fbpx
Ketika Jalaluddin Rumi dari Akademisi Tenggelam ke 'Dimensi Tak Dikenal'

Ketika Jalaluddin Rumi dari Akademisi Tenggelam ke 'Dimensi Tak Dikenal'

"Orang yang kenyang dan orang yang kelaparan tidak melihat hal yang sama ketika kedua-duanya melihat sepotong roti." ungkap Jalaluddin Rumi.
 
 
Jalaluddin Rumi dikenal begitu luas. Ia masyhur di mana-mana. Di Barat dan di Timur. 

Puisi dan tafsir metafisisnya terus dibaca dan digemakan oleh orang-orang yang mencari hidup yang lebih bermakna.
 
Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Begitulah caranya

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepadaNya

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Tuhan, dengan rahmatNya akan tetap menerima mata uang palsumu

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan tentang Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya wahai pejalan

Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayolah datang, dan datanglah lagi

Karena Tuhan telah berfirman: “Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepadaKu, karena Akulah jalan itu.”
 
Sama’, tarian mistik dengan gerakan berputar-putar untuk mendapatkan pengalaman spiritual yang menjadi praktik ritual khas tarekat yang didirikannya, Maulawiyyah, belakangan sangat digandrungi banyak kalangan di Dunia Muslim maupun non-Muslim. Karya-karyanya memang menyajikan tuntunan praktis dalam pelbagai tingkatan kecerdasan spiritual.

Tapi yang tak banyak diketahui, Rumi pada awalnya, hingga usia menjelang 40 tahun, bukanlah seorang sufi. Ia memang sudah termayhur. Tetapi bukan dalam label sebagai guru sufi, melainkan masyhur sebagai seorang guru besar, semacam profesor, di bidang fiqih, hukum Islam.

Rumi sudah punya banyak murid. Dia juga dianggap sebagai orang dengan kadar kecerdasan di atas rata-rata. Dia dipercaya untuk mengajar di sejumlah madrasah. Berpuluh-puluh kali dia diundang sebagai pembicara dalam pertemuan ilmiah yang dihadiri para guru besar dari pelbagai disiplin ilmu.

Transformasi besar dalam sejarah spiritual seorang Rumi dimulai ketika Rumi bersua dengan seorang lelaki bernama Syams at-Tabirizi, Matahari dari Tabriz. Lewat “bimbingan” Syam, dan bersama Syam pulalah, Rumi menemukan pencerahan yang tuntas, yang terbukti mengubah peta intelektual Rumi sekaligus membelokkan orientasi spiritualnya.

Siapa sebenarnya Syams? Syams bukanlah siapa-siapa. Syams juga nyaris tak dikenal. Dan memang sejak dari tampilan fisik, Syams sama sekali tak mempesona dan sama sekali tidak mencerminkan penampilan seorang tokoh besar. Ketika bersua pertama kali dengan Rumi pada 29 November 1224, Syams yang sudah berusia sekira 60 tahun, seperti hadir dari ketiadaan.

Syams adalah sosok yang eksentrik. Nyeleneh. Laku kesehariannya tak biasa. Orang bisa mudah tersulut syaraf kejengkelannya jika melihat polah Syams. Aku tidak punya urusan dengan penduduk dunia, kata Syams, “Aku tidak datang untuk mereka. Aku letakkan jemariku di atas denyut nadi orang-orang yang membimbing menuju jalan Allah.”

Ada satu istilah dalam vokabulari sufisme untuk tipe sufi macam Syams. Golpinarli menyebutnya dengan istilah “qalandar”, yaitu sufi yang memilih jalan sunyi pengembaran dan tak berminat untuk menjadi anggota dari sebuah tarekat. Para sufi macam ini kerap bertingkah aneh di depan umum memantik rasa jengkel orang.

Dan orang seperti itulah yang ternyata sukses mematahkan trek intelektual yang sudah dilalui Rumi puluhan tahun hanya lewat perjumpaan sekilas yang kelak akan dikenang sebagai salah satu fragmen legendaris dalam dunia sufi.

Seorang sufi bernama Muhyidin Abdul Qadir, mengisahkan bahwa dua orang itu berjumpa ketika Rumi sedang memberi kuliah. Syams masuk ke ruangan dan dengan mendadak, sembari menunjuk tetumpuk buku yang digunakan Rumi, ia bertanya dengan suara seperti berteriak: “Apa ini?” 


Dengan rasa jengkel menyaksikan seorang anonim masuk seenak perutnya, Rumi menjawab tak acuh: “Kau tidak akan mengerti.” Gantian Syams yang meradang. Secepat kilat Syams meraih buku-buku itu, dan buku-buku itu mendadak terbakar sendiri. Rumi balik bertanya persis seperti pertanyaan Syams sebelumnya: “Apa ini?” Kali ini Syams yang ganti menjawab persis seperti jawaban Rumi: “Kau tidak akan mengerti!”

Sejak itu, Rumi dikisahkan jatuh dalam keterpukauan, leleh dalam pendar cahaya dari sosok Syams. Fragmen persuaan yang pendek itu sukses merobek-robek benang keyakinan teologis seorang Rumi yang sudah dirajut sedemikian lama. Mengoyak bangunan intelektualnya. Dan itu terjadi hanya dalam sekali pukul.
 
Sejak itulah Rumi seperti tak terpisahkan dari Syams. Dan Syams juga tak pernah beranjak jauh-jauh dari Rumi. Keduanya membangun sebuah jejalin persahabatan yang aneh, unik dan sekaligus kompleks serta berdimensi banyak.

Demi menggapai pengalaman-pengalaman esktase sesering mungkin, Rumi makin tak terpisahkan dari Syams. Pengalaman ekstase itu terlalu mahal harganya, sehingga demi itu, Rumi rela meninggalkan buku-buku dan kajian-kajian ilmiah tentang hukum Islam yang selama ini ditekuninya. Syams betul-betul sukses membikin Rumi “membakar” buku-bukunya; membakar dalam arti melupakan buku-buku dan tentu saja meninggalkan dan tak pernah kembali menapaki jalan pengkajian ilmiah fiqih.

Sultan Walad, putra Rumi, menceritakan bagaimana keduanya menghilang beberapa purnama lamanya. Lenyap entah ke mana. Mengasingkan diri. Dan ketika kembali ke rumah, Rumi sudah tak pernah menjadi Rumi seperti sebelumnya. Ia sudah melepaskan atribut ke-profesor-annya. Rumi rela untuk absen dalam pertemuan-pertemuan ilmiah dengan para cendekia.

Tak bisa tidak ini menimbulkan kekecewaan. Tidak hanya dari para murid Rumi, melainkan juga penduduk Konya, yang tak rela cendekiawan paling cemerlang yang mereka miliki diubah secara drastis oleh seorang sufi urakan nan menyebalkan macam Syams.

Dorongan yang memantik dan menggerakkan jemari Rumi untuk menuliskan syair-syair indah itu kemudian selalu datang dan tetap datang, yang menurut Muhammad Iqbal menjadi semacam “pengalaman kesadaran unik yang berhasil melepaskan energi potensial yang sebelumnya tersimpan di dalam relung hati yang terdalam”.
 
Ujar Rumi:
 

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, "Ini sudah takdir Tuhan." Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.

 
 

 

Reportase Dunia Ma'rifat - pejalanjauhcom