fbpx
Intrik dan Pengkhianatan di Ujung Runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah

Intrik dan Pengkhianatan di Ujung Runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah

Bersama runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah, dunia kehilangan kekhilafahan terakhir di Bumi. Intrik, ambisi dan pengkhianatan mewarnai hari-hari terakhir imperium Islam terbesar dalam sejarah itu.

 

Lambang Kesultanan Utsmaniyah


Enam Abad Utsmaniyah


Selama lebih dari enam abad Kesultanan Utsmaniyah memerintah. Kekuasaannya membentang dari Budapest di Eropa hingga ke Baghdad di Timur Tengah. Pengaruh kekuasaannya menjangkau hingga Asia Tenggara - Nusantara. Utsmaniyah adalah imperium Islam terkuat dalam sejarah.


Akhir Pahit Kekhalifahan

Sempat memuncak di abad 16 dan 17 pada era Kesultanan Sulaiman Agung, kekuasaan Utsmaniyah mulai goyah di akhir abad ke 19 lantaran perang di luar negeri dan gejolak di dalam negeri. Terutama perang melawan Kekaisaran Rusia di kawasan Balkan banyak menguras kekuatan Utsmaniyah.


Imperium dalam Gejolak

Pada awal 1900an, Utsmaniyah digoyang sejumlah peristiwa besar, yakni revolusi Gerakan Turki Muda yang menuntut modernisasi, perang melawan Italia di Libya, pertempuran besar dalam Perang Balkan melawan Serbia, Montenegro, Yunani dan Bulgaria, serta percobaan kudeta oleh kaum reformis.


Triumvirat Pasha

Setelah kudeta imperium raksasa itu dikuasai tiga Pasha di awal abad ke20, yakni Menteri Dalam Negeri Mehmed Talaat Pasha, Menteri Kemaritiman Ahmed Djemal Pasha dan Menteri Perang Ismail Enver Pasha yang masih berusia muda. Lewat aksinya, ketiga Pasha kemudian menggariskan tanggal kematian imperium.


Ambisi Sang Menteri

Enver yang ambisius mengidamkan perang sebagai ajang demonstrasi kekuatan Turki. Tanpa mengabarkan anggota kabinet lain, sang menteri memerintahkan dua kapal perang Jerman agar menyamar sebagai kapal Turki dan menyerang pangakalan militer Rusia di Odessa, Sevastopol, dan Theodosia. Hasilnya Enver menyeret Turki ke kancah Perang Dunia I.


Kehancuran Total

Hasilnya adalah kehancuran total kekuatan militer Utsmaniyah. Satu per satu wilayah jajahannya direbut oleh Rusia, Inggris, Italia dan Perancis. Puncaknya adalah ketika imperium Eropa memaksa Turki menandatangani perjanjian Sèvres yang membagi-bagi sebagian wilayah Turki ke dalam beberapa negara kecil.


Khalifah Terakhir

Adalah Mehmet VI, khalifah ke-100 dan sultan terakhir Utsmaniyah yang kemudian menuruti hampir semua tuntutan Eropa untuk bisa mempertahankan kekuasaannya. Corak pemerintahannya yang lemah membuat tuntutan untuk membubarkan kesultanan menguat. Terutama di tengah perang Turki melawan Yunani.


Modernisasi Atatürk

Di hari penuh gejolak itu Mustafa Kemal Pasha Ataturk, komandan militer Turki selama perang kemerdekaan, menjelma menjadi pengendali situasi. Praktis sejak kekalahan dalam PD I, Turki diperintah oleh kaum Kemalis. Kesultanan bahkan tidak berkutik ketika Mustafa Kemal Pasha Ataturk mulai melucuti kekuasaannya dan mengubah Turki menjad
i negara sekuler

 

Mustafa Kemal Atatürk (lahir di Selânik, Kesultanan Utsmaniyah, 19 Mei 1881 – meninggal di Istana Dolmabahçe, Istanbul, Turki, 10 November 1938 pada umur 57 tahun), hingga 1934 namanya adalah Gazi Mustafa Kemal Paşha, adalah seorang perwira militer Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki. Ideologinya yang sekularis dan nasionalis serta teorinya dikenal sebagai Kemalisme.

 

 

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *