Sjahrir Had Gelijk, Pada Hari Ini Orang Menyadari Sjahrir Benar, Kata Moh. Roem

Sjahrir Had Gelijk, Pada Hari Ini Orang Menyadari Sjahrir Benar, Kata Moh. Roem

Jika Tan Malaka menjadi legenda dan misteri karena sepanjang hidupnya memang selalu nyaris berada “di bawah tanah”, maka Sjahir tetap menjadi teka-teki (barangkali) karena ia selalu berdiri tegak “di atas tanah”, “di tengah pentas”, dengan sikap yang tegar di tengah arus yang justru sedang tergesa-gesa dan tak sabar!
 
Sejarah mencatat: Sutan Sjahrir di umur 36 tahun menjadi Perdana Menteri RI pertama dengan Amir Syarifuddin sebagai Menteri Pertahanan. Tetapi mereka akhirnya bersimpangjalan, dan final ketika Amir makin radikal setelah kedatangan Musso pada Agustus 1948, karena Sjahrir memang tak pernah goyah oleh godaan radikal golongan komunis yang, dalam kata-kata Sjahrir: “menghancurkan dalam diri mereka sendiri jiwa serta semangat sosialisme yaitu kemampuan untuk menghargai kemanusiaan dan martabat manusia.”

Sjahrir, yang akrab dipanggil Bung Kecil karena perawakannya yang mungil, tentu belajar dari apa yang dilakukan Stalin dengan Gulag-nya. Dan itulah sebabnya ia kokoh berdiri: sosialismenya adalah sosialisme yang percaya atas martabat manusia. Itulah yang menurutnya menjadi inti “sosialisme kerakyatan”; istilah yang kemudian diplesetkan menjadi “soska” alias sosialis kanan, plesetan yang ditujukan pada Sjahrir yang (terutama oleh komunis dan para revolusioner dari kelompok pemuda) dinilai sebagai sosialime malu-malu, sosialisme yang kompromistis, kebarat-baratan.

Sjahrir, tentu saja, akhirnya menjadi tak populer, tidak hanya di mata golongan kiri radikal (baik komunis maupun faksinya Tan Malaka), melainkan juga di mata kebanyakan tentara (dengan wakil Soedirman), dan juga para pemuda yang tak sabar.

Salah satu penyebab awal dari ketidakpopuleran Sjahrir adalah terbitnya brosur politiknya, Perdjoeangan Kita.

Brosur politik itu dikeluarkan pada 10 November 1945 bersamaan dengan mulai menghebatnya pertempuran November di Surabaya dan (yang jauh lebih penting), bersamaan dengan berhembusnya isu ihwal akan ditunjuknya Sjahrir untuk membentuk kabinet yang bertanggungjawab kepada parlemen, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP); isu yang hanya dalam hitungan hari terbukti benar.

Ada yang menarik jika kita bandingkan Perdjoengan Kita cetakan pertama dan cetakan-cetakan selanjutnya. Di cetakan pertama, Sjahrir bahkan menggunakan kata sekasar “anjing-anjing yang berlari” kepada kaum nasionalis yang bekerjasama dengan Jepang, Soekarno-Hatta termasuk tentu saja; kalimat kasar yang kemudian raib pada cetakan-cetakan selanjutnya.

Ia juga menyerang angkatan muda yang menurutnya terlampau diayun-ayun oleh romantisme revolusioner yang membodohkan. Para pemuda dinilainya tak memiliki pengertian yang jelas tentang apa yang mereka perjuangkan, selain hanya Merdeka atau Mati! Titik.

Jika para pemuda itu, kata Sjahrir, “mulai merasa kemerdekaan belum juga tercapai sedangkan kematian masih jauh, mereka akan terus berada dalam kebimbangan.”

Ia juga membidik soal pentingnya “partai revolusioner buruh demokratik” yang menurutnya tak harus besar yang penting ditopang oleh pasukan yang berdisiplin ketat. Hanya partai yang demikianlah yang menurutnya bisa menjadi inti revolusi Indonesia.

Yang tak kalah berharga adalah uraian Sjahrir atas posisi Indonesia dalam percaturan politik mondial. Ia yakin Indonesia tak terlepas dari arus yang terjadi, dalam kata-kata Sjahrir sendiri, “di dunia kapitalisme dan imperialisme Anglo-Saxon”.

Perjuangan melawan imperialisme, menurut Sjahrir, pada hakikatnya ialah membangun jarak: untuk memaksa segala macam gerakan dan dorongan politik sampai lemah, untuk menciptakan ruangan supaya di dalamnya orang yang lemah relatif dapat bergerak bebas.

Di titik inilah Sjahrir sudah memancangkan orientasi perjuangannya yang lebih mementingkan diplomasi ketimbang perjuangan bersenjata. Baginya, kaum kapitalis melulu menghitung dari sudut pandang laba-rugi. Selama mereka tak mengeluarkan biaya, mereka kemungkinan akan netral dalam perjuangan Indonesia. Dan Indonesia, kata Sjahrir, harus memastikan bahwa kita tidak memeroleh kebencian asing, agar mereka bisa berada di belakang Indonesia.

Ben Anderson, dalam disertasinya Java in A Time of Revolution (1972: 195), menyebut Perjoeangan Kita sebagai “satu-satunya usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun pasca perang untuk menganalisa secara sistematik kekuatan domestik dan internasional yang memengaruhi Indonesia dan memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan”.

Romo Mangunwijaya, dalam sebuah esainya yang begitu romantik, menyebut Sjahrir sebagai negarawan yang berpikir dalam hitungan abad, bukan warsa, apalagi bulan. Romo Mangun menyebut Sjahrir sebagai negarawan persis seperti James Freeman Clarke mendefinisikan negarawan, yang menurut Freeman berbeda dengan politisi yang hanya memikirkan soal pemilu yang akan datang, negarawan justru memikirkan generasi yang akan datang.

Tetapi, sudah jelaskah siapa Sjahrir dan di mana ia berada dalam kesadaran sejarah kita?

Dalam epilog dari biografi Sjahrir: Politcs and Exile in Indonesia, Rudolf Mrazek memberikan sebuah jawaban: “Sjahrir tetap (saja) diletakkan di tempat yang salah… dan dilupakan.”

Ironis tentu saja, sama ironisnya dengan bagaimana ia menjemput ajal. Dia wafat dalam status tahanan politik di Swiss. Tetapi persis di hari kematiannya, Bung Karno, orang yang paling bertanggungjawab atas penahanan Sjahrir dan mungkin juga atas sakitnya Sjahrir, ironisnya justru langsung mengangkatnya sebagai pahlawan nasional. Ironi bisa diperpanjang, mengingat Bung Karno justru akhirnya juga wafat dalam status tahanan politik.

Sjahrir mungkin punya banyak nila. Dia barangkali adalah tipe orang yang tidak taktis. Tetapi Sjahrir tentu saja tak sepenuhnya keliru. Dalam batas-batas tertentu, Sjahrir bisa jadi benar. Bukankah kedaulatan de facto dan de jure Republik Indonesia akhirnya ditangguk lewat sebuah proses perundingan (Konferensi Meja Bundar), kendati tentu saja tak memuaskan semua orang dan dengan mengorbankan banyak orang yang anti perundingan, yang diantaranya adalah para pemimpin Indonesia lapis satu (dari Amir Syarifuddin, Musso hingga Tan Malaka)

Dalam tulisan Moh. Roem, Suka Duka Berunding dengan Belanda: Ketika jenazah Sjahrir akan diterbangkan ke Jakarta dari bandara Schiphol, Schermerhorn, orang yang menjadi rivalnya di Perundingan Linggarjati, dengan begitu emosional melepas kepergian Sjahrir dengan mengeluarkan kata-kata yang nyaris seperti sebuah elegi:

“Pada hari ini dan di sini, orang menyadari, “bahwa Sjahrir benar”! (Sjahrir had gelijk).

 
 
Zen / pejalanjauh.com - ZAMANe

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *