fbpx
Ketika Rakyat Menyaksikan Ketidakwarasan Politik

Ketika Rakyat Menyaksikan Ketidakwarasan Politik

Warga negara tidak bisa disalahkan jika mereka makin muak pada tatanan politik yang makin memburuk, dan warga negara yang apatis hanya bisa bergerak ke arah bawah sadar, lalu oleh suatu momentum (mungkin) akan meledak dalam kemarahan massal.


Itu adalah situasi di negara dengan iklim politik beracun yang memiliki efek "mematikan akal sehat" ruang publik, alih-alih memberinya energi positif.

 

Ketika secara real time dapat disaksikan ketidakwarasan politik yang membuat publik mual. 

 
Dengan meningkatnya jumlah warga negara yang menjauhi partai politik, hasilnya adalah kekosongan di mana orang tidak lagi tahu ke mana harus merujuk untuk nilai-nilai demokrasi yang vital seperti kebebasan, kemakmuran, dan hegemoni nasional. 
 
Ketika masyarakat menjadi tidak percaya lagi pada apa yang dulu memberi mereka harapan dan janji, hasilnya adalah bahwa masyarakat merasa hampa. Karena para pelaku politik melakukan praktik-praktik terburuk perilaku manusia sambil pada saat yang sama mencari dukungan publik.

Tampaknya ketika satu pihak yang mengejar kekuasaan memanfaatkan cara gelap untuk mencapai tujuan mereka, hal itu pasti akan menyebabkan lawan politiknya mengambil tindakan serupa untuk bersaing. Namun begitu, standar tinggi demokrasi akhirnya dikompromikan dan cita-cita bangsa menjadi ternoda. Para elit politik memandang hal ini sebagai hal yang tak terhindarkan dengan pilihan: partai harus menjadi kuat atau binasa. 
 
Hingar bingar media sosial dan pengerahan buzzer memungkinkan terjadinya perang retorika dan tawuran kata-kata di antara sesama warga. Isu pun silih berganti seperti gigitan nyamuk. Sementara di lapis bawah, apatisme kian merayap.

Dulu revolusi sebagai periode episodik kemarahan dalam sejarah, di mana cukup banyak kecemasan telah membangun amarah untuk menggulingkan penguasa dan membawa perubahan.

 

Kita memahami bahwa revolusi di era globalisasi modern juga dapat mengambil arah perubahan dengan jalannya sendiri.  

 
Akankah penguasa dan para elit politik menyadari semua ini? 
 
 
Glen Pearson
Editor: Siti Rahmah @MajalahZamane

Glen Pearson pernah menjadi co-direktur London Food Bank selama 32 tahun. Dia menulis secara teratur untuk London Free Press dan juga membagikan pandangannya di blog  "Parallel Parliament"
 
 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *