fbpx
Singgah di Masjid Indonesia dan Menyusuri Keragaman Muslim di Jerman

Singgah di Masjid Indonesia dan Menyusuri Keragaman Muslim di Jerman

Di Jerman ada beragam umat muslim dengan faham keyakinan yang berbeda-beda. Dalam hal yang prinsip mereka membuat batas 'bagimu keyakinanmu dan bagiku keyakinanku' tanpa saling menumpas, dan dalam beberapa hal mereka bisa bekerja sama.

 

Kita mulai dari Masjid Al-Falah, nama masjid milik warga Indonesia yang terletak di Berlin. Masjid yang dikelola Indonesische Weisheits und Kulturzentrum (IWKZ) dulunya merupakan pub/kafe. 

 

Jika kita datang saat Sholat Jumat, bisa menikmati kuliner indonesia yang dijual untuk membiayai operasional masjid. Tiap tahun 4000 Euro harus dikumpulkan secara swadaya,

 


Mengapa Warga Indonesia Berbeda?

Ketua IWKZ Dimas Abdirama menceritakan bahwa kegiatan di Masjid lebih berfokus sebagai ruang belajar bagi mahasiswa. "Dibandingkan pendatang lainnya, kita mempunya daya pikat kepada pemerintah Jerman yang membutuhkan banyak tenaga ahli," ujar ahli bioteknologi medis itu. Ada sekitar 4000 mahasiswa Indonesia studi di Jerman. Potensi ini menurut Dimas membuat orang Indonesia mudah diterima.


Melihat Toleransi di Neukölln

Di Neukölln melihat bagaimana umat Muslim dari beragam aliran dapat hidup berdampingan. Masjid Al-Salam NBS milik aliran Sunni itu menurut Syekh Muhammad Thaha tidak hanya digunakan sebagai tempat keagamaan tapi juga kegiatan kemanusiaan.


Masjid yang Terbuka

Meski mayoritas umatnya adalah Sunni, namun menurut Syekh Thaha, masjid Al-Salam terbuka untuk seluruh jamaah, termasuk Syiah. "Kami tidak memaksakan ajaran tertentu, siapapun bisa datang ke masjid ini," katanya. Masjid ini juga terbuka bagi seluruh warga Jerman yang ingin mengenal Islam atau warga imigran yang ingin belajar bahasa Arab.


Alevi, Minoritas yang Mudah Diterima

Di Jerman, mayoritas umat Islam adalah Sunni (74%), namun di posisi ke dua ditempati kelompok asal Turki bernama Alevi (13%). Menurut Claudia Dette, Alevi kelompok yang paling mudah berintegrasi setelah Ahmadiyah. Karena kedua kelompok itu menganut prinsip kasih dan anti kekerasan.



Masjid Dalam Gereja

Ibn-Ruysd Goethe, "Masjid Liberal" yang mengakui imam perempuan di Jerman dan terletak di gereja. 


Menebar Kedamaian Lewat Masjid

Sebanyak 50,6% 2,2 juta umat Islam di Jerman memiliki latar belakang keturunan Turki, itulah sebabnya di salah satu masjid terbesar milik warga Turki di Berlin, masjid Sehitlik, program yang ditawarkan lebih khusus lagi. Para peserta yang disambut Pinar Cetin, pemimpin Bahira menjelaskan organisasinya bertugas untuk memberi konsultasi menyikapi keragaman untuk kaum muda Muslim.
 
 
Tags: , ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *