Jepang, Sebuah Bangsa yang Gemar Membaca

Jepang, Sebuah Bangsa yang Gemar Membaca

Jepang termasuk negara yang mandiri dan tidak  menggantungkan nasibnya kepada negara lain. Sikap disiplin dan bertanggung jawab sudah dibiasakan sejak dini. Rata-rata anak sekolah di Jepang selalu datang tepat waktu ke tempat belajarnya. Para mahasiswa di sana umumnya telah memulai hidup yang mandiri. Mereka biasanya mencari pekerjaan paruh waktu atau biasa disebut “Arubaito”, demi membayar sendiri biaya hidup dan kuliahnya.



Orang Jepang gemar membaca. Hampir di setiap fasilitas publik seperti di kendaraan umum, di taman kota, bahkan saat menunggu antrian pun tak jarang kita akan melihat beberapa orang Jepang sedang asik bercengkrama dengan sebuah buku di tangannya. Tidak peduli dengan kondisi berdesakan saat di keramaian sekalipun, mereka lebih memilih menghabiskan waktunya dengan membaca buku, apapun jenisnya dibanding dengan bermain gadget. Atas dasar itu, kemampuan literasi masyarakat Jepang pun terus berkembang pesat dan memiliki presentase yang lebih tinggi dari negara-negara di belahan dunia lain.

 

 

Literasi merupakan kemampuan seseorang atau kelompok tertentu dalam memahami ilmu pengetahuan melalui bacaan dan tulisan. Literasi sangat berperan penting terhadap kemajuan sebuah negara. Negara yang mayoritas masyarakatnya memiliki potensi yang baik dalam literasi, seperti Jepang, tidak akan kesulitan untuk selalu memperbaharui inovasi di bidang ilmu pengetahuan mengikuti perkembangan zaman modernisasi seperti sekarang. Terdapat beberapa macam literasi diantaranya yaitu literasi kesehatan, literasi informasi, literasi kritik, literasi finansial, literasi statistik, literasi teknologi, literasi digital, literasi data, dan literasi visual.

Gerakan literasi harus gencar disosialisasikan sekaligus diterapkan pada seluruh lapisan masyarakat. Dengan kemampuan literasi yang baik, maka kualitas atau taraf kehidupan suatu masyarakat akan terus meningkat seiring perkembangan di zaman digitalisasi ini. Kemampuan literasi juga dapat memberikan efek bagi pertumbuhan penduduk, penurunan angka kematian, pemberantas kemiskinan, dan lain sebagainya. Budaya membaca seperti dicontohkan masyarakat Jepang, dapat menjadi indikator kemajuan sebuah bangsa.


Sejarah Singkat Dunia Literasi Jepang yang Terbaik di Dunia

Kita tentu sering mendengar pendapat bahwa “buku adalah jendela peradaban dan kunci perubahan dunia”. Namun, sudahkah kita merealisasikannya di dalam kehidupan sehari-hari? Hal itulah yang dapat kita temui pada diri masyarakat Jepang yang kaya akan dunia literasi. Sebuah studi mengatakan bahwa resiko pengangguran dan buruknya kesehatan akan lebih besar didapat oleh orang dengan tingkat literasi yang rendah. Sedangkan, orang dengan kemampuan literasi tinggi, yakni seputar membaca dan menulis memiliki 60% penghasilan yang lebih besar dibanding mereka yang memiliki literasi rendah.

 
Menurut penelitian yang dilaporkan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) terhadap 166.000 orang partisipan dari total 24 negara di dunia dengan rentang usia 16-65 tahun, menyatakan bahwa orang dewasa Jepang memiliki kemampuan lebih dalam mengolah informasi dan mencari teks-teks padat dibanding orang-orang yang berasal dari negara lain. Selain itu, laporan tersebut mengatakan orang Jepang usia 25-34 tahun dengan status telah menyelesaikan pendidikan tingkat SMA ternyata memiliki kemampuan menulis jauh diatas orang-orang lulusan perguruan tinggi di Italia dan Spanyol dari kelompok usia yang sama.

Seorang peraih Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen mengamati kebangkitan negara Jepang dari segi literasi atau aksaranya. Ia memperkirakan bahwa Jepang mulai bangkit sejak era restorasi Meiji, tepatnya di pertengahan abad ke-19. Hal itu dimulai Jepang dengan melakukan membangun kualitas masyarakatnya melalui pemberantasan angka buta huruf. Terbukti pada tahun 1913, negara Jepang berhasil menjadi salah satu produsen buku terbesar di dunia dengan jumlah terbitan buku yang banyaknya bahkan melebihi pencapaian Amerika Serikat pada saat itu. Selain itu, Jepang pada masa itu telah memiliki tingkat keaksaraan yang tinggi dibandingkan negara-negara di benua Eropa.

Pada masa kini, strategi pemerintah Jepang untuk terus mempertahankan budaya membaca masyarakatnya adalah dengan memasuki desain manga didalam setiap terbitan materi kurikulum pelajaran SD, SMP, maupun SMA yang tentunya lebih menarik perhatian murid-murid untuk gemar membaca buku-buku pelajaran. Selain itu, kecepatan proses penerjemahan buku-buku berbahasa asing kedalam Bahasa Jepang juga menjadi salah satu dorongan budaya membaca yang kuat bagi orang Jepang. Biasanya dalam beberapa minggu setelah terbitnya buku-buku berbahasa asing, maka terjemahan buku-buku tersebut dalam Bahasa Jepang juga telah tersedia. Hal tersebut memudahkan bagi orang-orang Jepang yang notabenenya kurang fasih dalam berbahasa Asing untuk membaca dan mempelajari buku-buku berbahasa Asing.

Konon, legenda penerjemahan buku-buku asing tersebut sudah bermula sejak tahun 1684, diiringi dengan pembangunan institut penerjemahan di Jepang yang terus berkembang hingga masa modern seperti saat ini. Pada tahun 1962, pemerintah Jepang pun mengambil kebijakan publik khusus untuk terus memperbaiki taraf hidup masyarakatnya dengan memberikan dorongan atau motivasi bagi masyarakat Jepang untuk kembali ke sekolah (Kikosushijo). Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah Jepang dari kebijakan itu antara lain membeli lahan untuk pembangunan sekolah bermutu tinggi, menyediakan fasilitas buku-buku bacaan gratis, serta mengirim para guru lokal untuk bisa menimba ilmu di berbagai universitas ternama di luar negeri. Itulah mengapa kualitas sumber daya manusia dan inovasi di Jepang menjadi salah satu yang terbaik di dunia karena budaya membacanya yang membangkitkan dunia literasi Jepang.
 
 
Tags:

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *