Top.Mail.Ru
Menyingkap Misteri Peradaban Kuno Nabataean di Arab Saudi

Menyingkap Misteri Peradaban Kuno Nabataean di Arab Saudi

Setiap orang yang melintasi padang pasir Al Ula di Arab Saudi tahu bagaimana kelamnya langit di kawasan tersebut. Diduga Nabataean adalah kaum Tsamud di zaman Nabi Saleh yang disebutkan dalam Al Qur'an.

 

Pemantau astronomi gemar ke sana karena dapat dengan mudah mengamati benda-benda langit tanpa gangguan polusi cahaya.



Sekelompok peneliti menjalankan survei arkeologi secara mendalam di Arab Saudi guna menyingkap misteri peradaban kuno Nabataean.

 


Peradaban kuno Nabataean, bangsa yang mendiami kawasan itu dari sekitar 100 Sebelum Masehi hingga 200 tahun setelahnya.

 


Nabataean memang memusatkan kerajaannya dari Kota Petra di Yordania, tapi mereka menjadikan Hegra (kini Mada'in Saleh) di Al Ula sebagai ibu kota kedua.

Bangsa Nabataean

  • Bermukim di bagian utara Arab dan bagian selatan Asia Barat sejak abad keempat Sebelum Masehi hingga 106 Sesudah Masehi.
  • Ibu kota mereka berada di Kota Petra, Yordania. Namun, Mada'in Saleh di Arab Saudi juga menjadi kota penting.
  • Tradisi arsitektur yang canggih dipengaruhi oleh bangsa Mesopotamia dan Yunani. Mereka mengukir bagian depan kuil dan makam pada tebing batu.
  • Ada banyak contoh tulisan Nabataean, namun belum ada literatur signifikan yang pernah ditemukan.
  • Status mereka sebagai peradaban yang mandiri berakhir ketika Kaisar Romawi, Trajan, menaklukkan mereka.

 

Bangsa Nabataean menjadikan Petra di Yordania sebagai ibu kota.

 

Menurut Rebecca Foote, arkeolog asal Amerika Serikat yang menjadi penanggung jawab survei Komisi Kerajaan untuk Al Ula, upaya-upaya sebelumnya berpusat pada penggalian karena survei sistematis seluas ini memerlukan waktu dan sumber daya.

Dia meyakini upaya itu dapat menempatkan Arab Saudi pada peta sejarah kuno.


"Banyak hal sudah diketahui pada periode milenium pertama hingga ketiga Sebelum Masehi dan kami sudah mendapat banyak informasi soal Mesir dan Mesopotamia kuno," tuturnya.

"Akan tetapi sedikit sekali temuan kuno terkait Semenanjung Arab. Apa yang kami temukan akan berdampak pada pemahaman soal sejarah kuno yang kita belum ketahui. Namun, amat mungkin untuk mengubah kembali pandangan dunia mengenai periode-periode awal."

Foote telah bertahun-tahun meneliti Petra, kota kuno di Yordania yang tetap menjadi peninggalan terbaik peradaban Nabataean.

Menurutnya, arkeologi yang ditilik dari angkasa bakal menjadi kunci menjelajahi arsitektur pemakaman Nabataean, batu-batu berdiri, dan lokasi janggal yang jika diselidiki secara konvensional bisa memakan waktu bertahun-tahun.

"Teknologi kini menyediakan pandangan komprehensif dan dapat dipercaya. Cara seperti ini tidak pernah dilakukan dalam skala sebesar ini."

Sejatinya tim arkeologi Prancis pernah melakukan penggalian dan mengungkap jaringan perdagangan dupa yang dikendalikan secara longgar di bagian barat jazirah Arab dan melalui Al Ula.


Rebecca Foote ingin mengembangkan temuan itu dan mengkaji lebih dalam mengenai peranan air terhadap kemakmuran kawasan tersebut.

Kehadiran spesies mamalia di Al Ula yang sebelumnya tidak didokumentasikan, memberikan informasi baru mengenai sebaran populasi, tipe habitat, dan tanaman yang tersedia di lansekap prasejarah.

Gambaran hewan juga membantu para ahli untuk membuat penanggalan. Misalnya, kemungkinan tidak ada kuda atau unta yang ditunggangi pada 1.200 sebelum Masehi.

Hewan ternak, kambing, dan domba mulai dikembangbiakkan di Semenanjung Arab antara 6.800 sampai 6.200 SM. Mereka diternakkan di Asia Barat dan dibawa ke Arab Saudi. Ini menjadi cara untuk memberi penanggalan pada seni bebatuan karena sebelum era itu kemungkinan hewan ternak tidak ada di kawasan itu.
 


Sylvia Smith - BBC News, Saudi Arabia

France 24

Editor: Siti Rahmah ZAMANe

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *