Makin Banyak Uang Makin Stress, Menurut Studi Linkedin Learning

Makin Banyak Uang Makin Stress, Menurut Studi Linkedin Learning

Share

Menurut Studi Linkedin Learning, memiliki banyak uang justru membuat kita tambah stres. Tujuh dari sepuluh (68%) orang yang berpenghasilan lebih dari 200 ribu dollar AS atau sekitar Rp2 miliar per tahunnya, sering merasa stres di tempat kerja dibanding mereka yang hanya memiliki gaji 35 ribu dollar AS (Rp480 juta) dan 50 ribu dollar AS (Rp684 juta).


Karyawan yang bergaji besar juga cenderung tidak puas dengan pekerjaannya. Sementara, mereka yang berpenghasilan lebih rendah justru menikmati apa yang mereka lakukan.

Kesimpulan ini didapat dari survei yang dilakukan kepada seribu anggota LinkedIn di Amerika Serikat yang juga merupakan karyawan perusahaan.

Gen X – yang berusia 37 hingga 52 – memiliki stres pekerjaan yang lebih tinggi dibanding generasi lainnya, yakni 57%. Hanya 52% karyawan Baby Boomers (berusia 53 ke atas) dan 44% milenial yang merasa stres.

Namun, meskipun tingkat stres pekerjaannya rendah, generasi milenial memiliki ketidakpuasan yang cukup tinggi dibanding Gen X dan Baby Boomers.

Tidak ada perbedaan tingkat stres dan kepuasan kerja antara pria dan wanita. Sebanyak 52% pria dan wanita mengaku merasa stres di tempat kerja. Sekitar 75% wanita dan 76% laki-laki mengatakan, mereka puas dengan pekerjaannya.

Menurut survei yang dilakukan American Psychological Association’s Stress, sumber stres utama penduduk adalah mengenai masa depan negara (63%). Diikuti oleh uang (62%) dan pekerjaan (61%).

Terkait kekayaan juga dibahas dengan baik. Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Nature Human Behavior, pendapatan yang berlebihan dikaitkan dengan “berkurangnya kepuasan hidup dan kesejahteraan mental yang rendah”. Ini terjadi pada warga Amerika yang memiliki penghasilan 105 ribu dollar AS (Rp1,5 miliar) per tahunnya.

Analisis Gallup-Healthways Well-Being Index menemukan fakta bahwa “gaji besar bisa membeli kepuasan hidup, tapi tidak dengan kebahagiaan.”

Masalah kesepian juga berkaitan dengan penghasilan. “Kekayaan mengisolasi psikologis dan fisik. Secara psikologis, kekayaan -- menandakan status yang lebih tinggi – membuat kita ingin menjaga jarak dari yang lainnya,” tulis penelitian di Harvard Business Review.

“Sederhananya, kita merasa tidak membutuhkan orang lain lagi untuk bertahan hidup karena memiliki kekayaan. Tidak seperti saat kita lebih miskin,” pungkasnya.


New York Post - National Geographic

Bagikan Via WhatsApp, Twitter, Facebook

© 2018 Zamane.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *