fbpx
Abad 16 Ketika Orang Yahudi Tertindas di Eropa dan Mencari Perlindungan ke Negeri Muslim

Abad 16 Ketika Orang Yahudi Tertindas di Eropa dan Mencari Perlindungan ke Negeri Muslim

Komunitas Yahudi telah ada di Timur Tengah dan Afrika Utara sejak Zaman Kuno. Sampai dengan saat Penaklukan Islam pada abad ke-7, komunitas kuno ini telah diperintah oleh berbagai imperium: termasuk Babilonia, Persia, Kartago, Yunani, Romawi dan Romawi Timur.



Pada masa Islam awal, Yahudi menikmati hak keistimewaan, dan komunitas mereka menjadi makmur. Tidak ada batasan atau pembatasan sosial yang mencegah mereka terlibat dalam kegiatan sosial dan komersial.

 
Yahudi di bawah kekuasaan Islam bersama dengan beberapa kelompok keagamaan pra-Islam lainnya tetap memiliki hak dan perlindungan tertentu sebagai "ahli kitab".

Banyak orang Yahudi memasuki wilayah yang baru saja ditaklukkan Islam dan membangun komunitas di sana. Wizurai dari Baghdad mengamanahkan ibu kotanya kepada pengurus bank Yahudi. Pelabuhan Siraf bahkan mempunyai gubernur Yahudi.
 
Selama gelombang penindasan di Eropa pada Abad Pertengahan, banyak orang Yahudi mencari perlindungan di negeri-negeri Muslim.

Pada saat itu, kaum Yahudi menjadi target penindasan kaum Kristen di Eropa. Sebab, secara kolektif Yahudi dianggap bertanggung jawab terhadap penyaliban Jesus. "Dan seluruh rakyat itu menjawab, 'Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami'." (Matius, 27:25).

Sikap tokoh-tokoh Gereja berikutnya, merupakan penjabaran dari New Testement itu. Selama ratusan tahun, kaum Yahudi menjadi korban persekusi kaum di Eropa. Misal, pada 17 Juli 1555, hanya dua bulan setelah pengangkatannya, Paus Paulus IV mengeluarkan dokumen (Papal Bull) bernama Cum Nimis Absurdum, yang menekankan, para pembunuh Kristus, yaitu kaum Yahudi, pada hakikatnya adalah budak dan seharusnya diperlakukan sebagai budak. (Lihat, Encyclopaedia Judaica, Vol. 2; Peter de Rosa, Vicars of Christ: The dark Side of the Papacy, (London: Bantam Press, 1991).
 


Dalam sejarah pemikiran dan kebudayaan Yahudi, para pemikir Yahudi mengadopsi bahasa Arab sebagai bahasa tulis dalam sains dan filsafat. Mereka juga menerjemahkan karya-karya besar di bidang-bidang itu, baik yang ditulis para pemikir Muslim maupun terjemahan Arab karya-karya Yunani, ke dalam bahasa Ibrani.

Dengan demikian, kata-kata dan gagasan-gagasan dari dunia Islam meresap ke alam pemikiran Yahudi.

Di wilayah yang lebih praktis, ada pula orang-orang Yahudi yang mendapat kedudukan utama dalam pemerintahan golongan Muslim, antara lain Hasdai bin Shaprut (882-942), penasehat Khalifah Cordoba Abdurrahman III, dan Samuel bin Naghrillah yang menjadi jenderal di Taifa Granada pada 1027.

Selama hampir 800 tahun, Yahudi menikmati zaman keemasan di wilayah Muslim Andalusia. Kejayaan Yahudi di bawah Islam ditulis banyak penulis Yahudi dan Kristen. Karen Armstrong, dalam bukunya, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths (London: Harper Collins Publishers, 1997), menulis "Under Islam, the Jews had enjoyed a golden age in al-Andalus."

Prof SD Goitein, seorang profesor Yahudi, mengakui bahwa bahasa Ibrani, pemikiran, hukum, dan filsafat Yahudi, disusun berdasarkan pengaruh Arab Muslim.

"There, under Arab-Muslim influence, Jewish thought and philosophy, and even Jewish law and religious practice were systematized and finally formulated. Even the Hebrew language developed its grammar and vocabulary on the model of the Arab language." (SD Goitein, Jews and Arabs, Their Contacts through the Ages (New York: Schocken Books, 1974).

Dalam catatan sejarah, ekspansi Islam senantiasa tidak berupa invasi apalagi penjajahan. Sebab, Islam memiliki dua watak dasar, yakni keterbukaan dan toleransi. Alquran menegaskan, tidak ada paksaan dalam Islam.

Dalam banyak rezim kesultanan, tidak jarang dijumpai orang-orang Yahudi atau Kristen menduduki jabatan penting di birokrasi. Sebab, acuannya bukan apa agama mereka, melainkan kecakapan intelektual atau politik.

Dalam Promesses de l'Islam, Roger Garaudy, mencontohkan seorang santo bernama Jean Damascene menjabat sebagai kepala keuangan di zaman Kekhilafahan Bani Umayyah di Damaskus. 
 
Baitul Hikmah yang didirikan Khalifah al-Makmun dari Bani Abbasiyah dipercayakan untuk dipimpin seorang rahib Kristen Nestorian, Hunain bin Ishak. Lembaga pendidikan yang berlokasi di Baghdad itu lantas menjadi pusat keunggulan sains dan filsafat yang terbuka bagi segenap ilmuwan dari pelbagai penjuru dunia, apa pun kebangsaan atau agama mereka.

 

 
republika, zamane   
Tags: , ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *