Akhir Kisah Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto yang Sunyi Sepi

Akhir Perjalanan Hidup Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto yang Terhempas dalam Sunyi Sepi

Tentang Soekarno yang tertekan dan kesepian di ujung kekuasaannya, dan Soeharto juga merasakan hal yang sama. Mari simak realitasnya dan lihat video dokumenternya. 

 

Soeharto, orang tua yang pernah 32 tahun di puncak kekuasaan Republik Indonesia itu, dengan senyum khasnya menyambut tamunya, bekas anak buahnya, IGK (I Gusti Kompyang) Manila.


Dalam perbincangan, Manila mengungkapkan bahwa betapapun sang Jenderal Besar masih jauh lebih beruntung ketimbang Soekarno. Saat sakit Soeharto masih mendapatkan perawatan di rumah sakit terbaik, ditangani tim dokter kepresidenan.

"Tapi Bung Karno itu kalau sakit hanya diberi Naspro," kata Manila.

Mendengar cerita Manila tersebut, Soeharto mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah menyuruh untuk menyengsarakan Soekarno,

"Saya hanya meminta agar Bung Karno jangan berhubungan dengan media asing. Kalau beliau bicara keluar, dunia akan mendukung beliau, Asia Afrika akan mendukung, bisa membelanya, dan kita bisa perang saudara," tutur Soeharto lirih dan menerawang jauh.

Soekarno dan Soeharto adalah dua tokoh yang amat dikagumi Mayjen TNI (Purn) I Gusti Kompyang Manila. Bagi dia, kedua tokoh itu adalah lelanang ing jagad, lelaki yang luar biasa.

Kekaguman itu mendalam antara lain karena dia pernah punya hubungan yang dekat dengan keduanya.

Manila pernah menjadi petugas keamanan di Wisma Yaso, saat Soekarno tengah menyusun naskah Pidato Nawaksara pada 1967.

Hal itu bermula ketika atasannya di Pomad (Polisi Militer Angkatan Darat) Letkol Noorman Sasono memberikan tugas rahasia termasuk kepada dua rekannya, Letnan Murudin dan Letnan Suyanto. Malam itu, awal Januari 1967, ketiganya diperintahkan untuk mengawal seseorang, orang tua, di sebuah rumah besar berhalaman luas di selatan Jakarta.

Samasekali tak dijelaskan siapa gerangan orang tua dimaksud. Ketiganya hanya diminta memastikan tak ada kunjungan atau tamu menemuinya. Juga si orang tua tak boleh pergi meninggalkan rumahnya.

Baru pada pagi harinya, ketiganya dibuat terkaget-kaget karena yang orang tua yang mereka kawal tak lain adalah Panglima Besar Revolusi, Proklamator, Insinyur Soekarno yang masih berstatus sebagai presiden.

"Pagi itu Bung Karno hanya mengenakan pentalon dan kaos oblong," ujar Manila dalam buku IGK Manila Panglima Gajah, Manajer Juara.

Bagi Manila, itu bukan pertemuan perdana dengan Bung Karno. Saat Bung Karno berkunjung ke Akademi Militer di Magelang, sebagai taruna asal Bali dia pernah disertakan dalam jamuan makan malam dengan sang Presiden.

Manila ditanya oleh Soekarno tugas apa yang diinginkannya selesai dari Akademi. "Saya ingin menjadi pengawal Presiden," jawabnya lugu. Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani dan hadirin lainnya malam itu tertawa mendengarnya.

Selama 10 hari mengawal, praktis cuma Manila yang telaten mendampingi Panglima Besar Revolusi yang kesepian itu. Dua rekannya seringkali memilih menyelinap keluar untuk menemui pacar-pacar mereka.

Meski masih berstatus Presiden, Manila bersaksi bahwa menu makan yang disantap Soekarno selama di Wisma Yaso adalah sama dengan jatah ransum prajurit. Karena bosan, sesekali Manila dimintanya membeli masakan Padang di Pejompongan. Menu nasi bungkus itu kemudian disantap berdua.

Pernah juga perwira muda Manila mendapat wejangan dari sang Presiden yang tersandera dan masih gemar bicara politik itu. "Manila, kalau kamu menjadi pemimpin di Indonesia, ada satu hal yang tak boleh kamu lupakan: jangan pernah mengubah kebinekaan kita. Kekuatan kita ada pada kebinekaan itu," begitu salah satu nasihat yang melekat kuat dalam ingatan Manila.

Terkait Kebinekaan itu pula, Bung Karno secara berseloroh mengaku ingin punya istri banyak, dari Sabang sampai Merauke. Kala itu, Bung Karno sudah pernah punya istri dari Sumatera, Sunda, Jawa, Sulawesi, Kalimantan.

"Mungkin Papua belum, Pak?" celetuk Manila. Bung Karno pun tertawa lepas mendengar seloroh itu. "Iya ya. Lagi nyari ini," timpalnya.

Mengingat kondisi Bung Karno yang amat memprihatinkan selama menjalani masa tahanan rumah, berpuluh tahun kemudian Manila menyampaikan testimoni langsung kepada Soeharto. Dia cukup dekat dengan mantan penguasa Orde Baru itu karena pernah menjadi pengawalnya saat Soeharto masih di Kostrad.

Soeharto yang sudah tua dan lengser dari puncak kekuasaan, bisa mendengarkan penuh empati cerita IGK Manila tentang Soekarno yang tertekan dan kesepian di ujung kekuasaannya. Soeharto juga merasakan hal yang sama.

 

 

 

Siti Rahmah - ZAMANe, detikcom, metrotv

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *