fbpx
Dulu AS vs Soviet, Sekarang AS vs China

Dulu AS vs Soviet, Sekarang AS vs China

Dulu, di era perang dingin, ada blok "timur" dan blok "barat" dan negara-negara terkondisikan apakah mereka lebih dekat ke Washington atau Moskow. Sekarang, meningkatnya ketegangan antara AS dan China menciptakan kembali garis pemisah geopolitik. 
 
Dan negara-negara semakin terkondisikan untuk memperjelas apakah mereka mendukung Washington atau Beijing.
 
Oleh AS, proyek investasi besar China sekarang secara rutin dipindai untuk implikasi strategisnya. Fakta bahwa perusahaan China banyak berinvestasi di pelabuhan di seluruh dunia terlihat melalui prisma persaingan strategi menguasai laut yang muncul dengan AS. Dan ekspansi internasional Huawei, perusahaan telekomunikasi China, telah menjadi bagian dari pertarungan yang lebih luas atas supremasi teknologi dan spionase. 
 
Amerika telah meminta sekutu mereka untuk tidak mengizinkan Huawei menjalankan jaringan 5G, dengan alasan bahwa ini akan menjadi risiko keamanan yang tidak dapat ditoleransi.
 
Beberapa sekutu utama AS, termasuk Jepang dan Australia, telah mengikuti sikap Amerika terhadap Huawei. 
 
Terjepit antara Washington dan Beijing bisa sangat tidak nyaman. 
 
Ketika Kanada mematuhi permintaan ekstradisi Amerika dan menangkap Meng Wanzhou, kepala keuangan Huawei, reaksi China sangat sengit. Dalam beberapa hari, warga Kanada ditangkap di China, dan eksekutif Kanada sekarang waspada bepergian ke sana. Demikian pula, ketika Korea Selatan menyetujui permintaan AS untuk menyebarkan sistem anti-rudal Amerika yang disebut Thaad, turis China diarahkan menjauh dari Korea Selatan dan jaringan supermarket Lotte, peritel Korea Selatan, ditutup di daratan China.
 
Fakta bahwa China semakin berani memberikan tekanan langsung pada sekutu AS adalah bukti meningkatnya kepercayaan diri Beijing. Itu, pada gilirannya, mencerminkan pergeseran kekuatan ekonomi. Namun tentu saja itu membuat AS dan sekutunya makin menggalang kekuatan.
 

Ada kesepakatan partai Republik dan partai Demokrat untuk bersikap keras terhadap China. Perbedaan Trump dan Biden adalah tentang strategi dan taktik. Biden bekerjasama dengan para sekutu AS menjepit China. Berbeda dengan Trump yang membuat keputusan secara sepihak.

 
Dalam perebutan pengaruh dengan China, salah satu kartu truf AS adalah keamanan. Negara-negara termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Jerman sekarang melakukan banyak perdagangan dengan China, tapi mereka semua condong ke Amerika untuk perlindungan militer.
 
China saat ini tidak dalam posisi menawarkan jaminan keamanan bagi negara yang dicengkeram pengaruhnya. Sehingga, dua blok yang muncul tidak mungkin didasarkan pada persaingan aliansi militer seperti dalam perang dingin, ketika Pakta Warsawa berhadapan dengan NATO.
 
Sebaliknya, teknologilah yang bisa menjadi dasar perpecahan global baru. China sudah lama melarang Google dan Facebook. Sekarang AS sedang menjegal Huawei dan raksasa teknologi China lainnya. Dengan meningkatnya kekhawatiran atas kontrol dan transfer data lintas batas, maka negara-negara mungkin semakin berada di bawah tekanan untuk memilih: semesta teknologi AS atau versi China — dan mereka mungkin menemukan bahwa keduanya semakin tertutup satu sama lain.  
 
Data dan komunikasi sekarang menjadi dasar bagi hampir semua bentuk bisnis dan aktivitas militer.
 
Dua blok perang dingin digantikan oleh era globalisasi tetapi sekarang globalisasi mungkin akan terbelah oleh munculnya kembali dua blok dunia. Perang dingin sudah lama berlalu dan kini nampaknya memasuki era 'perdamaian panas'.
 
 
Gideon Rachman, Financial Times
editor: Anita Fransiska @MajalahZamane
 
Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *