fbpx
Harga gandum dan jagung di pasar global turun, setelah dimulainya ekspor gandum dan jagung Ukraina yang difasilitasi Turki dan PBB, dan kesepakatan terbaru Putin-Erdogan: ekspor hasil pertanian bebas hambatan dari Rusia melalui Turki.
Berbicara tentang diabetes, ada satu kondisi yang selalu mengiringinya, yaitu kadar gula darah...
Desa Turtuk adalah bagian dari Pakistan hingga tahun 1971. Saat perang perbatasan, tentara India...
Ada ribuan triliun planet memenuhi alam semesta. Temuan ini berdasarkan model tiga dimensi dari...
Di Skotlandia ada proyek perumahan untuk warga bokek yang tak punya tempat tinggal. Social Bite...
Tentang Puisi dan Rezim yang Tergopoh Kedodoran

Kisah Sepotong Puisi dan Rezim yang Tergopoh Kedodoran


Sebagaimana tergambar dalam film The Disappearance of Garcia Lorca, wajah Lorca yang halus nan klimis itu tengadah ke hening malam yang diseraki gemintang. Tenang. Secual pun tak ada tanda was-was. Karena itulah sang algojo tak sanggup tarik pelatuk. Algojo itu jengkel, sebab ia ingin sekali, bahkan terobsesi, melihat penyair Andalusia yang necis itu meratap ketakutan, dan memohon-mohon untuk diampuni.

Obsesi algojo itu ternyata tak terkabul.

Dalam hal Andalusia dan rezim diktatornya, juga bagi setiap rezim mana pun yang terkaing-kaing bernafsu untuk setotalnya berkuasa, maka kekuasaan akan selalu nampak tergopoh-gopoh, dan karenanya kedodoran. Sebab, seketat apa pun kontrol, sekeras apa pun penindasan, dan seperih apa pun tekanan yang ditanggung, toh rakyat lemah masih bisa melawan, meski itu minimum. Dengan mengutuk dan menyumpahi dalam hati, misalnya. Jika berjuta kutukan setiap hari?

Dalam hal Lorca, ia melawan lewat puisi. Barangkali karena tahu bahwa maut sudah tak mungkin lagi ditampik, maka takut pun sudah tak berarti lagi baginya. Puisi terakhir Lorca (“where my moon”) karenanya adalah satire, sebungkus kado terakhir berisi cibiran untuk kekuasaan yang tampak kedodoran.

Itu dulu. Hari ini, di manakah puisi?

Hari ini bukan tahun ’45, saat ketika kata-kata besutan Chairil Anwar, “Bung, Ayo Bung!”, terpacak di gerbong sepur Djakarta-Soerabaja. Bukan ’66 saat puisi-puisi Tirani dan Benteng-nya Taufik Ismail beredar stensilan di jalanan Jakarta. Keduanya pada zamannya sama-sama punya daya pukau yang menggerakkan heroisme.

Hari ini puisi dan penyair tampak ganjil dan asing. Ia ganjil karena tak menyenandungkan tentang hidup yang menempatkan “nilai guna dan “nilai tukar” di atas segalanya. Penyair juga aneh, sebab di tengah hidup yang silau gemerlap pusat-pusat belanja, ia masih saja berbicara tentang ilalang, langit pagi seusai hujan dengan sisa kabut yang enggan beranjak, dan tentu saja tentang bulan yang berenang di lautan. Tetapi jangan remehkan, puisi tetap berpotensi tak terduga.

Barangkali kita perlu menonton Deads Poets Society. Di film itu, sejumlah anak muda mengalami transformasi besar setelah kedatangan seorang guru sastra yang dengan memikat berhasil menghadirkan puisi dalam bentuknya yang paling hebat: penuh daya pukau dan juga penuh kemungkinan. Anak-anak muda itu lalu menghambur ke alam imajinasi dan kebebasan.

Puisi adalah “dunia yang serba mungkin”, penuh rahasia, penuh kelokan dan ironi. Dunia macam itu digerakkan oleh semangat untuk terus mencoba dan menjajal segenap rahasia hidup.


Kebebasan menjadi penting di sana. Tak ada otoritas yang bisa menentukan sesuatu. Semua jenis kekangan dicairkan karena umat dari dunia puisi hanya melantunkan perasaan hatinya.

 

 
zid, zen, pejalan jauh
Tags:

Please publish modules in offcanvas position.