Adu Kuat PKI dengan TNI/ABRI Menjelang Tragedi 1965

Adu Kuat PKI dengan TNI/ABRI Menjelang Tragedi 1965

Peneliti Australia, Jess Melvin dalam bukunya berjudul "The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder" mengungkapkan: 

Dalam periode menjelang terjadinya G30S 1965 TNI (ABRI) dan PKI tengah bersaing memperebutkan kekuasaan.

 

Pada Agustus 1965, Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan tentara rakyat yang disebut Angkatan Kelima yang merupakan gagasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Angkatan Kelima ini diambil dari kalangan buruh dan petani yang dipersenjatai. Mereka dipersiapkan dengan alasan untuk operasi Ganyang Malaysia.

 

Hal ini menimbulkan kegusaran di kalangan pimpinan militer khususnya Angkatan Darat yang khawatir Angkatan Kelima ini digunakan oleh PKI untuk merebut kekuasaan, meniru revolusi komunis Tiongkok (RRC). Oleh karena itu, pimpinan Angkatan Darat menolak.

 

Pada situasi pra G30S itu, terjadi konflik yang cukup panas antara Angkatan Darat dengan PKI terutama untuk mengantisipasi kepemimpinan nasional pasca Presiden Soekarno.

 

Presiden Soekarno sebelumnya juga telah membentuk KOTI (Komando Operasi Tertinggi) yang mengkoordinasikan militer dalam operasi Ganyang Malaysia serta Komando Mandala Siaga (Kolaga) sebagai koordinator di tingkat wilayah.

 

Berhembus isu Presiden Soekarno kesehatannya memburuk, dan PKI berencana mendahului Angkatan Darat untuk mengambil alih kekuasaan.

 

Di sisi lain, militer juga diisukan bersekutu dengan pemerintah Amerika Serikat yang anti komunisme. Di bawah kepemimpinan Jenderal Ahmad Yani, TNI menyusun strategi untuk mengambil alih kekuasaan bila situasi memburuk.

 

Berita dan editorial koran milik PKI, Harian Rakyat edisi 2 Oktober 1965, menjadi salah satu bukti keterlibatan PKI dalam pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat oleh Gerakan 30 September:


Melvin menyatakan tak diketahui apakah Soeharto mengetahui rencana yang dipimpin Yani. Namun dia terbukti berhasil mengambil momentum peristiwa G30S 1965.
"Soeharto mampu bergerak cepat menyalahkan (menumpas) PKI," kata Peneliti di Sydney University itu.

 

 
 
Siti Rahmah
Tempo - Zamane

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *