fbpx
Fakta Sejarah Zionisme yang Dimotori Yahudi Ashkenazi

Fakta Sejarah Zionisme yang Dimotori Yahudi Ashkenazi

Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat daripada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basle merupakan landas pacu perampasan tanah Palestina. Namun hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai ''perampok'' tetapi malahan dipuja sebagai ''pahlawan'' dan bangsa Palestina yang melawannya dianggap sebagai ''teroris'' dan penjahat yang harus dihancurkan.

 

Zionisme muncul dan berkembang dari kalangan Yahudi Ashkenazi. Di antara gerakan Zionis pra-Kongres Basle secara umum disebut sebagai proto-Zionisme: Hovevei-Zion, Hibbat-Zion, dan Poalei-Zion. 

 

Setelah Kongres I di Basle yang dimotori Theodore Herzl, gerakan Zionisme menjadi gerakan politik yang mempunyai target: membentuk negara Israel.

 

Semula Theodore Herzl ingin menggelar Kongres di Muenchen, Jerman. Namun dia mendapat tantangan keras dari kalangan pemuka agama Yahudi setempat dan kelompok pro asimilasionis yang khawatir Kongres Zionis dan kegiatan yang terkait dengannya hanya akan meningkatkan rasa kebencian masyarakat Jerman terhadap mereka. Oleh karenanya, Herzl terpaksa memindahkan tempat kongres di kota kecil Basle yang terletak di wilayah Swiss tapi masih berbatasan dengan Jerman. Kongres dibuka pada Minggu pagi tanggal 29 Agustus 1897 dengan mengambil tempat di gedung judi Kasino kota Basle.

Sungguh aneh sekalipun agama Yahudi mengharamkan perjudian, Kongres I di Basle itu dilakukan di tempat judi. Ini karena Theodore Herzl aktor utama kebangkitan Zionisme bukan penganut agama Yahudi yang taat. Begitu pula mayoritas peserta yang hadir.

 

Mayoritas hadirin adalah kaum liberal dalam pandangan agamanya. Bahkan, ada pula Yahudi yang ragu-ragu dalam kepercayaannya kepada Tuhan (agnostic). Bisa dikatakan hampir tidak ada kaum messianik atau Yahudi Ortodoks.

 

 

Hal ini bisa dilihat dari daftar siapa yang hadir dalam Kongres I di Basle tersebut. Dari 200 sampai 250 peserta yang hadir, hanya 162 orang yang berani mendaftarkan kehadirannya secara terbuka. Di antara mereka ini, selain Theodore Herzl, Israel Zangwill (intelektual Inggris) dan profesor Herman Schapira, pakar matematika dari Universitas Heidelberg, Jerman. Secara umum para delegasi Kongres I adalah kaum kelas menengah, sebagian di antaranya pengusaha perdagangan, industri dan keuangan.

Dari asal negara, sebagian besar dari Eropa Timur, terutama Rusia, Rumania, Serbia, Bulgaria, Austria, Polandia, Lithuania, dan Latvia. Beberapa kelompok datang dari Eropa Barat, Prancis, Inggris, Swiss, Jerman, dan Amerika Serikat. Tidak tampak wakil Yahudi dari negara-negara Arab yang dikenal sebagai kaum Sephardim. Dengan demikian, sebenarnya Kongres I Zionis adalah Kongresnya Yahudi Ashkhenazi atau Yahudi Eropa.

Lima puluh tahun setelah kongres itu, target mendirikan negara Israel berhasil diwujudkan dengan mengusir dan merampas tanah dari bangsa Palestina.

Bangsa Yahudi di dunia Arab atau Sephardim yang hidup berabad-abad lamanya berdampingan dengan umat Islam tidak pernah menghadapi masalah yang serius. Persoalan antara Yahudi dan Arab-Palestina baru muncul justru setelah gelombang Zionisme memasuki tanah Palestina dengan Deklarasi Balfour 1921 dan memuncak terbentuknya negara Zionis Israel pada 1948.

 

Inggris mengambil alih kawasan Palestina setelah Kesultanan Utsmaniyah kalah dalam Perang Dunia Pertama. Pada 1948 penguasa Inggris 'membuka jalan' bagi Zionis mendeklarasikan negara Israel. Ratusan ribu warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka dalam peristiwa yang yang disebut sebagai Al Nakba atau "Malapetaka".

 

 


Sumber: 'Akar Zionisme' karya Djoko Susilo - Editor: Anita Fransiska
trtworld, republika, zamane

Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *