fbpx
Membaca Lagi 'Politik Agama' Prof. Dr. Snouck Hurgronje yang Mempengaruhi Perkembangan Islam di Indonesia

Membaca Lagi 'Politik Agama' Prof. Dr. Snouck Hurgronje yang Mempengaruhi Perkembangan Islam di Indonesia

VOC bangkrut akibat korupsi dan dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan utang 136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta daerah kekuasaan. Ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda didirikan pada tahun 1800, agama monoteistik dominan bagi sebagian besar masyarakat adat di Hindia Nusantara adalah Islam. 


Kebanyakan gereja-gereja Kristen berpegang pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial. Protestan dan Katolik misi menunjukkan interpretasi dalam mengikuti strategi pemerintah, tetapi tetap menikmati otonomi yang cukup. Selain itu kolonialisme Belanda tidak pernah didasarkan pada kefanatikan agama. Namun selama abad ke-19 misionaris Kristen menjadi semakin aktif, secara teratur mengarah ke bentrokan atau gesekan, antara Kristen dan Islam dan antara denominasi Kristen yang berbeda.

Hubungan antara pemerintah dan Islam dalam keadaan tidak nyaman. Kekuatan kolonial Belanda menggunakan prinsip pemisahan gereja dan negara dan ingin tetap netral dalam urusan agama. Namun yang sama pentingnya adalah keinginan untuk menjaga perdamaian dan ketertiban yang mana Islam adalah sumber awal inspirasi untuk memberontak melawan pemerintahan kolonial. Motif sosial dan politik terkait dengan keinginan agama berulang kali meledak menjadi kerusuhan dan perang seperti Perang Padri (1821-1837) dan Perang Aceh (1873-1904) di Sumatera.

Gubernur Jenderal kolonial mengandalkan penasihat untuk urusan adat untuk mengelola ketegangan ini. Karena keahliannya dalam bahasa Arab dan Islam, Prof.Dr. Snouck Hurgronje bertugas dalam kapasitas ini antara 1889 dan 1905.

Snouck, yang fasih berbahasa Arab, melalui mediasi dengan gubernur Ottoman di Jeddah, dia diizinkan untuk memulai ziarah ke kota suci Mekkah pada 1885. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dia adalah salah satu sarjana budaya Oriental Barat pertama yang melakukannya.

Dia adalah orang langka asal Barat yang berada di Mekkah, tetapi memeluk budaya dan agama dengan penuh gairah sehingga ia berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa ia masuk Islam. Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg

Snouck pindah ke Hindia Belanda pada tahun 1889. Snouck awalnya ditunjuk sebagai peneliti pendidikan Islam di Buitenzorg dan profesor bahasa Arab di Batavia pada tahun 1890. Meskipun pada awalnya ia tidak diizinkan untuk mengunjungi Aceh di Sumatera, ia menolak tawaran untuk kembali ke Eropa dari Universitas Leiden dan Universitas Cambridge. Pada tahun 1890 ia menikah dengan putri seorang bangsawan pribumi di Ciamis, Jawa Barat. Karena kontroversi pernikahan ini di Belanda, Snouck menyebut pernikahan ini sebagai "kesempatan ilmiah" untuk mempelajari dan menganalisis upacara pernikahan Islam. Empat anak telah lahir dari pernikahan ini.

Snouck Hurgronje menikah 4 kali. Yang pertama adalah dengan seorang wanita di Jeddah. Pada tahun 1890, ia menikah dengan Sangkana, puteri Raden Haji Mohammad Taik, penghulu di Ciamis dan dikaruniai 4 orang anak. Sayang, pada tahun 1896, saat mengandung anak ke-5, Sangkana keguguran dan meninggal bersama bayi yang dikandungnya.

Tak sampai dua tahun kemudian, Snouck Hurgronje menikah lagi. Kali ini dengan Siti Sadiah, puteri Kalipah Apo, wakil penghulu di Bandung. Dari pernikahan itu mereka dikarunai seorang anak bernama Raden Joesoef. Namun setelah itu, Snouck Hugronje dipanggil pulang ke Belanda. Raden Joesoef sendiri memiliki 11 orang anak. Yang paling sulung adalah Eddy Joesoef, pemain bulu tangkis yang pada tahun1958 berhasil merebut Piala Thomas di Singapura.

