Kita tahu di antara misi Nabi Muhammad adalah untuk menyelamatkan rakyat kecil yang tertindas oleh gempuran sistem sosial-politik-ekonomi yang diskriminatif kala itu. Pada zaman itu, sumber-sumber ekonomi hanya dikuasai oleh segelintir kapitalis yang mempunyai modal kuat, sementara rakyat banyak tetap hidup dalam penderitaan.

 

Di tengah kultur Arab yang arogan dan penuh dengan ketidakadilan sosial, penindasan terhadap kaum lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak, diskriminasi suku dan gender, pemupukan kapital, pemusatan kekuasaan dan lain-lain yang semuanya mengarah pada struktur sosio-ekonomi bangsa Arab yang menindas kala itu, Nabi Muhammad hadir dengan sejumlah gagasan cemerlang, egaliter, dan reformatif.


Kehadiran Nabi Muhammad dengan missi Islam-nya adalah untuk membebaskan manusia. Meminjam istilah Al-Qur'an, dari "kegelapan” (zulumat) menuju "cahaya” (nur), yakni dari sistem sosial-politik-ekonomi yang diskriminatif dan menindas menuju sebuah sistem yang berkeadilan sosial. Inilah, antara lain, yang menjadi missi Islam sebagaimana tersirat dalam QS al-A'raf: 157 dan QS al-Hasyr: 7. Karena itulah jika ada kelompok umat Islam di dunia modern ini hendak membangun "sistem kelas” yang hierarkhis atau sistem ekonomi yang tidak adil, maka berlawanan dengan roh atau spirit ajaran Islam ini.

Mengembangkan konsep jihad kontemporer

Saatnya kaum Muslim mengembangkan konsep jihad dalam konteks kontemporer konstruktif dan kontekstual, untuk mengatasi problem-problem mendasar umat Islam dewasa ini mulai dari kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan seterusnya.

Apa yang dilakukan oleh peraih nobel perdamaian tahun 2006, Muhammad Yunus dari Bangladesh, yang telah membantu mengatasi masalah kemiskinan dan problem ekonomi jutaan rakyat Bangladesh dan negara-negara lain melalui Grameen Bank-nya adalah salah satu bentuk jihad yang perlu diteladani oleh tokoh dan kaum Muslim lain. Tokoh Muslim yang dijuluki "Banker to the Poor” ini percaya, bahwa pengentaskan kemiskinan adalah salah satu cara efektif untuk menciptakan perdamaian di muka bumi.

Demikian juga apa yang dilakukan oleh Abdul Sattar Edhi melalui "Edhi Foundation” di Pakistan. Yayasannya membantu mengentaskan masalah kemiskinan dan problem keumatan lain baik di Pakistan maupun di negara-negara lain. Ini adalah contoh lain dari implementasi jihad yang positif dan membangun. Umat Islam Indonesia seharusnya mencontoh tokoh-tokoh seperti mereka. Bukan tokoh-tokoh Muslim yang hobi mengibarkan perang dan permusuhan kepada umat atau kelompok yang berbeda pandangan politik dan keagamaan.

Salah satu problem mendasar umat Islam di dunia ini adalah kemiskinan. Fakta ini tidak bisa dipungkiri. Hanya segelintir negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim, yang cukup makmur dan maju dalam hal perekonomian dan industri. Itupun kebanyakan karena negara-negara ini (misalnya Brunei atau negara-negara di kawasan Arab Teluk) didukung oleh faktor sumber daya alam yang melimpah. Bukan oleh sumber daya manusianya.

Sudah semestinya para tokoh, komunitas atau ormas berbasis Muslim khususnya, untuk berkerja sama dan bahu-membahu memperjuangkan perbaikan kondisi umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia pada umumya. Untuk bersama-sama mengentaskan mereka yang masih tertinggal dan terbelakang di bidang ekonomi maupun pendidikan. Jangan sebaliknya, malah berkelahi sendiri-sendiri dengan mengatasnamakan kaum Muslim tertentu, ideologi tertentu, mazhab tertentu, kelompok Islam tertentu, dlsb. Semangat "aliranisasi” harus diminimalisir untuk kemudian fokus pada kepentingan dan kebutuhan rakyat secara luas. Ingat bahwa kesejahteraan rakyat akan berdampak positif dan menjadi salah satu "ingredient” (ramuan, rempah) bagi perdamaian, keamanan, dan stabilitas sosial di masyarakat, bangsa dan negara.


Sumanto al Qurtuby Dosen Antropologi Budaya dan Kepala Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Senior Scholar di National University of Singapore. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University serta telah menulis ratusan artikel ilmiah dan puluhan buku, antara lain Religious Violence and Conciliation in Indonesia (London & New York: Routledge, 2016).

 

 

Bagikan Via Line, WhatsApp, Twitter, Facebook

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *