fbpx
Toko Senjata di AS Lebih Banyak dari Starbucks dan McDonald’s

Toko Senjata di AS Lebih Banyak dari Starbucks dan McDonald’s

Penembakan massal, pemeriksaan tentang catatan kriminal seseorang, pameran senjata terbaru, apakah semua itu pernah menghilang dari pemberitaan di Amerika? Hal-hal tersebut sekarang bisa jadi sangat melelahkan.



Festival film dokumenter Sundance yang menayangkan film Under the Gun memusatkan perhatian pada debat tentang kebebasan penjualan senjata di Amerika Serikat.



Perdebatan yang senantiasa terjadi membuatnya tampak kita sudah pernah mendengar seluruh argumentasi yang timbul, dan bahwa tidak ada hal baru sebenarnya yang bisa dipetik.

Meski demikian, film Under the Gun membuka mata kita dan bukan hanya karena mendekatkan kita dengan keluarga-keluarga sebagian korban dari pembunuhan massal di Newtown dan Aurora, Amerika Serikat. Namun pencapaian lain film ini adalah pemahaman mendalam tentang orang-orang yang mendewakan senapan.

Under the Gun memaparkan dua fakta mengejutkan: Jumlah toko senjata api di Amerika Serikat lebih banyak dibandingkan jumlah gabungan restoran McDonald’s dan Starbucks.

Pesan yang ada adalah tidak hanya toko senjata ada di mana-mana seperti restoran cepat saji, tetapi juga karena toko senjata menawarkan sesuatu yang cepat saji dan murah sekaligus berbahaya.

Kita melihat warga di supermarket dengan senapan mesin, dan pesannya adalah, “Saya membawa senjata, sehingga inilah saya.”

Dengan menonton Under the Gun, kita mungkin berpikir tak ada satupun masyarakat yang waras akan membiarkannya terjadi.

Jadi ada ‘orang-orang buruk dengan senjata’ dan juga ‘orang-orang baik’ yang tak bisa menghentikan mereka.

Mereka menjadikan kehidupan layaknya dalam film Dirty Harry, dan mengubah gaya hidup dan politik menjadi kultus senjata api.



BBC , CGTN