Dalam laporan tentang situasi agama-politik di Aceh, Snouck sangat menentang penggunaan taktik teror militer terhadap rakyat Aceh dan sebaliknya menganjurkan spionase terorganisir sistematis dan memenangkan dukungan dari elit aristokrat. Namun Ia melakukan dengan mengidentifikasi Ulama yang akan menyerah dengan menunjukkan kekuatan.

Sebuah laporan dari Christian Snouck Hurgronje terhampar di meja gubernur jenderal. Kesimpulan analisisnya, para ulamalah yang menghasut orang-orang Aceh untuk memerangi Belanda guna mempertahankan kepentingan pribadi mereka. Karena itu, satu-satunya cara menumpas perlawanan rakyat Aceh hanyalah dengan membujuk dan mengendalikan para ulama.

Keakraban Snouck dengan Aceh dan bahasa Aceh bermula di Mekah, di mana rumah yang ditempatinya terletak di seberang “hotel” orang Aceh, yang dikunjunginya setiap hari

Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik Divide et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang.

Pada tahun 1898 Snouck menjadi penasihat terdekat Kolonel Van Heutsz dalam "menenangkan" Aceh dan nasihatnya berperan dalam membalikkan keberuntungan Belanda dalam mengakhiri Perang Aceh yang berlarut-larut. Hubungan antara Heutsz dan Snouck memburuk ketika Heutsz terbukti tidak mau menerapkan ide Snouck untuk administrasi dan etika tercerahkan.

Pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Snouck terpaksa membalikkan metode dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Ini menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk.

Tahun 1899, Snouck mendirikan kantor urusan pribumi atau Kantoor voor Inlandsche Zaken. Semacam "litbang" yang memberikan rekomendasi kebijakan mengenai Islam di Indonesia. Mengembangkan upaya-upaya untuk memaharni dan kemudian menaklukkan perlawanan pribumi.

Munculnya Sarekat Islam pada tahun 1912 menjadi kemunculan partai politik di Hindia Belanda pertama yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Menurut Snouck, musuh Belanda di Indonesia bukanlah Islam sebagai agama melainkan Islam sebagai ideologi atau doktrin politik. Ia menyarankan Belanda untuk memberlakukan Islam sebagai "Agama Masjid" sebagaimana di Barat sekularisme telah berhasil menjadikan Kristen sebagai "Agama Gereja". Caranya dengan bersikap longgar terhadap umat Islam dalam menjalankan ibadahnya, salah satunya dengan membantu pengaturan perjalanan haji dan bertindak keras terhadap mereka yang memberontak.

Snouck merekomendasikan agar Belanda "melepaskan" kaum muslimin dari agamanya melalui pendidikan ala Barat. Secara konsisten, Snouck bereksperimen menjalankan taktik itu. Selama 17 tahun menetap di Batavia, Snouck menampung anak-anak kaum ningrat Jawa Barat.

Mereka diberi pendidikan ala Eropa di De Batavian Grammar School. Bahkan Snouck ikut membantu para siswanya yang telah lulus untuk mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor pemerintah Belanda, Salah satu anak didik Snouck adalah mahasiswa Indonesia peraih gelar doktor pertama di negeri Belanda, Dr. Husein Djajadiningrat, yang kemudian menjadi tokoh birokrasi penting di bidang agama semasa pendudukan Jepang.

Kantoor voor Inlandsche zaken masih bisa mempertahankan eksistensinya dan statusnya sampai akhir penjajahan Belanda pada tahun 1942. Di kalangan penduduk sering disebut dengan kantor agama.

 

 
Siti Rahmah
Bibliografi
  • Arsip Nasional Indonesia di Jakarta dan di 'Royal Institute of Southeast Asian Studies dan Karibia' (KITLV}di Leiden dan Perpustakaan Universitas Leiden.
  • Ibrahim, Alfian. "Aceh and the Perang Sabil." Indonesian Heritage: Early Modern History. Vol. 3, ed. Anthony Reid, Sian Jay and T. Durairajoo. Singapore: Editions Didier Millet, 2001. 132-133
  • Reid, Anthony (2005). An Indonesian Frontier: Acehnese & Other Histories of Sumatra. Singapore: Singapore University Press. ISBN 9971-69-298-8.
  • Vickers, Adrian (2005). A History of Modern Indonesia. New York: Cambridge University Press. pp. 10–13. ISBN 0-521-54262-6.
  • Wikipedia
Tags: ,