Kisah Asmara Raja dan Permaisuri Bhutan yang Indah

Kisah Asmara Raja dan Permaisuri Bhutan yang Indah

Ketika itu Jigme Khesar baru berusia 17 tahun, sebagai pangeran Putra Mahkota kerajaan Bhutan penampilannya sangat bersahaja nyaris tak ada bedanya dengan rakyat biasa. Ia sedang duduk di atas rumput menikmati alam, tiba-tiba seorang gadis kecil berusia 7 tahun menghampirinya, menatapnya terpesona.


Gadis kecil itu bernama Jetsun Pema, tiba-tiba saja ia mencengkeram tangan sang pangeran dan berkata, “Bawalah aku pergi!”

Sang pangeran terkesima merasa heran lalu bertanya, “Bukankah seharusnya kamu bermain bersama dengan teman-temanmu? Mengapa ingin pergi bersama saya?”

“Karena aku menyukaimu,” jawab si gadis kecil Pema spontan dan lugu.

Sang pangeran awalnya berpikir itu hanya lelucon seorang bocah ingusan, tapi melihat ketegasan dan ekspresi Pema yang serius, saat itu hati sang pangeran pun tersentuh. Merasakan suatu perasaan yang indah imajinatif.

Lalu ia berkata kepada Pema, “Setelah kamu dewasa nanti, jika kita berdua belum menikah, dan masih saling menyukai, aku bersedia menikahimu dan menjadikan istriku.”

Mendengar janji itu, Pema pun dengan gembira menganggukan kepala, lalu pergi. 

Waktu berlalu, hingga sepuluh tahun kemudian mereka pun bertemu lagi. Pada saat itu, Pema sekolah di SMA. Pema pun tahu ternyata orang yang disukainya saat kecil itu adalah Pangeran Bhutan.

Janji yang refleks diucapkan diucapkan sang pangeran sepuluh tahun itu, kini menjadi cinta yang bersemi dan mereka pun jalan bersama berpacaran. Terlintas dalam benak sang pangeran, “Mungkin ini adalah cinta yang sudah ditakdirkan.”

Meskipun kemudian sang pangeran harus ke Amerika Serikat. Kemudian ke Inggris, Filipina dan negara-negara lain untuk studi. Tapi pikirannya selalu teringat akan gadis itu.

Sedangkan Pema melanjutkan studi di India dan Inggris. Meskipun ia sangat sederhana, tapi latar belakangnya juga tidak rendah. Dia lahir dari sebuah keluarga pejabat di ibukota Bhutan Thimphu. Leluhurnya juga pernah menjabat sebagai Gubernur di sebuah wilayah di Bhutan. Sementara ayahnya adalah seorang pilot maskapai penerbangan. Dan Ibu adalah seorang wanita pendidik.

Beberapa tahun kemudian Pema berjumpa lagi dengan sang pangeran yang kini sudah dinobatkan menjadi Raja Bhutan.

Sang Raja, Jigme Khesar Namgyel Wangchuck mengatakan, “Saya sangat beruntung, beruntung telah menemukan pasangan jiwa saya, bisa berbagi kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan bersamanya, memulai perjalanan hidup baru.”

Tak lama kemudian mereka bertunangan. Sang raja dengan penuh cinta meminta Pema agar sebaiknya lebih awal masuk dalam kehidupan keluarga kerajaan.

 

Berapa banyak wanita yang tergila-gila dengan raja muda yang kharismatik ini, tapi, ia hanya menyerahkan hatinya pada Pema seorang. Kemudian, mereka melangsungkan pernikahan pada 13 Oktober 2011.

Upacara pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana. Tidak ada iring-iringan mobil mewah dan hotel bintang lima, juga tidak mengundang tamu asing seperti tradisi yang umum digelar dunia internasional.
 
 

Bermula dari ucapan pangeran muda kepada gadis cilik, “Kelak setelah kamu dewasa, aku akan menikahimu.”

 

Bhutan's Queen Gives Message on Ozone Layer Protection

 
 
Erabarunet - ZAMANe

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *